CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 23 Maret 2013

Temaram Rindu dalam Naungan Hijab (24-01-2012)


 
“Aku hari ini, aku yang masih dengan keburukanku, aku yang belum mengenal kebenaran sesungguhnya. Aku... aku terbias dalam sendu rindu menatap kedamaian dihadapanku.”
Hilya  yakin dengan penampilannya kini, akan membawanya pada titik kebahagiaan di hari ini. Namun semua itu ternyata keliru.
Hilya dengan kedua sahabatnya di SMA, kini berencana untuk bertemu melepas kerinduan yang telah lama mereka pendam. Dan Hilya pun kini berharap pertemuannya akan mengobati rindunya yang kian membatu dalam jiwa.
Terenyuh... ya itulah yang Hilya rasakan saat pertama ia bertemu dengan Dena, bukan karena ia terlalu senang bertemu dengan sahabatnya itu, dan bukan pula karena ia merasa canggung saat bertemu dengan sahabatnya tersebut, namun semua ini karena ia begitu malu dengan dirinya sendiri begitu juga dia malu dengan sahabatnya, semua itu karena penampilannya yang begitu jauh berbeda dengan sahabatnya tersebut. Ya kini ia rasanya menjadi anak yang begitu jauh berbeda diantara kumpulan orang-orang baik, ia merasa tak pantas lagi berkumpul dengan sahabat-sahabatnya ketika di SMA. Padahal mereka menerima Hilya apa adanya, takpernah memandang buruk penampilannya saat ini. Tapi, Hilya teramat malu dengan penampilannya kini.
Semangat lama yang ia bangun bersama sahabat-sahabanya tersebut, kini terasa luntur, entah karena apa, entah apa yang kini ia kejar, ia sendiri tak mengetahuinya. Berada di antara orang-orang soleh membuat ia merasa nyaman namun ia merasa begitu  sangat terasing bagai hanya ialah yang taktahu arah hidup sebenarnya. Kini ia masih terpenjara dengan pikirannya sendiri, ia terjebak dengan  keputusannya sendiri.
Baru kali ini ia merasa paling buruk diantara yang lain karena sudah dua kali ia disapa dengan sapaan yang begitu tidak mengenakkan, mungkin karena busananya saat ini, walaupun ia memakai kerudung tapi  ia masih memperlihatkan aurat yang seharusnya ia tutupi, dan ia masih memperlihatkan lekuk tubuh yang seharusnya ia tutupi.
Malu, mungkin itulah yang membuatnya begitu muram hari ini, ia merasa senang namun rasa malunya tidak jauh berbeda dengan kebahagiaannya. Merasa terasing dengan keadaannya saat ini, ia merasa sungguh merasa terjebak dengan keadaan saat ini semua itu karena busananya.
Hilya senang dengan perlakuan sahabat-sahabatnya yang tidak berubah, tapi Hilya tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa saat ini ia sedang merasakan konflik batin yang teramat memukulnya, kini ia menemukan titik yang begitu pasti ia yakini kebenarannya tapi di sisi lain ia pun takut tidak mendapatkan tempat dan tidak begitu diterima oleh lingkungan barunya.
Ternyata yang ia yakini selama ini, yang ia yakini dapat membuat ia bahagia dan nyaman. Ternyata semua itu keliru semua itu jauh dibandingkan dengan kenyamana yang dulu ia dapatkan. Kini ia mempunyai sahabat-sahabat yang sangat menghargai keberadaannya dan sayang kepadanya sama seperti saat ia sekolah dulu. Tapi ternyata itu semua tidak cukup.
Dena masih dengan sifatnya dulu yang periang namun kini ia sedikit berbeda ia lebih baik, baik dari cara berpakaiannya maupun dari cara berpikirnya, kini ia lebih mengenal islam dengan begitu dalam, sama halnya dengan Rulz yang masih dengan sifat pendiamnya yang baik dan mendalami islam dengan begitu semangat, sungguh berbeda dengan Hilya saat ini.
Canggung, mungkin itulah yang ia rasakan saat ini. ia malu, sungguh malu dengan dirinya sendiri.
24-01-2012
Rindu yang tak sempat terucap
Kini mengalun sendu menutupi kecanggunganku
Rindu yang tak sempat terucap
Kini perlahan mengendap jauh dalam relung jiwa

Rindu yang tak sempat terucap
Mungkin terlihat begitu meragukan
Rindu ini mungkin tak terlihat
Rindu ini mungkin tak sampai
Bagai teriris...
Mengalunkan rindu yang taksempat terucap

Untuk sahabatku...
Aku tak pandai merangkai kata
yang dapat meyakinkanmu mengenai rinduku..
aku yang tak pandai menyampaikan isi hati
menyimpan begitu rindu yang teramat dalam
aku merindumu sahabat
aku rindu kedamaian yang kau berikan  
Tak dapat kulukiskan kerinduanku yang teramat mendalam
Hanya dalam bisu kuungkapkan semua itu
Hanya dengan kecanggunganku
Hanya dengan senyum getir semua itu kuungkapkan dengan segala perihku...
Hanya dengan wajah tertunduk malu, entah sampai kapan dapat tersampaikan...
Aku merindukan kalian...
Aku merindunya...
Rindu yang entah sampai kapan dapat terobati,
Rindu, aku rindu saat-saat menangis bersama
Aku rindu dengan pelukan yang dapat menenagkan hatiku

Jumat, 22 Maret 2013

Kesimpulan Nol Besar


Semua rasa, semua daya, semua tanggapan ternyata berakhir dengan kesimpulan nol besar. Ya kesimpulan itu benar adanya setelah semua kenyataan yang ada di depan mata terpampang dengan jelas. Aku salah menangkap semua sinyal yang kudapat. Aku mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan itu semua, hingga kecewa pun takdapat dipungkiri lagi, aku salah.
            Ketika kebahagiaan itu kurasa mulai datang ternyata itu semua hanya kebahagiaan semu, hanya kebahagiaan sementara, hanya kebahagiaan yang berlabuh pada harapan semu, harapan yang hanya akan terbias pada mimpi-mimpi yang takakan pernah terwujud.
            Waktukah yang salah? Sepertinya menyalahkan waktu tak pantas karena semua ini memang kesalahanku yang terlalu memendam semua perasaan ini. Tapi... ku kira semua salah, kesimpulan yang sempurna. Ini belum waktunya aku merasakan bahagia dan nyaman dengan adanya seorang pria yang berusaha masuk dalam kehidupanku, seorang pria yang berusaha masuk dalam kehidupan hatiku. Aku bersyukur mendapat kesimpulan nol besar ini, karena dengan ini aku tidak salah melangkah, aku masih dapat memegang kendali kehidupan cintaku, aku masih bisa memegang erat prinsipku selama ini.
            Mungkin kesimpulan nol besar ini berujung pada suatu titik kebahagiaan yang maha pasti karena aku tidak terjebak dengan gelapnya kehidupan cinta, walaupun tak dapat dipungkiri kesimpulan nol besar ini membuat hatiku begitu pedih, membuatku sedih, namun aku yakin kesimpulan nol besar ini akan membawaku pada kebahagiaan yakni kesimpulan yang hakiki.

(Nhaya_catatan lama)

Ketika Mengenal Cinta


Pernahkah anda merasa tambah sayang atau suka dengan seseorang padahal dia begitu sering menyakiti kita??
Pernahkah anda merasa begitu kecewa dengan orang yang kita sukai, namun kita begitu mudah luluh bila ia menyapa halus kepada kita?
Pernahkah kita berpikir hendak melupakannya tapi hati berkata lain???
Mungkin itu semua adalah cinta yang murni kemurnian cinta yang hendak dipertanyakan orang ketika cinta itu tak dapat tersampaikan. Mungkin memendam perasaan itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan bila perasaan itu terus diumbar akan menimbulkan pahit yang teramat pilu yang dapat membuat kita tak mampu dan menginginkan datangnya cinta lagi..
Semua orang pasti pernah merasakan rasanya mencintai dan dicintai namun alangkah indahnya bila kita dicintai oleh orang yang kita cintai. Namun kebanyakan kenyataan itu berkata lain. Kebanyakan dari cinta, orang menyukai seseorang namun cintanya takterbalas. Hal tersebut bukan karena kesalahan kita namun kesalahannya terletak pada kita yang menjatuhkan perasaan itu taktepat.

Sebenarnya selama ini aku menghargai cinta, namun mungkin setiap orang mengartikan cintaku begitu salah. Sehingga mereka memandang buruk terhadap cintaku. Aku menghargai cinta sama halnya aku menghargai orang-orang yang mencintaiku. Mungkin mereka takmerasakan balasan cinta dariku tapi sebenarnya aku sungguh menghargai itu semua dan aku begitu menghargai mereka, menghargai cintanya, menghargai usahanya. Aku takmenginginkan cinta yang sesaat aku menginginkan cinta yang abadi. Bila kau tak pernah mengenal lelah mencintaiku, kaulah yang ku cari, karena kau mampu menciptakan cinta abadi dalam hidupku, yang takkan pernah mengenal gugur dalam musim gugur dan yang tak pernah mengenal layu walau sudah waktunya layu...
Aku menunggu cinta...
Apakah cinta itu untuk ditunggu???
Ataukah harus kukejar cinta itu???

(Nhaya_Tentang Cinta)

Selasa, 19 Maret 2013

Semua Hanya Ilusi


Terkadang kenyataan akan membawa kita kepada ilusi yang mustahil akan menjadi kenyataan, terkadang harapan yang berwujud menjadi ilusi itu tak selamanya berakhir sempurna, tidak selamanya berakhir sesuai keinginan kita. Ketika kesadaran mulai muncul dari rimba yang terkukung jauh di bawah sadar, semua ilusi itu hanya semu, hanya harapan belaka yang menciptakan kebahagiaan semu, kebahagiaan yang datang dari maya dan berwujud dalam nyata yakni, perih.
            Ilusi-ilusi itu mampu menghadirkan kekuatan hati yang tangguh namun kekuatan itupun lagi-lagi hanya semu, kekuatan yang hanya mendatangkan kepedihan tiada tara. Ya ilusiku terhadap cinta telah merenggut ruang dan waktu yang tergores rapih dalam kisah hidup di balik senyum yang rapuh.
            Ilusi itu mampu memberi nyawa bagi kehidupan mayaku yang berakhir dengan kepastian semu. Ilusi itu telah mampu menggerogoti hati yang terlanjur rapuh oleh ilusi-ilusi yang takpasti. Mungkin ilusi itu akan selamanya hadir dalam hidupku, hadir sebagai pemberi energi sementara, ilusi itu mampu membangkitkan semangat yang semu, ilusi itu mampu membangun harapan yang tak tahu di mana rimbanya.
            Mungkin semua ilusi itu akan berakhir setelah kugapai cinta yang hakiki, cinta yang taklagi memberi harapan semu. Hanya berharap yang terbaik itulah satu kunci yang kupegang, walau ku taktahu sampai kapan penantian itu akan menemukan labuh pemberhentiannya.
(Nhaya_terinspurasi dari seorang sahabat)