CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 28 April 2013

Saat Aku Berpikir “Diam akan Selalu Menjadi Teman Terbaik”

Aku selalu merasa diam adalah teman terbaikku, karena diam menenangkanku, karena diamlah yang dapat meredam emosiku. Dalam diam ada dialog hati untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Saat aku bersedih, diamlah yang selalu setia menemaniku. Diamlah yang selalu setia menemani kesendirianku, membiarkan hati dan pikiran terus berdialog.
Karena diam aku lebih sering meluangkan waktu untuk merenung. Diamku takkan membiarkan langkahku kehilangan arah. Diamku takkan membiarkan emosi yang berkuasa dalam jiwa. Diamku takkan membiarkan hati ini terus dikotori oleh luka-luka yang membekas terlalu lama. Diamku selalu memberi arahan dan semangat untuk senantiasa bangkit kembali dari keterpurukan.
Aku sadari, diamku takselamanya akan menjadi teman terbaik. Diamku takselamanya selalu meberi jalan. Diamku takselamanya memberikan ketenangan. Ada kalanya aku terpuruk karena diam, menjadi orang bodoh hanya karena diam. Bukankah selalu diam saat menyaksikan suatu keburukan itu adalah hal yang begitu keliru? Bukankah diam di saat harus memberi penjelasan itu juga hal yang begitu keliru?
Saat hati ini memutuskan untuk diam, mulut pun dipaksa untuk membungkam. Mulut pun seakan terkunci untuk berucap. Seringkali karena ulah diamku itu, aku menjadi terpuruk. Membuat permasalahan baru yang selalu membawa penyesalan.
Akankah aku membiarkan diam tetap menjadi teman terbaikku? Membiarkannya untuk tetap menjadi persinggahan terakhir di saat pikiran taklagi memberi arah, di saat hati tak lagi menunjukan jalan.
Jangan biarkan diammu merusak hidupmu. Jangan biarkan diammu menghancurkan harapanmu. Jangan biarkan diammu menguasai di saat kata harus terucap. Jangan biarkan diam lantas membuatmu mendapatkan perlakuan yang taksemestinya dari orang lain, jangan biarkan diammu menjadikanmu orang yang takberdaya menghadapi perlakuan buruk orang lain. Jadikan diammu teman terbaikmu bila ia tak menyesatkanmu.

Kisah Memilukan di Malam 24 April 2013


Sepertinya menjauh di saat dikuasai amarah dan emosi itu adalah yang terbaik, meredam emosi dalam kesendirian semoga selalu menjadi jalan terbaik. Emosi memang kerap kali menutup pintu batinku, membiarkan amarah tetap menyala. Sepertinya menjauh adalah keputusan yang terbaik kala itu. menjauhku bukan takberalasan, karena menjauhku ini untuk memadamkan amarah yang kian memuncak. 
Di kala hati merasakan ketidakadilan yang terjadi, semoga rasa itu salah. Bukankah suatu kebaikan yang telah dilakukan tidak akan membuahkan kesia-siaan walaupun saat ini balasan yang didapat takseimbang?
Biarkanlah hati ini merasakan sakit, bukankah hidup takselamanya akan berjalan bahagia? Bukankah adakalanya kita merasakan kecewa? Bukankan rasa kecewa itu adalah bentuk ujian untukmu agar lebih bersabar?
Bila engkau merasakan kecewa oleh manusia bukankah itu adalah hal yang wajar, yang tak semestinya kau tangisi? Karena engkau telah membiarkan dirimu berharap kebaikan dari manusia, “berharap kepada manusia memang rentan kecewa, maka selalu berharaplah kepada Allah yang pasti takakan mengecewakanmu”.
Jenuh mungkin itu yang kurasakan saat itu, jenuh menghadapi perlakuan yang sebelumnya pernah terjadi. Aku bukan manusia yang selalu bisa meredam amarah. Aku hanya manusia biasa yang sering merasakan sakit hati bila mendapat perlakuan yang tidak baik. Aku bukan manusia yang selalu tegar bila menghadapi kesulitan. Aku hanya manusia lemah, aku hanya manusia yang rentan merasakan sakit hati, aku manusia yang memiliki batas kesabaran. Aku manusia yang berusaha mengerti, namun pengertianku pun memiliki batas dan pengertianku pun kadang kala meminta balasan untuk dimengerti.
Bila rasa sabar itu menjauh untuk menghadapi “seseorang yang mendekat karena berduka dan menjauh di kala bahagia” bukankah itu adalah hal yang wajar? Aku memiliki rasa yang rentan rapuh hanya karena masalah sepele, maka wajarkah aku bila merasakan kecewa karena hal itu?
Sakit hati mungkin yang kurasakan saat itu. Sepertinya saat itu batinku telah tertutup amarah hingga sabar takmampu lagi meredamnya.
Kupastikan amarahku saat itu hanya sekejap, kupastika setelah aku mengungkapkan kekecewaanku amarahku akan padam, kupastikan aku bukan orang yang pendendam. Kupastikan rasa kecewa itu akan kuhapus, namun maaf bila aku takdapat melupakan kejadian itu, karena aku pengingat, mengingat kejedian untuk menghindari kekecewaan yang sama.

Minggu, 14 April 2013

Karena Aku Peduli


Kita sudah sama-sama dewasa. Sudah semestinya kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Maaf bila ku tak lagi mengingatkanmu, karena telah banyak kecewa ketika “peringatan itu keluar hanya sebatas wacana”. Takada realisasi yang nyata terkadang membuatku kecewa dan sakit hati. Buat apa peringatan itu keluar dari mulutku lagi, bila kau hanya menganggap peringatan itu hanya bualan kosong.
Ya, aku takmerasakannya, aku taktahu persis apa yang terjadi, aku tak berhak mencampuri urusanmu karena engkau yang mengalaminya. Aku hanya pemerhati yang taktahu persis jalan mana yang benar. Aku hanya teman yang peduli, teman yang takut bila kau tersakiti lagi oleh ulahnya, teman yang takingin melihat ada tetesan air mata yang keluar hanya untuk menangisi hal yang serupa seperti sebelumnya.
Aku tak punya hak sedikit pun untuk mencampuri kehidupanmu apalagi mengatur masalah perasaanmu. Aku hanya peduli. Aku hanya tak ingin melihatmu menangis karenanya.
Ku sadari kini bahasamu terbatas mengenai dia, padahal diam-diam aku membaca dari gerak-gerikmu masih ada rasa yang takberkurang sedikit pun, mungkin suatu waktu kau merasa perasaan itu sedikit menghilang dan mulai biasa saja, tapi percayalah hati takbisa berbohong, gerak-gerikmu pun tak dapat berbohong. Di balik pengakuanmu, aku menangkap rasa yang begitu besar, rasa yang takmungkin hilang begitu saja, rasa yang sudah begitu memenuhi hatimu.  
Mungkin dulu sudah terlalu jauh akau mencampuri urusan hatimu, melarang seenaknya untuk menghentikan rasa yang kau tanam. Memang itu kebodohanku, seharusnya aku takmelakukan hal itu.
Aku mengingatkanmu, karena aku peduli.
Aku memperhatikanmu, karena aku peduli.

Sabtu, 13 April 2013

Jangan Tulari Aku dengan Skala Waktumu

Aku selalu berusaha untuk menghargai waktu dan berusaha tepat waktu. Aku takingin membuat orang lain terlalu lama menunggu, menunggu hanya karena keterlambatanku. Karena aku sadari menunggu terlalu lama itu menjemukan.
Aku selalu berusaha menanamkan dalam diriku, menghargai waktu berarti menghargai diri sendiri. Karena dengan menghargai waktu berarti tidak membiarkan diri menjadi orang yang lalai, menjauhkan diri dari perbuatan malas dan menghindari perbuatan yang sering menunda-nunda apa yang seharusnya dikerjakan di awal waktu. Menghargai waktu berarti membiarkan diri untuk senantiasa disiplin. Menghargai waktu berarti menghargai setiap kesempatan yang dihadapi. Menghargai waktu berarti tidak membiarkan diri untuk terlena akan kesia-siaan.
Menunggu terlalu lama selalu menjemukanku, aku takpercaya lagi dengan skala waktu yang taktepat. Ada sesuatu yang dihindari dari keterlambatan, yaitu kepastian akan diri yang dapat menjalankan tepat pada waktunya.

Bukan berarti kini aku selalu tepat waktu, tapi aku selalu berusaha untuk senantiasa tepat waktu dan menghargai waktu. Aku sadari kini aku pun sering mengalami keterlambatan, namun semua ini ada alasannya (bukan sebuah pembelaan diri ya) karena terlalu sering aku menunggu dengan skala waktu yang dijanjikan seseorang, maka terlalu sering pula aku kecewa karena skala waktu yang taktepat itu. maka suatu waktu pernah terbesit dalam hatiku untuk tidak lagi memercayai skala waktu orang lain dan mencoba untuk terlambat. Namun sepertinya itu adalah keputusan yang keliru. Bukankah membiasakan diri untuk senantiasa disiplin itu tidak ada salahnya? Tidak merugikan bukan?
Biarlah menunggu jadi bagian pengukur kesabaranku.
Biarlah menunggu jadi bagian setia yang akan membawa manfaat di masa datang karena selalu berusaha  menghargai waktu.
Biarlah menunggu menjadi bagian yang tidak sia-sia untuk hidupku.
Yakinlah, bila skala waktu ini tetap terjaga, menunggu takakan lagi menjemukan, menunggu takakan mendatangkan kesia-siaan. Jangan biarkan skala waktuku tertulari dengan hitungan waktu yang tak mempunyai lagi ukuran.
Belajar untuk senantiasa menghargai waktu dan tepat waktu pasti akan mendatangkan manfaat di setiap waktu. Percayalah :)

Nhaya_Skala Waktu