Aku selalu merasa diam adalah
teman terbaikku, karena diam menenangkanku, karena diamlah yang dapat meredam
emosiku. Dalam diam ada dialog hati untuk menentukan mana yang benar dan mana
yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Saat aku bersedih, diamlah yang
selalu setia menemaniku. Diamlah yang selalu setia menemani kesendirianku,
membiarkan hati dan pikiran terus berdialog.
Karena diam aku lebih sering
meluangkan waktu untuk merenung. Diamku takkan membiarkan langkahku kehilangan
arah. Diamku takkan membiarkan emosi yang berkuasa dalam jiwa. Diamku takkan
membiarkan hati ini terus dikotori oleh luka-luka yang membekas terlalu lama.
Diamku selalu memberi arahan dan semangat untuk senantiasa bangkit kembali dari
keterpurukan.
Aku sadari, diamku takselamanya
akan menjadi teman terbaik. Diamku takselamanya selalu meberi jalan. Diamku
takselamanya memberikan ketenangan. Ada kalanya aku terpuruk karena diam,
menjadi orang bodoh hanya karena diam. Bukankah selalu diam saat menyaksikan
suatu keburukan itu adalah hal yang begitu keliru? Bukankah diam di saat harus
memberi penjelasan itu juga hal yang begitu keliru?
Saat hati ini memutuskan untuk
diam, mulut pun dipaksa untuk membungkam. Mulut pun seakan terkunci untuk
berucap. Seringkali karena ulah diamku itu, aku menjadi terpuruk. Membuat
permasalahan baru yang selalu membawa penyesalan.
Akankah aku membiarkan diam
tetap menjadi teman terbaikku? Membiarkannya untuk tetap menjadi persinggahan
terakhir di saat pikiran taklagi memberi arah, di saat hati tak lagi menunjukan
jalan.
Jangan biarkan diammu merusak
hidupmu. Jangan biarkan diammu menghancurkan harapanmu. Jangan biarkan diammu
menguasai di saat kata harus terucap. Jangan biarkan diam lantas membuatmu mendapatkan
perlakuan yang taksemestinya dari orang lain, jangan biarkan diammu
menjadikanmu orang yang takberdaya menghadapi perlakuan buruk orang lain.
Jadikan diammu teman terbaikmu bila ia tak menyesatkanmu.



