CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 13 Desember 2014

Kamis, 11 Desember 2014

Mau eksis di dunia atau di akhirat?

Perlukah semua orang tahu tahu apa yang telah atau akan kita kerjakan?
Perlukah setiap detail kebaikan yang telah diperbuat ini membumi ( diketahui orang lain)?
Bukankah bila semua itu terlihat akan mendatangkan ketakaburan?
Apakah kau hanya ingin membumikan kebaikan saja?
Tidakkah terlintas dalam pikiran, bila melangitkan kebaikan itu lebih indah?

Tidak elok rasanya bila kita selalu mengelu-elukan kebaikan diri di depan orang banyak. Pedulikah semua orang akan kebaikan yang kita perbuat? Bukankah biasanya segala kebaikan yang diperbuat manusia akan hilang karena satu keburukan? Ya, kebanyakan manusia hanya mempermasalahkan keburukan yang satu tanpa mempedulikan kebaikan yang banyak.
Bisa jadi eksis di dunia hanya akan membuat orang lain tahu aktivitas yang kita kerjakan tanpa disertai rasa peduli. Coba bayangkan bila kita eksis di akhirat, penduduk langit tidak hanya tahu aktivitas kita, tetapi juga rindu aktivitas kita. Penduduk langit peduli dengan aktivitas kita dan rindu menyaksikan kita selalu beraktivitas dalam kebaikan. Aktivitas yang penuh kesadaran, sadar bahwa aktivitas itu adalah bagian dari ibadah kepada Allah. Bahkan ketika eksis di akhirat, eksis di dunia pun akan didapat. Kebaikan yang dirahasiakan itu dengan sendirinya akan terpancar dan sampailah pada pengetahuan orang. Sedangkan bila kita hanya memikirkan eksis di dunia, belum tentu kita bisa eksis di akhirat, karena semua dilandasi dengan keinginan akan hujan pujian dari orang sekitar, semua dilakukan bukan atas dasar ibadah dan ikhlas karena Allah.
Siapa yang ingin eksis di akhirat dibanding eksis di dunia? Kehidupan di dunia ini tidak akan kekal, karena kehidupan yang kekal itu hanya di akhirat. So, siapa yang akan terus menerus disibukan dengan keeksisan di dunia? Siapa yang tidak menginginkan eksis yang kekal di akhirat? Untuk meraih keeksisan di akhirat, sudah tentu kuncinya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, jadikan penduduk langit rindu akan perbuatan baik kita, jadikan penduduk langit selalu menanti-nanti kebaikan yang kita perbuat. Jadikan kebaikan itu tdak hanya mendunia melainkan melangit, hingga kebaikan itu kekal sampai di surga.


Nikmat Vs Ujian


Selidik punya selidik, bisa jadi ketika sebuah ujian datang, itu adalah cara Allah memanggil kita agar lebih dekat. Nah, siapa yang takingin lebih dekat dengan Allah? Semua pasti ingin bukan?
Bila seseorang yang sedang menghadapi sebuah ujian berpikir bahwa ia sedang diperhatikan Allah, mungkin semua orang ingin berlama-lama dengan ujiannya. Kita sedang diperhatikan Allah dengan sebuah ujian agar ketakwaan kita kepada Allah naik tingkat dan tentunya kasih Allah pun akan meningkat.   
Ingat! Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemsmpuan hamba-Nya. Jadi jangan risau, Allah telah mempercayakan suatu ujian yang mampu kita selesaikan.
Jangan sampai kita silau dengan kenikmatan, hingga kenikmatan itu berubah menjadi sebuah ujian. Jangan sampai kita terpuruk akan ujian berat yang ada di depan mata, padahal ujian itu adalah kenikmatan yang perlu disyukuri. Indahnya bila kedua hal itu kita hadapi dengan penuh rasa syukur. Kita mensyukuri atas nikmat yang Allah beri, dan kita bersyukur atas ujian yang Allah percayakan kepada kita.

Rabu, 10 Desember 2014

Sakit Hati yang Tak Bertuan



Terkadang hati ini merasakan sakit seketika, sang hati taktahu siapa dan karena apa ia merasakan sakit. Si empunya hati pun kebingungan karena ulah si hati, karena si hati sakit entah karena apa, sakitnya takbertuan. Memang takada seorang pun yang membuatnya sakit.
Sakitnya itu menyesakkan, seolah ada yang menyakiti, seolah ada yang menghujamnya dengan perbuatan keji, seolah ada kata-kata yang tergelincir merasuki sang hati. Ia terluka, sungguh ia merasa terluka dalam, namun entah apa penyebabnya.
Semakin direnungi penyebabnya, semakin dalam pula sakit yang dirasakan sang hati. Sang hati merasa tersayat hingga pedih menghujamnya. Adakah suatu perbuatan yang membuatnya sakit? Adakah perkataan yang membuatnya sesak? Siapakah tuan yang tega membuat sang hati sakit?
Sakit hati yang takbertuan ini mengelabui seluruh tubuh hingga enggan berbuat apa pun. Mengunci mulut hingga terus membungkam, mengunci bibir hingga taktersenyum, meracuni pikir hingga merasakan penat. Ia hanya butuh sendiri, ia hanya butuh introspeksi diri, ia hanya butuh memperbaiki sang hati agar takbernoda, agar takterluka, agar takberburuk sangka.

Senin, 08 Desember 2014


Merindu Dirimu yang Pulang Lebih Dulu



Sebelumnya takpernah terbesit jika hati ini bisa merindukan dirimu yang belum sempat kulihat. Takada kenangan yang tersimpan dalam ingatan, takada kebersamaan yang bisa kukenang saat merindu dirimu. Tapi ada satu hal yang mungkin bisa menjadi kenangan, “kita terlahir bersama”. Ya iyulah satu-satunya kenangan yang kusimpan baik-baik. Walaupun aku sendiri takingat akan hal itu.
Aku mencoba mengumpulkan kenangan kita bersama. Kita terlahir bersama, terlahir dalam keadaan yang sama, kita memiliki rupa yang sama. Itukah kenangan terindah kita?
Saat hati ini merindumu, apa yang bisa kulakukan tanpa kenangan? Takada foto yang bisa kupandangi, takada kejadian yang bisa kuingat. Bisakah suatu hari nanti kita bertemu? Akankah aku bisa bertemu denganmu dan berhadapan denganmu bagaikan cermin?
Walaupun kita belum pernah bersua, tapi hati ini merasa begitu sangat dekat. Terkadang aku merasa bingung sendiri dibuatnya ketika hati ini tiba-tiba merasakan rindu, tiba-tiba saja rindu yang dalam hadir. Rindu itu tidak serta merta hadir sekejap, rindu itu hadir begitu mendalam. Apakah aku harus memandangi cermin ketika aku merindukanmu? Walaupun fisik kita sebagian besar sama, tapi kuyakin ada perbedaan di antara kita.
Mungkin bila kau taklebih dulu kembali, kita bisa menjadi saudara kembar yang kompak, Kita bisa saling mengisi dalam kekurangan dan mendukung dalam meraih mimpi bersama. Kita bisa membangun dan mengejar mimpi bersama. Hmmm... itu hanyalah sebuah pengandaian. Namun aku tidak kecewa dengan kepergianmu, karena kuyakin dan kupercaya kepergianmu yang cepat itu adalah yang terbaik. Kepergianmu adalah sebuah kebaikan, Allah sayang kepadamu sehingga Allah memanggilmu lebih dulu. Allah menghendaki kau lebih dahulu kembali kesisi-Nya, karena itulah bentuk kasih sayang Allah kepadamu.
Mungkin saat kita terlahir dulu, kita sudah berkomunikasi lewat tangisan, mungkin itulah cara kita bertegur sapa saat kita bahagia telah terlahir ke dunia ini bersama. 

Merindu dirimu yang pulang lebih dulu.
Merindu dirimu yang belum sempat kulihat.