CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 26 Juni 2013

Menyesal Aku Lupa Namanya


Kali ini aku akan bercerita mengenai awal mula kehidupanku di Unpad, aku juga akan menceritakan sosok yang sangat berjasa saat pertama kali langkah kakiku sampai di Kampus Unpad, dialah malaikat yang dikirimkan Allah untuk menolongku.
Ketika itu aku sangat ingat, hari itu jatuh dihari Jumat bulan Ramadhan. Mungkin itu adalah salah satu berkah Ramadhan yang aku dapatkan di tahun itu.   Saat aku pertama kali menginjakan kaki di gerbang Unpad, satu kata yang terucap “Subhanallah” (mungkin karena pertama kalinya aku melihat tempat pendidikan yang luas dibandingkan dengan SMA ku dulu). Namun nampaknya kekaguman itu tidak berlama-lama mengingat waktu sudah sore sedangkan kami (saya dan teman satu perjuangan dari SMA yang sama) belum tahu harus ke arah mana, tempat mana yang harus kami datangi untuk menindak lanjuti beasiswa kami.
Dengan barang bawaan layaknya seperti orang yang mau pindahan, kami tergopoh-gopoh masuk lebih dalam. Namun alhasil kami tetap kebingungan. Suatu ketika ada seorang wanita yang pastinya dia adalah salah satu mahasiswa dari Universitas ini mendekati kami, mungkin karena melihat kami yang celingak-celinguk taktahu arah tujuan dan taktahu harus bertanya kepada siapa. Dia bertanya kepada kami mengapa kami seperti terlihat kebingungan seperti itu dan dengan sungkan-sungkan akhirnya kami menceritakan perihal kebingungan kami. Dengan sabar kaka (aku sematkan kaka untuk memanggil perempuan itu) tersebut mendengarkan cerita kami, karena kaka tersebut pun taktahu di mana tempat registrasi mahasiswa baru akhirnya dia menawarkan kami untuk datang ke kosannya (mungkin karena kaka tersebut kasian melihat kami yang kerepotan membawa banyak barang dan melihat wajah kami yang telah lusuh kelelahan)
Di kosan kaka itu, ternyata kebingungan kami belum juga terjawab. Melihat waktu yang terus berjalan membuat kami semakin kalut dan takut bila kesempatan itu akan hilang begitu saja mengingat hari itu adalah hari terakhir registrasi ulang mahasiswa baru, bila kami telat selangkah saja mungkin beasiswa itu akan hilang (apa yang akan aku katakan kepada orang tuaku yang tadi pagi mengantarkan kepergianku dengan doanya) itulah kekhawatiranku saat itu. tanpa pikir panjang akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke Kampus walaupun kami masih belum tahu harus ke mana. dan Kaka itu dengan senang hati bersedia kamarnya kami penuhi dengan barang-barang bawaan kami.
Saat berada digerbang Unpad lagi, kebingungan pun menghinggapi kami lagi. Akhirnya ada satu ide entah dari mana datangnya untuk bertanya kepada pak satpam (harusnya sudah daritadi kami bertanya). Namun lagi-lagi pak satpam pun taktahu di mana tempat registrasi mahasiswa baru tersebut, alhasil kami sok tahu naik angkot gratis (fasilitas Unpad) untuk mengunjungi fakultas yang akan kami tempati nanti. Dan lagi-lagi setelah sampai di salah satu gedung Fakultas Sastra, kami belum menemukan jawaban atas kebingungan kami. Namun berkah Ramadhan tahun itu sepertinya masih berpihak kepada kami, kami dipertemukan dengan salah satu mahasiswa baru yang baru saja melakukan registrasi dan ia menunjukan jalan ke gedung yang harus kami datangi. Dengan secepat kilat kami pun menggunakan jasa ojek untuk mengejar gedung yang sejak tadi kami cari karena melihat waktu yang tinggal setengah jam sampai pendaftaran akan ditutup.
Ternyata setelah sampai di gedung pendaftaran tersebut, permasalahan belum juga berakhir. Kami tidak menyiapkan materai untuk persyaratan kelengkapan pendaftaran kami, namun itu bukan lagi masalah besar karena teman saya dengan gesitnya langsung membeli materei walopun jaraknya jauh dari gedung tersebut. Berbagai  langkah pendaftaran akhirnya dapat kami jalani walaupun dengan terburu-buru karena waktu yang akan segera mengantarkan azan magrib.
Setelah semua kegiatan registrasi selesai kami urus, kami takmerasa kebingungan lagi kemana kami harus pergi, tentunya kami akan mengunjungi kosan kaka yang tadi menolong kami dan tempat barang-barang kami dititipkan. Waktu itu kami langsung diajak kaka itu untuk berbuka puasa di salah satu warung andalannya (mungkin), kami seperti telah kenal lama dengan kaka itu, dia dengan hangat mengajak kami mengobrol padahal kami baru bertemu dan kenal dengannya beberapa jam yang lalu tapi kami seperti telah kenal lama. Tadinya setelah makan kami hendak pulang kembali ke rumah kami masing-masing untuk mengambil segala keperluan yang harus kami ambil dan sebenarnya kalo kami harus menginap, kami bingung harus menginap di mana mengingat kami belum mendapatkan tempat tinggal karena belum sempat mencari. Namun lagi-lagi sebelum kami menyatakan rencana kami, kaka tersebut menawarkan kami untuk bermalam di kosannya (seperti dapat membaca pikiran kami yang sedang kebingungan, kaka itu memberikan jawabannya). Dengan sungkan kami pun mengiyakan penawaran kaka itu.
Belum cukup sampai di situ, saat kami menginap di kosannya. Dia dengan rela meminjamkan kamarnya untuk kami sedangkan dia menginap di kamar temannya (Subhanallah, betapa baiknya kaka itu padahal kami baru kenal beberapa jam yang lalu dan kaka itu langsung percaya kepada kami untuk menempati kamarnya sementara sampai kami mendapatkan kosan sendiri).
***
Satu hal yang membuatku menyesal sekarang, aku lupa nama kaka itu, aku hanya ingat ia kuliah di jurusan sastra Ingris, berarti satu Fakultas denganku. Beberapa kali aku seperti melihat sosoknya, tapi aku ragu untuk menyapanya karena aku takut salah orang dan aku takut kaka itu tidak mengenaliku lagi. Setiap aku melihat kaka itu (mungkin benar orang yang ku maksud) aku selalu dihinggapi rasa bersalah karena tidak berani mencoba menyapanya, padahal bila salah orang bilang saja mirip dengan orang yang aku maksud. Ya Allah pertemukanlah kembali aku dengan malaikat kirimanmu itu, agar aku bisa mengucapkan beribu terima kasih kepadanya, mungkin tanpa bantuannya aku tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu. Kau telah mengirimkan bantuan melaui perantara kakak itu, pertemukanlah kembali aku dengan perantaramu itu Ya Allah.

Senin, 24 Juni 2013

Coretan Saat Menunggu Datangnya Magrib


Tahukah teman-teman apa yang sedang aku dengarkan di sore ini? Ya, benar. Aku sedang mendengarkan suara-suara binatang yang ada di sebrang kamar kosanku. Sejak tadi pagi aku memang sangat terganggu dengan suara-suara itu, padahal biasanya aku takambil pusing dengan suara mereka, namun kali ini mungkin aku sedang membutuhkan ketenangan hingga aku takingin diganggu suara mereka. Tahukah teman-teman, hari ini mereka sangat berisik, kambing yang takhentinya mengembik mulai dari kambing yang bersuara berat sampai yang bersuara cempreng seperti sedang tercekik (menurut pengamatanku, kambing yang bersuara cempreng ini adalah anggota baru di kandang tersebut sehingga tambah ramailah suara mereka,hehee #perhatiannyaa). Suara bebek yang tak mau kalah mengeluarkan suaranya, kalau yang ini aku tak tahu persis dan tak dapat memprediksi mereka sebaya atau tidak (heheee...). Nah suara ketiga yang takkalah ramainya dengan suara kambing dan bebek adalah suara anak ayam yang terus mencicit (dari suaranya aku bisa membayangkan, sepertinya jumlahnya lebih dari lima mungkin sepuluh) dan ayam jago pun takmau kalah dengan suaranya. Dan cobalah bayangkan bagaimana ketika suara-suara itu sedang bersahutan, dan sama-sama mengeluarkan bunyinya (mungkin seperti ini, mbeekk...nggoook... citcitcitciiit...kukuruuyk...mbeeeekkk) . Entah, aku tak dapat menilai itu suara nyanyian alam yang merdu atau yang menjengkelkan. Biasanya aku asik-asik saja mendengarkan suara mereka yang sedang bersahutan, mereka seperti punya ritme sendiri, aku membayangkan mereka memiliki satu pemimpin (konduktor) yang memimpin nyanyian mereka sehingga dengan selaras suara mereka beradu. Aku bayangkan mereka dengan seksama memperhatikan pemimpin yang mengatur suara mereka kapan kambing bersuara berat dan suara cempreng harus berbagi waktu mengeluarkan suara, kapan anak-anak ayam dengan serempak mengeluarkan cicitnya, kapan suara bebek yang memperlihatkan suara keangkuhannya, dan kapan suara ayam jago yang hendak mengeluarkan suara ketegasannya. Hingga terciptalah melodi alam yang mungkin aku takdapatkan di tempat mana pun selain di kosanku ini.
Mungkin suatu saat aku akan merindukan suara mereka lagi, ketika aku harus meninggalkan tempat ini. Mungkin suatu saat aku akan membuat cerita tentang mereka sebagai bukti penghargaanku kepada suara mereka yang telah menemani dan menggangguku... apa ya judul yang tepat? Mmmm... mungkin “Melodi Satwa” (ah tapi terlalu berbau kebun binatang), apa ya judul yang lebih bernuansa alam? Nanti deh kalo aku sudah mendapatkan judul yang tepat untuk ceritaku tentang mereka akan aku post lagi.. (heheeehhee :D)