CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 27 Juni 2015

Terik yang Memesona

Terik cahaya menyinari langit takberawan
Dua tiga burung terbang saling bekejaran
Pohon-pohon diterpa angin yang menggoyahkan
Sejuk takterelakan

Angin mengarak awan, memperindah lukisan alam. Gumpalan halus mulai menutupi birunya langit
Semburat cahaya matahari menerpa putihnya awan, menampakan cahaya yang berkilauan.

Terik siang ini sungguh memesona, teriknya takmenyengat. Terik yang beriring angin lembut telah menghembus kesejukan ke penjuru bumi.

Jumat, 26 Juni 2015

Ketika Tangisku Disalahartikan

Aku memang orang yang cepat sekali menangis. Tangisku datang terlebih saat perasaanku diaduk-aduk. Entah karna suasana yang begitu menyayat hati atau suasana yang terlampau membahagiakan. Namun, suatu kali tangisku disalahartikan orang. Ada yang mengira tangisku menyimpan rasa yang lain.
Ceritanya seperti ini: Suatu hari ada temanku yang sakit, saat aku melihat keadaannya yang begitu mengkhawatirkan, air mataku begitu saja keluar membasahi pipi. Seingatku bukan aku saja yang menangis, namun beberapa temanku juga menangis. Entahlah mengapa praduga itu hanya datang kepadaku.
Hingga suatu waktu, tepatnya setelah ia kembali sembuh, ia datang hendak mengutarakan rasa yang ia yakini. Seketika aku terkejut dengan kedatangannya. Namun setelah kutelisik dari teman-temanku, aku mengerti ternyata keberaniannya itu hadir karna tangisku waktu itu, tangisku yang ia kira menyimpan sebuah rasa, tangisku yang ia anggap sebagai rasa yang lain. Ya tangisku telah disalahartikan.
Sepertinya cukup bijak, bila kini aku harus lebih berhati-hati & bisa mengintrol emosiku, terlebih untuk menjaga hati agar takada hati yang tersakiti karna salah mengartikan sikapku.

Kamis, 25 Juni 2015

Membangun Pengertian Di Tengah Racun Pemikiran Lingkungan


Kuberusaha membangun pengertian keluargaku mengenai penjemputanku akan jodoh. Walaupun aku sendiri belum begitu mengusai ilmunya, tapi yang kutahu caraku ini baik dan Insya Allah, Allah meridhainya.
Kucoba bangun satu persatu pengertian keluargaku, aku coba uraikan kepada mereka apa alasanku mengambil jalan ini. Aku hanya menjelaskan kepada mereka bahwa aku hanya ingin berusaha berjalan sesuai dengan jalan yang Allah ridhai. Aku belajar untuk mengurangi aktivitas yang Allah benci (larang), dan tentunya aku pun berusaha untuk mendekatkan diri pada aktivitas-aktivitas yang Allah ridhai.
Di tengah pemikiran keluargaku yang sepertinya sudah terpengaruh dengan budaya sekitar, aku berusaha terus untuk membangun pengertian mereka mengenai permasalahan menjemput jodoh. Alhamdulillah perlahan mereka mengerti dengan keinginanku walaupun badai pengertian keliru selalu menggoyahkan.

Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku ingin menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku belajar untuk menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik.

Tanda-tanda Dia Jodoh Kita: Sekufu Urusan Iman

Tanda-tanda Dia Jodoh Kita: Sekufu Urusan Iman

Jodoh pasti bertemu, Jomblo pasti berlalu

Jodoh pasti bertemu, Jomblo pasti berlalu

Rabu, 24 Juni 2015

Dahsyatnya Berdoa di Waktu Sahur - Majalah Ummi Online

Dahsyatnya Berdoa di Waktu Sahur - Majalah Ummi Online

Inilah Awalnya Kumemutuskan Tidak Pacaran


Berawal dari pemikiran semasa SMP “indahnya bila rasa itu satu, indahnya bila rasa itu suci”. Saat itu, aku taktahu bila dalam Islam tidak ada pacaran, aku taktahu bila pacaran itu sangat dilarang, karena pacaran merupakan perbuatan mendekati zina. Ya, aku hanya mengikuti pemikiranku.

Pemikiran itu melahirkan keinginan untuk memelihara rasa hingga pada akhirnya rasa itu halal untuk disampaikan. Sebuah keinginan untuk mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta terakhir (seperti lagu saja, Kaulah cinta pertama dan terakhirku.... lalalalaa, hehehe)

Semasa SMP bisa jadi adalah masa percobaan, di mana para remaja termasuk aku (dulu) sedang mengalami masa puber dan memiliki keinginan untuk ikut-ikut dengan apa yang sedang ngetrend pada masanya. Tentu pacaran pun menjadi bahan paling ngetrend yang banyak digandrungi remaja. Banyak di antara remaja memiliki pemikiran “bila takpunya pacar ia ketinggalan zaman”. Banyak di antara mereka yang mengagung-agungkan soal pacaran, mereka bangga dengan sosok yang ada di samping mereka yang menjelma sebagai "pasangan kekasih". Mereka merasa seolah kebahagiaan selalu menyertai mereka dalam pacaran, padahal di sisi lain banyak pula remaja yang merasa terpuruk karena pacaran.

Takbisa dipungkiri bila hati ini pun beberapa kali diaduk-aduk oleh perasaan sendiri, berkali-kali hati ini disinggahi perasaan yang hendak mengelabui niatku untuk tersungkur bersama kuatnya hawa nafsu. Pun aku harus berkali-kali menahan diri agar taktersungkur. Bila perasaan itu hadir, aku cepat-cepat menepisnya agar taktersungkur lebih dalam. Aku berusaha menutup mata dari penglihatan indahnya (mungkin) menyampaikan rasa di masa remaja, aku berusaha menutup telinga dari pendengaran rayuan untuk menjerumuskanku dalam jebakan dunia pacaran.

Aku berusaha membentengi diriku sekuat tenaga. Ya, aku berusaha menguatkan tekadku walau tanpa ilmu. Seiring berjalannya waktu, aku pun mengerti mengapa Islam mengatur pergaulan di antara lawan jenis. Perlahan aku mengerti mengapa ada batasan interaksi di antara lawan jenis, “adanya sebuah larangan tentunya hadir untuk memelihara diri dari perbuatan dosa”.

Mengapa ada perintah menjaga pandangan di antara lawan jenis? Ya, karena hawa nafsu dapat bermula dari pandangan. Hingga dalam islam dikenal dengan Gadhal Bashor ‘menundukkan pandangan’ di antara lawan jenis. Subhanallah, sebuah ilmu yang menggambarkan kehormatan.

Mengapa ada larangan untuk berikhtilat (berdua-duaan)? Ya, karena Allah ingin memelihara hamba-Nya dari perbuatan zina. Zina lahir dari sebuah kesempatan, tentu kesempatan itu lebih terbuka ketika dua insan (pria & wanita) berduaan dalam sepi.

Mengapa kita dianjurkan menjemput jodoh dengan terus memperbaiki diri tanpa harus mengumbar rasa? Ya, karena Allah telah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk kita, dan tentunya dia yang baik harus disandingkan dengan yang baik. Untuk itu cara terbaik untuk menjemput jodoh adalah dengan memantaskan diri (terus memperbaiki diri). Saat waktunya nanti, dengan cara yang baik dan dalam waktu yang baik Allah akan mengirimkan dia yang tepat dan baik untuk kita.

Seiring berjalannya waktu perlahan pemahaman itu semakin menguatkan niatku untuk memelihara rasa, hingga rasa bertaut dengan kehalalan cinta yang hakiki. Bila nanti aku khilaf dan tidak memegang ucapanku, tolong tegur aku ya Allah, tegur aku dengan cara indah-Mu.

Ya, pemikiranku yang tanpa ilmu itu telah kurasakan kebaikannya saat ini. Saat-saat menahan nafsu untuk tergoda pacaran, kini menjadi pelajaran berharga bagaimana aku harus mengontrol keinginan dari dalam diriku. Saat-saat aku belajar membatasi pergaulan antarlawan jenis, kini pengalaman itu menjadi salah satu caraku menghormati diri.

Salah satu resep untuk dapat mengontrol diri dari keinginan memiliki seorang kekasih yang takhalal adalah selalu berpegang teguh pada firman Allah:

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)." (Q.S. An Nur: 27)

Jadi apa yang harus diragukan lagi? Bukankah itu janji Allah? Jangan khawatir! Allah takpernah menyalahi janji, Allah takpernah ingkar janji.

Pegang teguh firman Allah tersebut, jadikan ia pegangan & pedoman untuk menjemput jodoh. Hidup adalah pilihan, pun dalam memilih pasangan. Jadi kalo mau pilih yang baik, mulailah untuk memperbaiki diri sendiri, maka yang baik pun akan datang menghampiri. Sebaliknya, bila kau pilih yang buruk, ya kau tahu sendiri jawabannya!hehe :D

Jumat, 12 Juni 2015

Hujan Malam



Terdengar derap hujan yang semakin gaduh di luar sana, pendar cahaya lampu menampakkan rintik yang berkejaran membasahi tanah.

Rinai lembutnya sejuk terasa saat menerpa, angin berhembus lembut menggoyah pohon-pohon yang telah letih dengan terik siang tadi.

Hujan malam tengah menyelimuti letihnya jiwa, menghangatkan raga yang tengah melepas lelah. Derasnya hujan telah merangkul lelap, menelusuri buaian mimpi.

Terlelaplah bersama derasnya hujan yang hangat menyelimuti, masukilah mimpi indahmu wahai jiwa yang sedang terlelap dalam lelah.

Kamis, 11 Juni 2015

Tertatih dalam Angan


Angan selalu menawarkan kebahagiaan, melambai lembut memanggil polah, mengelabui nafsu hingga terperdaya.

Berjalan menelusuri riak ilusi tiada pasti, berlari mengejar angan semu, tertatih melawan nyata, terburu-buru jadi jalan pintas.

Semu terasa karna belumlah nyata, angan memberondong bahagia nan menggoda, batas antara bahagia dan terperdaya tiada kentara.

Angan mengelabui pikir, mengumbar harap, membangun khayal, hingga menyiksa hati.

Lelah, kini aku tertatih dalam angan.


_Nhaya Lianna_