Gema takbir Riuh berkumandang
Riak getar hati semakin menjadi
Batas antara bahagia dan nestapa tiada kentara. Hatiku pilu mengingat bulan nan penuh berkah telah berlalu. Sudah optimalkah ibadahku?
Getar hati bahagia menempuh kemenangan, namun kesedihanlah yang lebih berat kini menggelayuti relung jiwa. Hatiku pilu meninggalkan bulan ketenangan ini, hatiku gundah saat beranjak meninggalkannya. Ku merasa ibadahku belum maksimal, masih banyak kesia-siaan yang kuperbuat, masih banyak kelalaian yang kulakukan, masih banyak ibadahku yang belum optimal.
Ya Allah sunggu berat rasanya meinggalkan Ramdhan tahun ini. Sungguh hati ini pilu tiada tara.
Gema takbir yang semakin pekat menyadarkanku akan waktu yang terus berlalu, menyadarkanku akan datangnya hari kemenangan. Ya Allah, pantaskah aku dengan hari kemenangan ini? Ya Allah pantaskah diri ini bersih tiada dosa layaknya bayi yang baru lahir?
Ya Allah ampunilah segala dosa yang telah kuperbuat selama ini, ampunilah segala kelalaian yang telah kulakukan, ampunilah ibadahku yang belum optimal. Ya Allah terimalah amal ibadah yang kulakukan selama ini, karunikanlah rahmat dan hidayah-Mu kepadaku. Ya Allah berkahilah aku dengan kasih sayang dan petunjuk-Mu. Aammiin..
Kamis, 16 Juli 2015
Sabtu, 27 Juni 2015
Terik yang Memesona
Terik cahaya menyinari langit takberawan
Terik siang ini sungguh memesona, teriknya takmenyengat. Terik yang beriring angin lembut telah menghembus kesejukan ke penjuru bumi.
Dua tiga burung terbang saling bekejaran
Pohon-pohon diterpa angin yang menggoyahkan
Sejuk takterelakan
Angin mengarak awan, memperindah lukisan alam. Gumpalan halus mulai menutupi birunya langit
Semburat cahaya matahari menerpa putihnya awan, menampakan cahaya yang berkilauan.
Terik siang ini sungguh memesona, teriknya takmenyengat. Terik yang beriring angin lembut telah menghembus kesejukan ke penjuru bumi.
Jumat, 26 Juni 2015
Ketika Tangisku Disalahartikan
Aku memang orang yang cepat sekali menangis. Tangisku datang terlebih saat perasaanku diaduk-aduk. Entah karna suasana yang begitu menyayat hati atau suasana yang terlampau membahagiakan. Namun, suatu kali tangisku disalahartikan orang. Ada yang mengira tangisku menyimpan rasa yang lain.
Ceritanya seperti ini: Suatu hari ada temanku yang sakit, saat aku melihat keadaannya yang begitu mengkhawatirkan, air mataku begitu saja keluar membasahi pipi. Seingatku bukan aku saja yang menangis, namun beberapa temanku juga menangis. Entahlah mengapa praduga itu hanya datang kepadaku.
Hingga suatu waktu, tepatnya setelah ia kembali sembuh, ia datang hendak mengutarakan rasa yang ia yakini. Seketika aku terkejut dengan kedatangannya. Namun setelah kutelisik dari teman-temanku, aku mengerti ternyata keberaniannya itu hadir karna tangisku waktu itu, tangisku yang ia kira menyimpan sebuah rasa, tangisku yang ia anggap sebagai rasa yang lain. Ya tangisku telah disalahartikan.
Sepertinya cukup bijak, bila kini aku harus lebih berhati-hati & bisa mengintrol emosiku, terlebih untuk menjaga hati agar takada hati yang tersakiti karna salah mengartikan sikapku.
Kamis, 25 Juni 2015
Membangun Pengertian Di Tengah Racun Pemikiran Lingkungan
Kuberusaha membangun pengertian keluargaku mengenai penjemputanku akan jodoh. Walaupun aku sendiri belum begitu mengusai ilmunya, tapi yang kutahu caraku ini baik dan Insya Allah, Allah meridhainya.
Kucoba bangun satu persatu pengertian keluargaku, aku coba uraikan kepada mereka apa alasanku mengambil jalan ini. Aku hanya menjelaskan kepada mereka bahwa aku hanya ingin berusaha berjalan sesuai dengan jalan yang Allah ridhai. Aku belajar untuk mengurangi aktivitas yang Allah benci (larang), dan tentunya aku pun berusaha untuk mendekatkan diri pada aktivitas-aktivitas yang Allah ridhai.
Di tengah pemikiran keluargaku yang sepertinya sudah terpengaruh dengan budaya sekitar, aku berusaha terus untuk membangun pengertian mereka mengenai permasalahan menjemput jodoh. Alhamdulillah perlahan mereka mengerti dengan keinginanku walaupun badai pengertian keliru selalu menggoyahkan.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku ingin menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku belajar untuk menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)

