Kali ini aku akan
bercerita mengenai awal mula kehidupanku di Unpad, aku juga akan menceritakan
sosok yang sangat berjasa saat pertama kali langkah kakiku sampai di Kampus
Unpad, dialah malaikat yang dikirimkan Allah untuk menolongku.
Ketika itu aku sangat
ingat, hari itu jatuh dihari Jumat bulan Ramadhan. Mungkin itu adalah salah
satu berkah Ramadhan yang aku dapatkan di tahun itu. Saat
aku pertama kali menginjakan kaki di gerbang Unpad, satu kata yang terucap “Subhanallah”
(mungkin karena pertama kalinya aku melihat tempat pendidikan yang luas
dibandingkan dengan SMA ku dulu). Namun nampaknya kekaguman itu tidak
berlama-lama mengingat waktu sudah sore sedangkan kami (saya dan teman satu
perjuangan dari SMA yang sama) belum tahu harus ke arah mana, tempat mana yang
harus kami datangi untuk menindak lanjuti beasiswa kami.
Dengan barang bawaan
layaknya seperti orang yang mau pindahan, kami tergopoh-gopoh masuk lebih
dalam. Namun alhasil kami tetap kebingungan. Suatu ketika ada seorang wanita
yang pastinya dia adalah salah satu mahasiswa dari Universitas ini mendekati
kami, mungkin karena melihat kami yang celingak-celinguk taktahu arah tujuan
dan taktahu harus bertanya kepada siapa. Dia bertanya kepada kami mengapa kami
seperti terlihat kebingungan seperti itu dan dengan sungkan-sungkan akhirnya
kami menceritakan perihal kebingungan kami. Dengan sabar kaka (aku sematkan
kaka untuk memanggil perempuan itu) tersebut mendengarkan cerita kami, karena
kaka tersebut pun taktahu di mana tempat registrasi mahasiswa baru akhirnya dia
menawarkan kami untuk datang ke kosannya (mungkin karena kaka tersebut kasian
melihat kami yang kerepotan membawa banyak barang dan melihat wajah kami yang
telah lusuh kelelahan)
Di kosan kaka itu,
ternyata kebingungan kami belum juga terjawab. Melihat waktu yang terus
berjalan membuat kami semakin kalut dan takut bila kesempatan itu akan hilang
begitu saja mengingat hari itu adalah hari terakhir registrasi ulang mahasiswa
baru, bila kami telat selangkah saja mungkin beasiswa itu akan hilang (apa yang
akan aku katakan kepada orang tuaku yang tadi pagi mengantarkan kepergianku
dengan doanya) itulah kekhawatiranku saat itu. tanpa pikir panjang akhirnya
kami memutuskan untuk kembali lagi ke Kampus walaupun kami masih belum tahu
harus ke mana. dan Kaka itu dengan senang hati bersedia kamarnya kami penuhi
dengan barang-barang bawaan kami.
Saat berada digerbang
Unpad lagi, kebingungan pun menghinggapi kami lagi. Akhirnya ada satu ide entah
dari mana datangnya untuk bertanya kepada pak satpam (harusnya sudah daritadi
kami bertanya). Namun lagi-lagi pak satpam pun taktahu di mana tempat
registrasi mahasiswa baru tersebut, alhasil kami sok tahu naik angkot gratis
(fasilitas Unpad) untuk mengunjungi fakultas yang akan kami tempati nanti. Dan
lagi-lagi setelah sampai di salah satu gedung Fakultas Sastra, kami belum
menemukan jawaban atas kebingungan kami. Namun berkah Ramadhan tahun itu
sepertinya masih berpihak kepada kami, kami dipertemukan dengan salah satu
mahasiswa baru yang baru saja melakukan registrasi dan ia menunjukan jalan ke gedung
yang harus kami datangi. Dengan secepat kilat kami pun menggunakan jasa ojek
untuk mengejar gedung yang sejak tadi kami cari karena melihat waktu yang
tinggal setengah jam sampai pendaftaran akan ditutup.
Ternyata setelah sampai
di gedung pendaftaran tersebut, permasalahan belum juga berakhir. Kami tidak
menyiapkan materai untuk persyaratan kelengkapan pendaftaran kami, namun itu
bukan lagi masalah besar karena teman saya dengan gesitnya langsung membeli materei
walopun jaraknya jauh dari gedung tersebut. Berbagai langkah pendaftaran akhirnya dapat kami jalani
walaupun dengan terburu-buru karena waktu yang akan segera mengantarkan azan magrib.
Setelah semua kegiatan
registrasi selesai kami urus, kami takmerasa kebingungan lagi kemana kami harus
pergi, tentunya kami akan mengunjungi kosan kaka yang tadi menolong kami dan
tempat barang-barang kami dititipkan. Waktu itu kami langsung diajak kaka itu
untuk berbuka puasa di salah satu warung andalannya (mungkin), kami seperti
telah kenal lama dengan kaka itu, dia dengan hangat mengajak kami mengobrol padahal
kami baru bertemu dan kenal dengannya beberapa jam yang lalu tapi kami seperti
telah kenal lama. Tadinya setelah makan kami hendak pulang kembali ke rumah
kami masing-masing untuk mengambil segala keperluan yang harus kami ambil dan sebenarnya
kalo kami harus menginap, kami bingung harus menginap di mana mengingat kami
belum mendapatkan tempat tinggal karena belum sempat mencari. Namun lagi-lagi
sebelum kami menyatakan rencana kami, kaka tersebut menawarkan kami untuk
bermalam di kosannya (seperti dapat membaca pikiran kami yang sedang kebingungan,
kaka itu memberikan jawabannya). Dengan sungkan kami pun mengiyakan penawaran
kaka itu.
Belum cukup sampai di
situ, saat kami menginap di kosannya. Dia dengan rela meminjamkan kamarnya
untuk kami sedangkan dia menginap di kamar temannya (Subhanallah, betapa
baiknya kaka itu padahal kami baru kenal beberapa jam yang lalu dan kaka itu
langsung percaya kepada kami untuk menempati kamarnya sementara sampai kami
mendapatkan kosan sendiri).
***
Satu hal yang membuatku
menyesal sekarang, aku lupa nama kaka itu, aku hanya ingat ia kuliah di jurusan
sastra Ingris, berarti satu Fakultas denganku. Beberapa kali aku seperti
melihat sosoknya, tapi aku ragu untuk menyapanya karena aku takut salah orang
dan aku takut kaka itu tidak mengenaliku lagi. Setiap aku melihat kaka itu
(mungkin benar orang yang ku maksud) aku selalu dihinggapi rasa bersalah karena
tidak berani mencoba menyapanya, padahal bila salah orang bilang saja mirip
dengan orang yang aku maksud. Ya Allah pertemukanlah kembali aku dengan
malaikat kirimanmu itu, agar aku bisa mengucapkan beribu terima kasih
kepadanya, mungkin tanpa bantuannya aku tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk
menuntut ilmu. Kau telah mengirimkan bantuan melaui perantara kakak itu,
pertemukanlah kembali aku dengan perantaramu itu Ya Allah.
