Kala aku harus
menentukan pilihan dan memastikan keyakinanku sebelum semuanya berakhir dengan
penyesalan. Ketika aku dihadapi dengan sesuatu hal yang belum jelas dan di sisi
lain aku harus segera menentukan pilihan. Aku hanya mampu berdoa yang terbaik
semoga apapun kelak yang akan menjadi pilihanku, semoga itu adalah petunjuk
Allah dan jawaban Allah atas doa-doaku selama ini. Bukankah kau (kepada diriku
sendiri) selalu percaya kepada Tuhanmu? Bukankah kau bilang bila kau sepenuhnya
percaya apapun itu takkan menjadi ingkar? Jadi percayalah, Allah maha melihat,
Allah maha Tahu, Allah maha menentukan yang terbaik. Jadi percayalah. Selama kau
berusaha dan berada dalam niat yang baik, pasti Allah akan memberikan jalan dan
petunjuk hingga engkau menemukan yang terbaik dan dapat menentukan yang tepat. Itu
petunjuk Allah dan itu adalah jawaban atas doa-doamu.
Jumat, 31 Mei 2013
Selasa, 28 Mei 2013
Senin, 27 Mei 2013
Minggu, 26 Mei 2013
Rabu, 15 Mei 2013
Renungan Malam
Aku merasa telah menjadi
teman yang gagal karena aku tak dapat mengingatkan akan kebaikan apalagi
mengajak kebaikan. Aku memang telah menjadi teman yang gagal karena takdapat
menyadarkan temannya ketika ia sedang khilaf, aku memang teman yang gagal yang
tak bisa mengajak teman untuk sama-sama belajar memperbaiki diri. Aku memang
teman yang gagal yang takdapat melarang temannya untuk tidak melakukan perbuatan yang menyalahi
aturan. Seolah aku hanya ingin memperbaiki diriku sendiri, padahal hati ini
selalu mengingatkan untuk mengajak sahabat-sahabat bersama memperbaiki diri.
Aku memang teman yang gagal karena ucapanku takdapat memberi solusi.
Rasanya aku begitu berdosa
diberikan Allah mata untuk melihat tapi penglihatanku takdipelihara, aku diberi
telinga namun telinga ini tidak kuperdengarkan dengan hal-hal yang baik, aku
diberi kaki ini untuk melangkah tapi tidak aku langkahkan ke tempat-tempat yang
baik, aku diberi mulut ini namun ucapan yang keluar bukanlah ucapan-ucapan yang
mulia, mulut ini tidak digunakan untuk mengingatkan akan kebaikan.
Nasyid Minggu Ini
Bangun
Cinta
Walau awalnya selalu indah
Bila bukan jodohnya siap-siap tuk terluka
Kata Pujangga bangun cinta itu tak semudah
tak secepat hati jatuh cinta
Namun bila jodohnya kita pasti bahagia
Lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta
Jatuh itu sakit Bangun itu semangat
Lebih baik bangun cinta meski tak mudah
Namun Cinta jadi punya tujuan
Jangan
Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta
Di sini pernah ada rasa simpati
Di sini pernah ada rasa menggagumi
Rasa ingin memiliki
Memasukkanmu ke dalam hati ini
Menjadi penghuni...
Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri...
Namun Ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku Tertipu...
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 2 x
Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan 2 x
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 5 x
Di sini pernah ada rasa menggagumi
Rasa ingin memiliki
Memasukkanmu ke dalam hati ini
Menjadi penghuni...
Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri...
Namun Ternyata semua hanya permainan nafsu
Untuk memburu cinta yang semu
Aku Tertipu...
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 2 x
Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan 2 x
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang ku tanam 5 x
Jumat, 10 Mei 2013
Coretan Senja
Nampaknya langit
sore ini takmenampakan warna terangnya karena ia tertutup awan mendung yang
hendak mengantarkan hujan, tapi tak apa karena aku sedang menanti hujan, aku
rindu memperhatikan turunnya hujan.
Aku rindu hujan,
hujan yang menyejukkan. Aku ingin memperhatikan gemericik air yang menari riang
berlomba untuk mencapai bumi. Yang takpeduli di mana ia akan jatuh, yang
takpeduli nantinya akan menjadi genangan atau pun akan mengikuti arus air yang
mengalir hingga menemukan hilir.
Aku rindu
menyesap bau tanah yang diantarkan hujan ketika hujan baru jatuh ke bumi. Tapi
nampaknya sore ini hujan takmau diantarkan oleh mendung, tapi mendung begitu
setia menunggu hujan untuk jatuh ke tanah. Padahal langit telah rela warna
cerahnya tertutupi awan mendung, tapi mengapa hujan belum turun? Aku menanti
hujan tanpa petir. Aku ingin memperhatikan rintikmu yang jatuh ke bumi, yang membasahi panas hingga menyejukan.
Dialog Hati dan Pikir
Suatu
ketika aku akan melakukan keburukan, ketika aku hendak lalai dalam menjalankan
kewajibanku. Ini adalah kejadian nyata di saat aku mendengar adzan Dzuhur,
lantas bukannya aku segera berwudhu dan solat, namun ketika itu aku lebih
memilih untuk terlelap dalam tidur.
Ketika lelap
yang kupilih, hati dan pikiran mulai berdialog. Hatiku berkata bukankah satu detik,
satu menit, satu jam, satu tahun, dst akan segera kau alami? Bukankah masa
pertanggungjawaban pun akan kau alami? Bukankah ketika masa pertanggungjawaban
itu datang kau dalam keadaan sendiri? Waktu itu pasti. Pasti kau alami. Cepat atau
lambatmasa itu akan kau hadapi. Sampai kapan kau mengejar dunia? Sampai kapan
hanya kebahagiaan dunia yang kau cari? Kau bahagia tapi di sisi lain kau
melupakan kewajibanmu, bukankah itu hal yang sia-sia? Bukankah itu berarti
tertawa bahagia di atas pertanggungjawaban yang akan dihadapi? Bukankah hidup
di dunia ini hanya masa persinggahan sebelum menghadapi kehidupan abadi? Mungkin
sekarang kau bisa tertawa bersama, bahagia bersama, namun harus selalu kau
ingat “kelalaianmu akan kau pertanggungjawabkan sendiri”. Tidakkah kau takut? Masihkah
kau hendak melakukan kelalaian yang sama? hidupmu di dunia bukan untuk
selamanya, kehidupanmu yang kedua kelak itu adalah kehidupanmu yang sebenarnya.
Pikiranku
tak dapat lagi mengelak, ketika itu pun aku menggigil ketakutan. Aku takut
hatiku tertutup oleh keburukan hingga takdapat lagi memberi arah. Aku takut
kelalaian akan mendominasi hidupku. Aku takut ketika membuat kelalaian, aku
akan merasakan itu hal yang biasa. Aku takut melakukan kelalaian hingga
menumpuk.
Ketika pikiranku
menyerah, aku pun segera melaksanakan kewajibanku. Dan aku pun tak memilih
lelap di siang itu. terima kasih hatiku yang telah memberikan pemahaman untuk
hidup lebih baik dan tak membiarkan kelalaian terus memanjakanku.
Langganan:
Postingan (Atom)













