Sabtu, 13 Desember 2014
Kamis, 11 Desember 2014
Mau eksis di dunia atau di akhirat?
Nikmat Vs Ujian
Rabu, 10 Desember 2014
Sakit Hati yang Tak Bertuan
Terkadang hati ini
merasakan sakit seketika, sang hati taktahu siapa dan karena apa ia merasakan
sakit. Si empunya hati pun kebingungan karena ulah si hati, karena si hati
sakit entah karena apa, sakitnya takbertuan. Memang takada seorang pun yang
membuatnya sakit.
Sakitnya itu menyesakkan,
seolah ada yang menyakiti, seolah ada yang menghujamnya dengan perbuatan keji,
seolah ada kata-kata yang tergelincir merasuki sang hati. Ia terluka, sungguh
ia merasa terluka dalam, namun entah apa penyebabnya.
Semakin direnungi
penyebabnya, semakin dalam pula sakit yang dirasakan sang hati. Sang hati
merasa tersayat hingga pedih menghujamnya. Adakah suatu perbuatan yang
membuatnya sakit? Adakah perkataan yang membuatnya sesak? Siapakah tuan yang
tega membuat sang hati sakit?
Sakit hati yang takbertuan
ini mengelabui seluruh tubuh hingga enggan berbuat apa pun. Mengunci mulut hingga
terus membungkam, mengunci bibir hingga taktersenyum, meracuni pikir hingga
merasakan penat. Ia hanya butuh sendiri, ia hanya butuh introspeksi diri, ia
hanya butuh memperbaiki sang hati agar takbernoda, agar takterluka, agar
takberburuk sangka.
Senin, 08 Desember 2014
Merindu Dirimu yang Pulang Lebih Dulu
Sebelumnya takpernah terbesit
jika hati ini bisa merindukan dirimu yang belum sempat kulihat. Takada kenangan
yang tersimpan dalam ingatan, takada kebersamaan yang bisa kukenang saat
merindu dirimu. Tapi ada satu hal yang mungkin bisa menjadi kenangan, “kita
terlahir bersama”. Ya iyulah satu-satunya kenangan yang kusimpan baik-baik. Walaupun
aku sendiri takingat akan hal itu.
Aku mencoba mengumpulkan
kenangan kita bersama. Kita terlahir bersama, terlahir dalam keadaan yang sama,
kita memiliki rupa yang sama. Itukah kenangan terindah kita?
Saat hati ini merindumu, apa
yang bisa kulakukan tanpa kenangan? Takada foto yang bisa kupandangi, takada
kejadian yang bisa kuingat. Bisakah suatu hari nanti kita bertemu? Akankah aku
bisa bertemu denganmu dan berhadapan denganmu bagaikan cermin?
Walaupun kita belum pernah
bersua, tapi hati ini merasa begitu sangat dekat. Terkadang aku merasa bingung
sendiri dibuatnya ketika hati ini tiba-tiba merasakan rindu, tiba-tiba saja
rindu yang dalam hadir. Rindu itu tidak serta merta hadir sekejap, rindu itu
hadir begitu mendalam. Apakah aku harus memandangi cermin ketika aku
merindukanmu? Walaupun fisik kita sebagian besar sama, tapi kuyakin ada
perbedaan di antara kita.
Mungkin bila kau taklebih dulu
kembali, kita bisa menjadi saudara kembar yang kompak, Kita bisa saling mengisi
dalam kekurangan dan mendukung dalam meraih mimpi bersama. Kita bisa membangun
dan mengejar mimpi bersama. Hmmm... itu hanyalah sebuah pengandaian. Namun aku
tidak kecewa dengan kepergianmu, karena kuyakin dan kupercaya kepergianmu yang
cepat itu adalah yang terbaik. Kepergianmu adalah sebuah kebaikan, Allah sayang
kepadamu sehingga Allah memanggilmu lebih dulu. Allah menghendaki kau lebih
dahulu kembali kesisi-Nya, karena itulah bentuk kasih sayang Allah kepadamu.
Mungkin saat kita terlahir
dulu, kita sudah berkomunikasi lewat tangisan, mungkin itulah cara kita
bertegur sapa saat kita bahagia telah terlahir ke dunia ini bersama.
Merindu dirimu yang pulang
lebih dulu.
Merindu dirimu yang belum
sempat kulihat.
Langganan:
Postingan (Atom)





.jpg)
