CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 14 Oktober 2012

Melodi Angin, Nyanyian Alam yang Paling Merdu


Suara semilir angin itu telah membawa ketenangan untukku.
Ku pejamkan mata untuk merasakan desir angin ketenangan.
Suara semilir angin  telah mengingatkanku akan suasana indah di masa itu, hingga kumerasakan rindu akan masa lalu.
Walau ku tak dapat melihat bentuk angin, tapi kudapat merasakannya. Merasakan merdu suaranya, merasakan ketenangannya.
Semilir angin itu seolah membawa dan menyampaikan rinduku, semilir angin itu seolah membawa pesan untukku. Pesan yang teramat misteri. Pesan akan rindu-rindu yang tak dapat terucap.
Rindu yang tak terlihat namun hanya dapat dirasakan.
Angin adalah suara alam yang paling merdu, ia dapat memberikan kesejukan, juga ketenangan. Semilir angin telah memberikan nuansa yang berbeda untukku, nuansa kedamaian ketika aku memejamkan mata untuk mendengarkan merdu suaranya, mendengarkan bisik pesan dari misteri alam.
Melodi indah, melodi alam yang merdu. Angin yang menggerakkan daun-daun itu dapat menghasilkan suara alam yang merdu, bagai nyanyian rindu. Nyanyian angin yang membawa dan menyampaikan rindu yang taksempat terucap dan tak mampu tersampaikan.
Biarlah angin yang membawa rindu-rindu itu.
Biarlah rindu itu mengalun bersama lalunya angin.
Biarlah rindu itu seperti angin yang takterlihat namun selalu dapat dirasa.
Melodi angin, melodi kedamaian jiwa.
Melodi angin, bagai melodi rindu yang takterobati namun berlalu seirirng berjalannya waktu.
Melodi angin, nyanyian alam yang paling merdu di kala hati merasakan rindu.
Melodi angin adalah nyanyian yang mengalun syahdu yang dapat memberi kedamaian di kala hati sedang merindu dan sendu.
Biarlah angin yang kan membawa segala rindu, duka, dan kecewa di hari ini. Biarlah kesedihan itu berlalu bersama deru angin.
_Nhaya_

Cahaya Lampu yang Menjelma Bagai Bintang


Bintang malam yang tak mengenal malam yang mendung, bintang malam yang takkan pernah tertutup awan. Pemandangan indah di kala malam, melukiskan deret bintang. Ia bukan bintang di langit, ia juga bukan bagian dari benda langit. Karena bintang ini adalah bintang yang dihasilkan dari pijar lampu di kala malam.     
Menurutku pemandangan lampu-lampu yang dilihat dari kejauhan itu adalah pemandangan yang paling indah, pemandangan alam di kala malam yang terlihat bagai bintang-bintang yang bertaburan di bumi, layaknya bintang-bintang yang bertaburan di langit.  
Bahkan lebih indah ketika lampu-lampu itu dipandangi dari ketinggian, sepanjang mata memandang yang terlihat adalah hamparan bintang yang berkelipan. Lukisan alam yang indah itu mampu memberiku kenyamanan ketikaku memandanginya.
Aku suka memandangi nyalanya lampu-lampu dari kejauhan, karena aku melihatnya sebagai bintang. Ada suatu harapan yang bersinar ketika kumemandanginya, ada semangat yang dihadirkannya, ada harapan dari harapan yang hampir padam. Cahaya itu mampu menyalakan lagi harapan-harapanku yang hampir padam. Cahaya itu pun mampu menyalakan lagi cita-citaku yang hampir padam.
Cahaya lampu yang terlihat bagai gugus bintang adalah pemandangan alam yang paling indah di kala malam. Hamparan bintang yang menghiasi alam itu bukan bintang sesungguhnya, dan hanya terlihat indah dari kejauhan namun tetap menjadi lukisan indah bagiku dan menjadi cahaya harapan ketika kumemandanginya.
_Nhaya_

Selasa, 09 Oktober 2012

Hanya Sebuah Wacana


Aku terbiasa memegang apa yang dikatakan orang lain, aku anggap itu adalah sebuah janji. Namun kini aku telah sering mendengar kata-kata yang tidak terealisasi, padahal aku sudah percaya akan kata-kata yang telah terlontar tersebut. Bila aku bisa menuntut semua perkataan itu, pasti akan ku tuntut. Namun aku yang lemah takdapat berbuat apa-apa, aku takbisa marah apalagi menuntut semua perkataan yang kudengar tersebut. Jangan salahkan aku bila kelak ada kata-kata yang terlontar lagi, aku tak memercayainya. Karena aku telah merasakan sakit dari kata-kata yang keluar hanya sebatas wacana. Aku akan tetap menjadi pendengar yang baik, pendengar yang tak suka akan kata-kata yang hanya sebatas wacana. Karena aku pengingat, maka aku pun akan kecewa dengan kata-kata yang terlontar namun hanya sebatas wacana. (6 okt 2012)

Rabu, 03 Oktober 2012

Masa Jenuh (Masa Ketika Kekanak-kanakanku Datang)


Awalnya kukira terbiasa itu akan biasa, namun nyatanya kini aku lelah menghadapinya, kini kumulai merasa sakit ketika mendengarnya, mendengar kata-kata yang berintonasi tinggi (bukan kata-kata yang bernada menyombongkan diri, tapi kata-kata yang sedikit menggunakan tekanan). Inilah sisi kekanakanku.. saat hati takbisa menerima. Aku sadari dan aku mengerti takada sedikit maksud dari kata yang berintonasi tinggi itu untuk menyakiti hatiku, kusadari dan kumengerti itu tidak harus kumasukan dalam hati, namun nyatanya hatiku takbisa menyangkal ada sedikit rasa sakit yang tersisa setelah mendengarnya. Sehingga kini aku diam, diam untuk meredam masa kekanakanku yang kini sedang hadir, diam untuk belajar terus bisa memahami, untuk bisa selalu menerima dan membuatnya nyaman dan bahagia. Hanya itu. Biarkanlah hati ini sesekali merasa sakit hanya karena masalah sepele, karena itu bagian dari sifat burukku, sifat kekanakan yang hingga kini kadang-kadang hadir menemui hariku.