CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 16 Juli 2015

Malam Takbir 2015 (di antara gema takbir yang menggetarkan jiwa)

Gema takbir Riuh berkumandang
Riak getar hati semakin menjadi
Batas antara bahagia dan nestapa tiada kentara. Hatiku pilu mengingat bulan nan penuh berkah telah berlalu. Sudah optimalkah ibadahku?
Getar hati bahagia menempuh kemenangan, namun kesedihanlah yang lebih berat kini menggelayuti relung jiwa. Hatiku pilu meninggalkan bulan ketenangan ini, hatiku gundah saat beranjak meninggalkannya. Ku merasa ibadahku belum maksimal, masih banyak kesia-siaan yang kuperbuat, masih banyak kelalaian yang kulakukan, masih banyak ibadahku yang belum optimal.
Ya Allah sunggu berat rasanya meinggalkan Ramdhan tahun ini. Sungguh hati ini pilu tiada tara.
Gema takbir yang semakin pekat menyadarkanku akan waktu yang terus berlalu, menyadarkanku akan datangnya hari kemenangan. Ya Allah, pantaskah aku dengan hari kemenangan ini? Ya Allah pantaskah diri ini bersih tiada dosa layaknya bayi yang baru lahir?

Ya Allah ampunilah segala dosa yang telah kuperbuat selama ini, ampunilah segala kelalaian yang telah kulakukan, ampunilah ibadahku yang belum optimal. Ya Allah terimalah amal ibadah yang kulakukan selama ini, karunikanlah rahmat dan hidayah-Mu kepadaku. Ya Allah berkahilah aku dengan kasih sayang dan petunjuk-Mu. Aammiin..

Sabtu, 27 Juni 2015

Terik yang Memesona

Terik cahaya menyinari langit takberawan
Dua tiga burung terbang saling bekejaran
Pohon-pohon diterpa angin yang menggoyahkan
Sejuk takterelakan

Angin mengarak awan, memperindah lukisan alam. Gumpalan halus mulai menutupi birunya langit
Semburat cahaya matahari menerpa putihnya awan, menampakan cahaya yang berkilauan.

Terik siang ini sungguh memesona, teriknya takmenyengat. Terik yang beriring angin lembut telah menghembus kesejukan ke penjuru bumi.

Jumat, 26 Juni 2015

Ketika Tangisku Disalahartikan

Aku memang orang yang cepat sekali menangis. Tangisku datang terlebih saat perasaanku diaduk-aduk. Entah karna suasana yang begitu menyayat hati atau suasana yang terlampau membahagiakan. Namun, suatu kali tangisku disalahartikan orang. Ada yang mengira tangisku menyimpan rasa yang lain.
Ceritanya seperti ini: Suatu hari ada temanku yang sakit, saat aku melihat keadaannya yang begitu mengkhawatirkan, air mataku begitu saja keluar membasahi pipi. Seingatku bukan aku saja yang menangis, namun beberapa temanku juga menangis. Entahlah mengapa praduga itu hanya datang kepadaku.
Hingga suatu waktu, tepatnya setelah ia kembali sembuh, ia datang hendak mengutarakan rasa yang ia yakini. Seketika aku terkejut dengan kedatangannya. Namun setelah kutelisik dari teman-temanku, aku mengerti ternyata keberaniannya itu hadir karna tangisku waktu itu, tangisku yang ia kira menyimpan sebuah rasa, tangisku yang ia anggap sebagai rasa yang lain. Ya tangisku telah disalahartikan.
Sepertinya cukup bijak, bila kini aku harus lebih berhati-hati & bisa mengintrol emosiku, terlebih untuk menjaga hati agar takada hati yang tersakiti karna salah mengartikan sikapku.

Kamis, 25 Juni 2015

Membangun Pengertian Di Tengah Racun Pemikiran Lingkungan


Kuberusaha membangun pengertian keluargaku mengenai penjemputanku akan jodoh. Walaupun aku sendiri belum begitu mengusai ilmunya, tapi yang kutahu caraku ini baik dan Insya Allah, Allah meridhainya.
Kucoba bangun satu persatu pengertian keluargaku, aku coba uraikan kepada mereka apa alasanku mengambil jalan ini. Aku hanya menjelaskan kepada mereka bahwa aku hanya ingin berusaha berjalan sesuai dengan jalan yang Allah ridhai. Aku belajar untuk mengurangi aktivitas yang Allah benci (larang), dan tentunya aku pun berusaha untuk mendekatkan diri pada aktivitas-aktivitas yang Allah ridhai.
Di tengah pemikiran keluargaku yang sepertinya sudah terpengaruh dengan budaya sekitar, aku berusaha terus untuk membangun pengertian mereka mengenai permasalahan menjemput jodoh. Alhamdulillah perlahan mereka mengerti dengan keinginanku walaupun badai pengertian keliru selalu menggoyahkan.

Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku ingin menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku belajar untuk menjadi baik.
Aku seperti ini bukan berarti aku baik, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik.

Tanda-tanda Dia Jodoh Kita: Sekufu Urusan Iman

Tanda-tanda Dia Jodoh Kita: Sekufu Urusan Iman

Jodoh pasti bertemu, Jomblo pasti berlalu

Jodoh pasti bertemu, Jomblo pasti berlalu

Rabu, 24 Juni 2015

Dahsyatnya Berdoa di Waktu Sahur - Majalah Ummi Online

Dahsyatnya Berdoa di Waktu Sahur - Majalah Ummi Online

Inilah Awalnya Kumemutuskan Tidak Pacaran


Berawal dari pemikiran semasa SMP “indahnya bila rasa itu satu, indahnya bila rasa itu suci”. Saat itu, aku taktahu bila dalam Islam tidak ada pacaran, aku taktahu bila pacaran itu sangat dilarang, karena pacaran merupakan perbuatan mendekati zina. Ya, aku hanya mengikuti pemikiranku.

Pemikiran itu melahirkan keinginan untuk memelihara rasa hingga pada akhirnya rasa itu halal untuk disampaikan. Sebuah keinginan untuk mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta terakhir (seperti lagu saja, Kaulah cinta pertama dan terakhirku.... lalalalaa, hehehe)

Semasa SMP bisa jadi adalah masa percobaan, di mana para remaja termasuk aku (dulu) sedang mengalami masa puber dan memiliki keinginan untuk ikut-ikut dengan apa yang sedang ngetrend pada masanya. Tentu pacaran pun menjadi bahan paling ngetrend yang banyak digandrungi remaja. Banyak di antara remaja memiliki pemikiran “bila takpunya pacar ia ketinggalan zaman”. Banyak di antara mereka yang mengagung-agungkan soal pacaran, mereka bangga dengan sosok yang ada di samping mereka yang menjelma sebagai "pasangan kekasih". Mereka merasa seolah kebahagiaan selalu menyertai mereka dalam pacaran, padahal di sisi lain banyak pula remaja yang merasa terpuruk karena pacaran.

Takbisa dipungkiri bila hati ini pun beberapa kali diaduk-aduk oleh perasaan sendiri, berkali-kali hati ini disinggahi perasaan yang hendak mengelabui niatku untuk tersungkur bersama kuatnya hawa nafsu. Pun aku harus berkali-kali menahan diri agar taktersungkur. Bila perasaan itu hadir, aku cepat-cepat menepisnya agar taktersungkur lebih dalam. Aku berusaha menutup mata dari penglihatan indahnya (mungkin) menyampaikan rasa di masa remaja, aku berusaha menutup telinga dari pendengaran rayuan untuk menjerumuskanku dalam jebakan dunia pacaran.

Aku berusaha membentengi diriku sekuat tenaga. Ya, aku berusaha menguatkan tekadku walau tanpa ilmu. Seiring berjalannya waktu, aku pun mengerti mengapa Islam mengatur pergaulan di antara lawan jenis. Perlahan aku mengerti mengapa ada batasan interaksi di antara lawan jenis, “adanya sebuah larangan tentunya hadir untuk memelihara diri dari perbuatan dosa”.

Mengapa ada perintah menjaga pandangan di antara lawan jenis? Ya, karena hawa nafsu dapat bermula dari pandangan. Hingga dalam islam dikenal dengan Gadhal Bashor ‘menundukkan pandangan’ di antara lawan jenis. Subhanallah, sebuah ilmu yang menggambarkan kehormatan.

Mengapa ada larangan untuk berikhtilat (berdua-duaan)? Ya, karena Allah ingin memelihara hamba-Nya dari perbuatan zina. Zina lahir dari sebuah kesempatan, tentu kesempatan itu lebih terbuka ketika dua insan (pria & wanita) berduaan dalam sepi.

Mengapa kita dianjurkan menjemput jodoh dengan terus memperbaiki diri tanpa harus mengumbar rasa? Ya, karena Allah telah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk kita, dan tentunya dia yang baik harus disandingkan dengan yang baik. Untuk itu cara terbaik untuk menjemput jodoh adalah dengan memantaskan diri (terus memperbaiki diri). Saat waktunya nanti, dengan cara yang baik dan dalam waktu yang baik Allah akan mengirimkan dia yang tepat dan baik untuk kita.

Seiring berjalannya waktu perlahan pemahaman itu semakin menguatkan niatku untuk memelihara rasa, hingga rasa bertaut dengan kehalalan cinta yang hakiki. Bila nanti aku khilaf dan tidak memegang ucapanku, tolong tegur aku ya Allah, tegur aku dengan cara indah-Mu.

Ya, pemikiranku yang tanpa ilmu itu telah kurasakan kebaikannya saat ini. Saat-saat menahan nafsu untuk tergoda pacaran, kini menjadi pelajaran berharga bagaimana aku harus mengontrol keinginan dari dalam diriku. Saat-saat aku belajar membatasi pergaulan antarlawan jenis, kini pengalaman itu menjadi salah satu caraku menghormati diri.

Salah satu resep untuk dapat mengontrol diri dari keinginan memiliki seorang kekasih yang takhalal adalah selalu berpegang teguh pada firman Allah:

"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)." (Q.S. An Nur: 27)

Jadi apa yang harus diragukan lagi? Bukankah itu janji Allah? Jangan khawatir! Allah takpernah menyalahi janji, Allah takpernah ingkar janji.

Pegang teguh firman Allah tersebut, jadikan ia pegangan & pedoman untuk menjemput jodoh. Hidup adalah pilihan, pun dalam memilih pasangan. Jadi kalo mau pilih yang baik, mulailah untuk memperbaiki diri sendiri, maka yang baik pun akan datang menghampiri. Sebaliknya, bila kau pilih yang buruk, ya kau tahu sendiri jawabannya!hehe :D

Jumat, 12 Juni 2015

Hujan Malam



Terdengar derap hujan yang semakin gaduh di luar sana, pendar cahaya lampu menampakkan rintik yang berkejaran membasahi tanah.

Rinai lembutnya sejuk terasa saat menerpa, angin berhembus lembut menggoyah pohon-pohon yang telah letih dengan terik siang tadi.

Hujan malam tengah menyelimuti letihnya jiwa, menghangatkan raga yang tengah melepas lelah. Derasnya hujan telah merangkul lelap, menelusuri buaian mimpi.

Terlelaplah bersama derasnya hujan yang hangat menyelimuti, masukilah mimpi indahmu wahai jiwa yang sedang terlelap dalam lelah.

Kamis, 11 Juni 2015

Tertatih dalam Angan


Angan selalu menawarkan kebahagiaan, melambai lembut memanggil polah, mengelabui nafsu hingga terperdaya.

Berjalan menelusuri riak ilusi tiada pasti, berlari mengejar angan semu, tertatih melawan nyata, terburu-buru jadi jalan pintas.

Semu terasa karna belumlah nyata, angan memberondong bahagia nan menggoda, batas antara bahagia dan terperdaya tiada kentara.

Angan mengelabui pikir, mengumbar harap, membangun khayal, hingga menyiksa hati.

Lelah, kini aku tertatih dalam angan.


_Nhaya Lianna_

Sabtu, 11 April 2015

Rintik hujan saling berkejaran menyapa panas hari ini, hingga kesejukan yang ia bawa meluluhkan panas yang sudah teramat merajai. Dengan rintiknya yang halus, ia tebarkan kesejukan dengan sabar. Menggantikan panas yang telah merajai, menebar pundi-pundi kesejukan, meluluhkan gersang, dan menyuburkan kembali tanah yang hampir usang.

Tanah gersang begitu merindukan datangnya rintik hujan, pun merindukan angin penyerta hujan yang yang akan menaburkan bau tanah.
Rintik hujan turun, menyapa angin di sepanjang jalan yang membawanya hingga bertemu dengan panas. Meminta panas untuk bisa berganti dengannya beberapa saat dan menyampaikan pesan kehidupan kepada tanah. Panas pun mengalah untuk berganti dengan rintik yang menyejukkan. Rintik yang sering dirindui penat yang membakar.

Namun terkadang panas enggan mengalah. Rintik hujan pun menyerah, kering sebelum sampai ke bumi. Rintik yang telah menggantung pun urung jatuh ke permukaan, karena ia mengerti panas yang hendak menyelimuti bumi dengan kehangatannya.

Satu lagi sahabat setia penyerta hujan. Ia adalah mendung, mendung yang selalu membawa kabar gembira untuk bumi akan datangnya rintik yang menyejukkan.

Sabtu, 04 April 2015

Hidup dalam Pusaran Tanya



Takdapat dipungkiri, setiap fase kehidupan selalu dihadapkan dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan yang satu menghendaki pertanyaan selanjutnya. Gertakan pertanyaan itu terus berusaha merobohkan keyakinan atau sebaliknya gertakan pertanyaan itu terus melahirkan semangat baru.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Al Imran:14)

Pertanyaan-pertanyaan yang hadir terus berkutat pada pencapaian dunia. Seakan hanya itulah tujuan hidup "terus mengejar ketidakabadian". Terkadang pertanyaan itu hadir seolah hendak menggugurkan rasa syukur atas apa yang telah dimiliki. Selalu mempertanyakan ketiadaan tanpa mengindahkan suatu keberadaan. Keberadaan akan pencapaian hidup yang telah dimiliki takdiindahkan, karena menghendaki ketiadaan yang ingin dimiliki.

Saat sekolah, kita selalu dikejar dengan pertanyaan, "kapan lulus?", "akan kemana setelah lulus?"
Setelah lulus, "hendak jadi apa kau setelah lulus?"
Setelah mencapai keberhasilan, "kapan kau memiliki pendamping hidup?"
Setelah memiliki pendamping, "kapan kau memiliki anak?", "kapan kau menambah keturunan?", dan seterusnya. 

Pertanyaan yang satu akan megundang pertanyaan selanjutnya. Namun, sangat disayangkan mengapa takmuncul pertanyaan "kapan kau mati?" Sebuah pertanyaan mengenai kesiapan untuk menghadapi & memulai kehidupan sebenarnya.

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak sebenarnya mereka tidak sadar." (Al Mu'minun:55-56)

Mungkin tidak sedikit dari kita yang selalu mengira segala pencapaian hidup di dunia ini adalah sebuah kebahagiaan yang harus terus dikejar. Hingga banyak yang  terperdaya dengan kebahagiaan yang sementara dan taksedikit orang yang rela meninggalkan kewajiban (ibadah) hanya untuk mengejar kesenangan tersebut. Padahal bisa jadi kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang memperdayakan. Bisa jadi kebahagiaan itu hadir sebagai ujian, menguji sejauh mana kita bersyukur kepada Allah. Bisa jadi kebahagiaan itu hadir sebagai ujian, menguji sejauh mana kita berpaling kepada Allah karena kebahagiaan sementara.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."(Al Baqarah: 155)

Pusaran pertanyaan akan selalu hadir dalam hidup. Ketika pusaran tanya itu menghadirimu, bersiaplah untuk memilih. Memilih sikap terbaik untuk menghadapinya. Ketika tanya datang, akan kau hadapi dengan sikap dewasa atau malah sikap kekanak-kanakanlah yang kau pilih?
Ketika tanya datang, akan kau jadikan ia kekuatan atau kelemahan?
Ketika tanya datang, akan kau sanggupi untuk menjawab pertanyaan itu atau akan kau biarkan pertanyaan itu berlalu?
Ketika tanya datang, kan kau sibukan dirimu dengan usaha atau akan kau tenggelamkan dirimu dalam pikir?
Banyak pilihan untuk menghadapi pusaran tanya, karena pusaran itu takselamanya akan menyelakaimu, pusaran itu takselamanya akan menenggelamkanmu. Pusaran itu bisa jadi akan membawamu pada titik pusat keyakinan, pusaran itu bisa jadi menghendaki usaha indahmu untuk mencapai kebahagiaan abadi. 

Rinduku padamu Ya Rasulullah



Allahuma shali ala muhammad wa ala ali Muhammad

Belum pernah kubertemu denganmu ya Rasulullah
Mendengar kisahmu, menggetarkan hatiku
Kekhawatiranmu pada umat, meluluhkan hatiku
Kasihmu pada umat, melelehkan air mataku

Saat pedihnya sakaratul maut kau rasa, saat itu pun engkau masih ungkapkan cinta "umati, umati, umati".
Semakin sesak terasa mendengar kekhawatiranmu pada umat di saat-saat terakhirmu, Engkau mengkhawatirkan umat yang bahkan belum kau temui. Engkau mengkhawatirkan sakit yang akan dirasakan umatmu saat ruh tak menghendaki lagi tuk bersama dengan raga. Bahkan engkau rela menanggung sakit yang akan dirasakan umatmu saat sakaratul maut itu meregang.

Kemuliaan akhlakmu taktertandingi ya Rasulullah..
Walau pintu surga selalu terbuka lebar untukmu, hal itu takmenyurutkan semangat ibadahmu.
Walau umatmu seringkali menyakitimu, hal itu takmengurangi kasih sayangmu.
Walau musuh-musuhmu kerapkali melancarkan serangannya kepadamu, hal itu takpernah memadamkan perjuanganmu.
Walau perjalananmu terlihat pahit terasa, namun kau selalu merasakan manisnya perjalanan hidup.

Rinduku takertahan padamu ya Rasul
Rinduku ingin berjumpa denganmu ya Rasul
Rinduku ingin menatap wajahmu ya Rasul

Kini, ingin rasanya aku bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi. Kan pasti ketenanganmu menggetarkan hatiku..
Ya Rasulullah ya Habiballah, terimalah aku sebagai umatmu
Ya Rasulullah ya Habiballah, karuniakanlah syafaatmu kepadaku di yaumul mahsyar nanti..
Ya Allah izinkanlah aku untuk sampai ke makam kekasih-Mu (Rasulullah) sebelum aku kembali pada-Mu..

Jumat, 03 April 2015

Menikmati Kedekatan dengan-Nya



Sebelumnya takpernah kumerasa setenang ini,
Sebelumnya takpernah kumerasa senyaman ini,
Sebelumnya takpernah kumerasa sekuat ini.

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (Al Baqarah:152)

Alhamdulillah...
Semakin kumendekat,ketenangan itu menyeruak semakin dalam.
Semakin kumendekat, kenyamanan itu semakin memanjakanku.
Semakin kumendekat, kekuatan perlahan hadir semakin menguatkan keyakinanku.

Kurang baik apa lagi? Bila segala pinta yang belum terucap saja langsung dijawab, bagaimana dengan pinta yang terus-menerus terucap dalam doa? Allah Maha tahu, kelemahan pengetahuanlah yang selalu membuat diriku sok tahu. Lebih mendahulukan prasangka buruk, ketimbang memperbanyak prasangka baik. Ya, itulah aku.

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al Baqarah:186)

Ketika aku menghadapi suatu permasalahan hidup, aku selalu saja melupakan banyaknya kenikmatan yang telah kuteguk. Ya itulah kesalahan terbesarku,  karena secara tidak sadar aku telah memupuk kekufuran dan menjauhkan diri dari rasa syukur. 
Setelah aku menyadari kesalahanku, aku berusaha mendekati-Nya. Aku takmau sesalku semakin dalam, aku takmau sesalku semakin menjadi. Ya, aku harus bersyukur karena Allahlah yang menggerakkan ini semua. Allah yang menggerakan kesadaranku. 

Aku belajar dan berusaha membenahi diri, memperkuat yang wajib dan memulai yang sunah. Subhanallah, memang hanya kedekatan dengan-Nyalah yang mampu menenangkan jiwa. Ketika masalah datang mengujiku, aku belajar menguraikan masalahku itu kepada Allah. Walau dengan bahasa yang kacau, aku tetap menguraikan ceritaku. Subhanallah, Allah selalu menjawab dan memberi solusi dari masalahku itu dengan cara yang indah.

Aku pernah dibebankan dengan masalah rejeki. Aku mempertanyakan rejeki yang belum juga mendatangiku, padahal aku merasa telah mengerahkan berbagai cara untuk menjemputnya. Aku uraikan segala kekhawatiran dalam diriku kepada Allah dan setelah itu kumencoba mencari ketenangan dengan membaca Al Quran. 
Setelah kubaca beberapa ayat, ketenangan menyeruak masuk ke dalam jiwaku. Tidak sampai di situ, tiba-tiba aku tergerak untuk membaca terjemahan ayat yang telah kubaca. Subhanallah, baru saja aku mencurahkan segala gundah kepada Allah, Allah langsung menjawabnya. Allah membimbingku untuk menghapus segala kegundahanku. Ayat pertama yang membuat hatiku bergetar:

"Dia memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (At-Talaq: 3)

Ya Allah aku telah menghawatirkan apa yang telah kau jamin. Ya Allah selama ini aku salah, selama ini aku telah menggantungkan harapku kepada perusahaan ini dan itu dalam menjemput rejeki, padahal seharusnya aku hanya menggantungkan harap itu kepada-Mu, karena Engkaulah yang Maha Memiliki, Engkaulah yang Maha Pemberi.

"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rejeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang dia kehendaki), sungguh Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya."(Al Isra: 30)

Ayat demi ayat yang kubaca semakin membuat penyesalanku menjadi. Ya Allah ampunilah aku, karena aku telah meragukan janji-Mu. Padahal janji Allah pasti benar dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Jadi mengapa aku harus bersedih hati dan khawatir dengan janji-Nya?

Kesadaranku mulai tersusun, lubang-lubang kekhawatiran mulai tertutup. Aku harus meneruskan usahaku dan aku tidak boleh gentar hanya karena kekhawatiran yang melenakan. Karena bukankah apa yang kita usahakan itu akan berbanding lurus dengan apa yang akan kita dapatkan? Jadi kalau mau dapat yang lebih, ya usaha pun harus lebih keras. 

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."(An-Najm: 39)

Allah yang Maha Menggerakkan, Allah telah menggerakan langkahku hingga aku mendapat jawaban langsung dari-Nya. Ya, ini adalah sebuah komunikasi yang maha Indah.

Tiap kali kuterjatuh, Allah selalu membimbingku mendekat. Ini adalah cara Allah memanggilku.
Tiap kali kumerasa tersungkur, Allah selalu membangkitkanku. Ini adalah bukti kasih sayang-Nya.
Tiap kali kuterhimpit berbagai coba, Allah selalu memberikan pertolongan sebelum kumeminta. Ini adalah bukti kekuasaan-Nya.

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri."(At Tur:48)

Kini, kubelajar selalu mendekat pada-Nya, menikmati kebersamaan dengan-Nya, dan menantikan setiap jawaban indah yang diberikan-Nya. 

"Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang." (Ar-Ra'd:28)

Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati, janganlah kau palingkan hati ini kepada selain Engkau.
Ya Allah yang Maha penggenggam hati, jangan biarkan hati ini berharap kepada selain Engkau.
Ya Allah yang Maha Menguasai hati, jangan Kau cabut kembali ketenangan yang saat ini kurasa.
Ya Allah yang Maha pemilik hati, tautkanlah hatiku hanya kepada-Mu.

Merindu Kasih yang Masih Misteri



Rinduku pilu takmenentu
Rinduku hadir taktahu arah
Rinduku terkatung dalam buaian penantian

Diri meretas rindu dalam benang-benang penantian,
Berharap rindu merajut kasih dalam buaian kasih-Nya,
Hingga mampu merenda waktu tuk menguak misteri cinta-Nya

Rindu ini hadir dalam sebuah penantian, rindu ini hadir hendak mengasingkan diri yang dirundung emosi..

Wahai perindu bersabarlah, jangan biarkan rindu itu mengoyak sabarmu
Wahai perindu berbahagialah, bila rindumu selalu terpaut kepada-Nya
Wahai perindu bersyukurlah, atas semua anugerah rasa di hatimu..

Berdoalah, Innallaha Ma'ana


Jangan jadikan doa sebagai obat yang hanya kau gunakan di saat kau merasa sakit, merana, dan terpuruk. Namun,  jadikanlah doa itu sebagai makanan yang selalu kau butuhkan untuk mempertahankan hidup.

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus..
Allah dulu, dahulukanlah bersyukur kepada Allah karena kau masih diberi kesempatan meneguk berbagai karunia-Nya dan dahulukanlah mengadu kepada Allah untuk menghadapi setiap perkara hidup.

Allah lagi, lagi-lagi datanglah kepada Allah di saat kau senang (menikmati karunia-Nya) dan lagi-lagi datanglah kepada Allah saat kau menghadapi berbagai perkara hidup. 

Allah terus, teruslah mengadu kepada Allah mengenai berbagai perkara hidup. Senang ataupun sulit, adukanlah kepada Allah.

Allah takkan pernah bosan mendengar doa dan pinta kita, tapi Allah akan marah bila kita lupa meminta kepada-Nya.
Hanya Allah yang paling mengerti, hanya Allah yang paling peduli, hanya Allah yang paling menyayangi diri ini.

Apalah diri ini tanpa pertolongan-Nya, apalah diri ini tanpa kasih sayang-Nya.
Meminta pada-Nya takkan pernah membuatmu kecewa, berharap pada-Nya takkan pernah membuatmu merana.

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."(Al Baqarah:186)

Bersujudlah, memohon ampun kepada Allah sebagai tanda penyesalanmu.
Tengadahkanlah tangan-Mu untuk bermunajat kepada Allah sebagai tanda kelemahanmu.
Bertawakallah kepada Allah sebagai tanda ketidakberdayaanmu. 

Ku Menunggu dalam Sabarku


Di ujung sana ku yakin, telah Kau siapkan seseorang yang sabar. Kelak kesabarannya kan memperbaiki segala alpa dalam diri.
Dia yang telah tercatat dalam ketentuan-Nya, kan mampu menempa diri menjadi lebih baik.
Dia yang kini tengah berjuang memperbaiki diri, kan kujemput dengan semangat memantaskan diri.

Hadirmu misteri, tapi kelak kau kan ada di masa depanku
Namamu rahasia, tapi kelak kau kan ada di masa depanku
Dia adalah masa depanku, masa depan yang kini masih menjadi teka-teki..

Misteri waktu terus bergulir, meregang benang-benang tanya.
Mungkinkah waktu menghendaki kita berjumpa di awal waktu?
Entahlah, aku taktahu. Yang kutahu, aku akan menunggumu dalam sabarku..

Bersyukurlah!


"Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya." (Al Baqarah: 233)

Akan ada bahagia setelah derita
Akan ada syukur setelah tersungkur
Akan ada sabar setelah coba berkobar
Akan ada ikhlas setelah usaha takterbalas
Akan ada tawakal setelah kau lelah berjuang

Gelapnya malam akan beranjak menuju terangnya siang, begitu pun gelapnya kehidupan akan selalu beranjak mencari cahaya yang bisa meneranginya.
Kan selalu ada kebaikan dari setiap sisi kehidupan, bijaklah untuk selalu berhusnudzon dalam menghadapi berbagai perkara hidup.

Teguklah manisnya setiap coba dan syukurilah beribu nikmat yang kauterima.

Saat coba mendera, diri selalu merasa yang paling menderita. Padahal itu hanya secuil sisi kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. Taktahu diri, ya memang diri kerap kali taktahu diri dan takbijak dalam menghadapi berbagai situasi. Tanyakanlah pada diri, Sudahkah kita bersyukur?

“Jika engkau bersyukur, maka sungguh Allah akan menambahkan nikmat-Nya, dan jika kamu kufur maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Kematian Itu Sangat Dekat

Tanpa kita sadari, kita ini sedang beranjak mendekati kematian. Satu hari kita lewati, berarti satu hari pula waktu yang telah kita tempuh untuk sampai pada pintu kematian. Ya, bertambahnya usia menandakan berkurangnya jatah hidup kita di dunia.

Kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan yang memperdaya dan kematian adalah sebuah kepastian.

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."(Al Imran: 145)

Semua yang hidup (bernyawa) pasti akan mati. Manusia, hewan, dan tumbuhan yang hidup pasti akan mati. Waktu kedatangannya begitu misteri dan pasti.

Muda atau tua, kematian takmemandang batas usia. Ia bisa datang kapan pun, usia tidak menjadi alat ukur untuk menentukan kapan datangnya kematian.

Kaya atau miskin, kematian takmemandang si kaya atau si miskin yang pantas mati, karena ia kan datang kepada siapa pun. Tak memandang strata yang selalu menjadi alat ukur kehidupan dunia.

Sakit atau sehat. Kematian takmemandang si sakit atau si sehatlah yang lebih pantas mati. Karena ia selalu menghendaki setiap keadaan.

Bisa jadi si muda yang kaya dan sehat lebih dulu menghadapi kematian ketimbang si tua yang sakit dan miskin.

Sebelum kematian menjemput, alangkah baiknya kita kumpulkan bekal agar bisa mengantarkan kita pada tempat yang paling baik yakni Surga. Tentunya dengan selalu menebar kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Memperkuat yang wajib dan membiasakan yang sunah.

Kamis, 19 Maret 2015



Misteri Waktu-Mu

Hapus semua kerisauan akan janji-Nya, karena Allah takkan pernah menyalahi janji.

Misteri waktu bergulir kian mendekati ketentuan-Nya,
Misteri esok takkan ada yang tahu,
Misteri kasih takpernah tahu kan berlabuh pada siapa nantinya,
Misteri rejeki takada yang tahu datangnya dari mana,
Misteri maut takkan ada yang bisa meramalnya.


Misteri jodoh, datangnya selalu dinanti, kedatangannya penuh misteri, yang terbaik adalah jawaban Illahi.
Jejak misteri membimbingku berlari kian menepi, menjemput sang idaman hati.

Misteri rejeki, datangnya dijemput dengan usaha yang takberputus asa, ia datang dari arah yang takdisangka-sangka, Kesabaran selalu menghiasi setiap jejak usaha, syukurku datang menyambut karunia-Nya.

Misteri maut, datangannya selalu menggetarkan jiwa, kedatangannya takdapat ditolak, kehadirannya takdapat ditunda, sang pencabut nyawa datang begitu misteri, hadirnya takbisa dikompromi.

Aku Malu..


Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Begitu banyak nikmat yang Kau beri, tapi yang kuingat hanyalah setitik kesulitan yang kualami.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Begitu banyak kemudahan yang Kau limpahkan kepadaku, tapi yang kuingat hanyalah sepercik kesulitan yang kuhadapi.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Ketika kutersungkur jatuh takberdaya, Kau selalu saja senang membangkitkanku. Padahal ketika Kau memberi kenikmatan kepadaku jarang sekali kuingat kepada-Mu :'(

Ya Allah, aku malu pada-Mu. Jarang sekali kalimat syukur keluar dari mulutku, sebaliknya seringkali kalimat kufurlah yang keluar dari mulutku, tapi Kau tetap saja melimpahkan rahmat kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Aku sering berbuat dosa, tapi aku juga takut bila Engkau marah kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu. Sudah terlalu sering kumeninggalkan-Mu hanya untuk mengejar dunia, padahal Kau takpernah sedikitpun meninggalkanku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Terlalu sering aku melupakan-Mu, padahal tak pernah sedetikpun Kau melupakanku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Terlalu sombong diri ini, selalu merasa mampu menghadapi segala sesuatu sendiri, padahal Engkaulah yang menggerakkan semua itu.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Kau telah anugerahkan mata, telinga, mulut, & tubuh yang baik. Takada kekurangan sedikitpun. Namun terlalu sering aku menyalahgunakan anugerah-Mu itu.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Dosa yang kuperbuat tiada henti, tapi pengampunan-Mu takpernah bertepi.

Ya Allah, aku malu pada-Mu
Terlalu sering kuberbuat khilaf, tapi aku juga takut bila siksa datang kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Ketika selangkah aku mendekat pada-Mu, tapi seribu langkah Kau mendekat kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Kasih sayang-Mu takterbatas,
Nikmat-Mu takterhingga,
Pertolongan-Mu tiada henti,
Pengampunan-Mu takpernah bertepi.

Takselamanya Rasa Takut Melemahkan


Seringkali rasa takut mengelabui pikiran, akankah rasa takut hendak mendatangkan keputusasaan?
Diri terasa ciut ketika keadaan menghimpit silih berganti datang.
Begitu banyak keinginan, lupa anugerah yang telah dinikmati. Keinginan yang takkunjung datang terkadang membangun kekufuran diri. Merasa menjadi yang paling takberutung. Padahal Allah takkurang satu apapun, menganugeragi diri dengan berbagai kemudahan dan kenikmatan. Mengapa diri ini hanya mempertanyakan ketiadaan, bukan mengindahkan keberadaan?
Diri selalu mempertanyakan ketiadaan keinginan yang takkunjung terjadi, lupa akan keberadaan nikmat yang selama ini memanjakan diri.

Jangan biarkan rasa takut itu melemahkan, jadikanlah rasa takut itu kekuatan diri untuk bisa tetap berdiri menghadapi berbagai situasi.

Seperti halnya,
Rasa takut menyakiti, menjadikan kita senantiasa membentengi tindak dan ucap.
Rasa takut mengecewakan, menjadikan kita selalu mengindahkan janji, rasa takut takkan membiarkan kau menjadi ingkar.
Rasa takut bersuudzon, kan menjadikan  pikiranmu baik.Husnudzon selalu diegakkan untuk menghapus rasa takutnya.

Ya, karena rasa takut takselamanya melemahkan, maka jadikanlah rasa takut sebagai jalan agar kau takingkar kepada-Nya, agar kau selalu berhusnudzon kepada-Nya, agar kau selalu taat kepada-Nya.

Minggu, 15 Maret 2015

Aku Iri pada Mereka


Ya, aku iri sungguh iri kepada para wanita yang telah menjuntaikan hijab di seluruh tubuhnya.

Aku iri pada mereka yang selalu melapaskan basmalah dan doa untuk mengiringi aktivitasnya. Bukti kesadaran diri yang lemah, bukti pengharapan dan keyakinan kepada Allah. Melibatkan Allah dalam segala hal.

Aku iri pada mereka yg bersiap menunggu datangnya adzan & segera melaksanakan sholat setelah kumandang itu datang.

Aku iri pada mereka yg senantiasa mengawali harinya dengan sholat dhuha, mengharap dicukupi rejekinya hanya kepada Allah.

Aku iri pada mereka yang selalu semangat dan  istiqamah berduaan dengan Allah dalam kesepian malam di sepertiga malam terakhir.

Aku iri pada mereka yang senantiasa mengeluarkan kata-kata menyejukkan dari mulutnya, apa yang mereka katakan bukan bualan karena mereka selalu berlandaskan Al Quran dan hadis. Ucapan mereka terpelihara, pandangan mereka terjaga.

Aku iri pada mereka yang senantiasa berusaha menahan hawa nafsunya dengan berpuasa. Puasa menjadi perisai yang melindunginya dari godaan buruk.

Aku iri pada mereka yang senantiasa menjaga dzikir dalam setiap aktivitasnya. Mereka tak henti melantunkan kalimat Istigfar, berharap Allah mengampuni semua dosa yang telah diperbuat.

Aku iri pada mereka yang tidak lupa bersolawat untuk mengiringi aktivitasnya.

Aku iri pada mereka yang selalu menjaga interaksi dengan Al Quran. Tilawah selalu ditegakkan setiap harinya.

Aku iri pada mereka yang berlomba-lomba menghapal Alquran, terlebih aku iri pada mereka yang sudah hapal al-quran & senantiasa menjaga hapalannya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku iri pada mereka yang selalu menundukkan pandangannya terhadap lawan jenis, mereka memeliharanya sebagai bukti kemuliaan mereka.

Aku iri pada mereka yg rela mengorbankan nyawanya demi menegakkan iman.

Aku iri pada mereka yang selalu menebar kebaikan, selalu mengajak kebaikan, mengingatkan kekhilafan, dan mencegah kemungkaran.

Aku iri pada mereka yang selalu menjaga sabar dan syukur dalam menghadapi berbagai coba. Bagi mereka sabar takada batasnya, karena mereka yakin "sabar kan selalu berbuah manis". Mereka selalu mensyukuri nikmat yang datang tiada henti, bahkan suatu cobaan pun mereka nikmati dengan rasa syukur.

Aku iri pada mereka yang senantiasa menjaga silaturahmi dengan sesama, tak ada ucap yang menyakiti, takada tingkah medzalimi.

Aku iri pada mereka yang wajahnya selalu terlihat sejuk & meneduhkan ketika dipandang, karena amalan kebaikannya yang memancar menenangkan.

Ya aku iri, sangat iri dengan ketaatan mereka. Aku iri dengan kedekatan mereka dengan Allah.

Insya Allah adalah Akhlak Seorang Hamba kepada Allah


Seringkali kita mengucapkan kata Insya Allah saat menghadapi sebuah rencana, terkadang Insya Allah disalahgunakan begitu saja. Misalnya saat merencanakan pertemuan, kita ingin datang namun di sisi lain kita ragu untuk datang (bisa dibilang kemungkinan besar tidak akan datang) maka kata Insya Allah itu tergelincir dengan mudahnya dari mulut kita.

Insya Allah 'bila Allah menghendaki' bukankah itu berarti ada suatu harapan dan ketergantungan kita terhadap Allah yang Maha Menghendaki? Tapi kebanyakan kata Insya Allah itu digunakan untuk menolak secara halus atau alasan untuk tidak menepati janji.
Alangkah baiknya kata Insya Allah itu kita ucapkan secara sadar bahwa kita sedang berharap dan bergantung kepada Allah, bukan sedang menolak.
Bila kata Insya Allah itu kita ucapkan untuk menyatakan ketidaksanggupan, bukankah itu sama saja kita sudah sok tahu? Padahal kata tersebut menyatakan sebuah pengharapan kita untuk dapat memenuhi sebuah rencana.

Jadikanlah Insya Allah sebagai akhlak kita (seorang hamba) kepada Allah. Dengan segala upaya kita berusaha dapat memenuhi sebuah janji bukan berniat menolak, dan kita menyadari kelemahan diri serta meminta bantuan dari Allah.
Bila sudah jelas perkaranya kita tidak bisa memenuhi sebuah rencana, alangkah baiknya kita jangan mengucapkan Insya Allah sebagai alasan menolak. Ucapkanlah kata Insya Allah itu untuk menggambarkan sebuah kesanggupan. Tentunya dengan kesadaran penuh bila kita tidak memiliki kekuasaan untuk memastikan segala sesuatu karena Hanya Allah yang dapat memastikan segala perkara.

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali dengan menyebut 'Insya Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kau lupa, dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini."
(QS. Al-Kahfi: 23-24)


Insya Allah adalah akhlak seorang hamba kepada Allah. Insya Allah adalah bukti kelemahan diri dan ketergantungan kita kepada Allah.

Mengetuk Pintu Langit


Kepekatan Malam kian mendekap lelap
Kehangatan malam semakin pekat terasa
Kesunyian malam menambah sendu, membuka tabir diri yang berlumur dosa
Kesunyian malam menggenggam hati yang tergores luka, luka yang terpahat karena kedengkian
Kesunyian malam merobohkan benteng kesombongan yang telah lupa hakikat diri milik siapa
Kesunyian malam menggenggam pikir, membersihakan segala pesimis berganti optimis

Kugerakkan tangan mengucap takbir, segala kesombongan luluh lantah, segala kecemasan perlahan sirna, segala kegundahan perlahan berganti, ketenangan menyeruak masuk merobohkan pertahanan ria.
Lantunan ayat demi ayat semakin menyayat hati, menggertak diri yang kian lupa pada Illahi.
Tubuhku gontai karna isak taktertahan, gerakan demi gerakan perlahan membangun kesadaran "milik siapa diri ini"
Sujudku tertegun malu pada Illahi, derai air mata menyesali diri yang kerap berbuat khilaf. Sombong, iri, dengki, perlahan berputar dalam ingatan, memperlihatkan polah yang taktahu diri.

Teringat akan keluh kesah yang sering terlontar dalam ucap, lupa diri atas anugerah yang telah dinikmati.  Takada syukur terucap, tapi keluh yang sering terucap.
Sesal diri tiada guna, yang lalu takkan pernah kembali.
Sesal diri tiada guna, yang telah terlontar dari ucap takkan bisa ditarik kembali.
Sesal diri tiada guna, tindak keji takkan bisa diganti.
Sujudku semakin dalam, memohon ampun pada Illahi atas kekhilafan yang terjadi.
Irhamna ya Allah ya rahman ya rahim, dekap aku dalam kasih-Mu..

Aku Memanggilmu dalam Diam


Dalam sunyi kumenengadah meminta pada-Nya
Dalam sunyi kumengemis meminta kasih-Nya
Dalam sunyi kumemanggilmu dalam doa-doa kebaikan, semoga kau datang dalam kebaikan-Nya
Dalam sunyi ku memanggilmu dalam harap, semoga engkau yang baik kan menjadi imam masa depanku
Dalam sunyi ku memanggilmu dalam diam, meminta-memohon-mengharap kasih-Nya selalu menyertai kasihmu
Aku menantimu dalam sunyi, takbergeming walau godaan kerap hadir menyapa

Derap rindu yang beranjak pilu, berharap kasihku selalu bermuara pada kasih-Nya
Derap rindu ini kian mendekati waktu ketentuan-Nya
Derap rindu ini perlahan menuju dermaga cinta suci-Nya
Kelak, derap rindu ini kan menyatukan rinduku dan rindumu yang selalu merindu-Nya

Pintaku selalu...
Semoga kita kan bertemu dalam kebaikan-Nya, di tempat yang baik, dalam waktu yang baik, dan dengan cara yang baik..

Sabtu, 07 Maret 2015


Kekuatan Doa



Doa adalah senjata yg diberikan Allah untuk menolong hamba-Nya. Namun terkadang manusia lupa menggunakan senjata tersebut karena kesombongannya. Merasa mampu menghadapi berbagai permasalahan hidup sendiri, padahal manusia tiadalah daya untuk dapat keluar dari suatu permasalahan tanpa izin dan kehendak Allah.
Terlahir dan hidup di dunia ini atas kehendak Allah, apakah pantas manusia menyombongkan dirinya hingga ia lupa meminta (berdoa) kepada Allah? Apakah kau merasa mampu melakukan apa pun tanpa kehendak dari-Nya? Tidak, itu kesalahan besar saat kau merasa seperti itu.
Manusia tiadalah memiliki kekuatan apa-apa, bahkan mata ini berkedip pun atas kehendak Allah. Bayangkan saja bila mata ini takberkedip mungkin mata ini sudah begitu usang diterpa angin dan debu, tapi Allah Maha Baik Ia kedipkan kelopak mata ini untuk membersihkan kotoran dan melindunginya dari terpaan angin dan debu. Berapa kali dalam semenit mata ini berkedip? Mungkin puluhan kali. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Nah, masih sombongkah diri ini? Masih merasa mampukah diri ini menghadapi berbagai permasalahan hidup? Masihkah ada rasa bila dirimulah sendiri yg bisa menyelesaikan permasalahan itu? Semua permasalahan yang datang dan pergi itu atas campur tangan Allah. Takperlulah kita sombong bila telah selesai dari suatu urusan, karena itu semua tentu karena campur tangan Allah yang senantiasa membantu kita.

Hanya kekuatan doalah alat komunikasi kita dengan Allah. Bila doa kita taklantas dijawab Allah, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah takkan mengabulkan doa kita. Bisa saja Allah senang dan ingin mendengar lebih lama doa-doa yg kita panjatkan. Ditahannya suatu doa bukan berarti itu keadaan yang buruk, karena yang tahu kapan waktu terbaik itu hanyalah Allah. Mungkin kau pernah menghadapi situasi lain, kau meminta A tapi Allah menjawabnya dengan B. Nah apa yang kau pikirkan ketika menghadapi situasi seperti itu? Akankah kau beranggapan buruk lagi? Akankah kau merasa Allah takmengindahkan doamu lagi? Salah, itu salah besar karena,

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah: 216)

Seperti kisah ini: Ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang akan menghadapi sidang skripsi, ada satu hal yang membuat ia resah “ia takut diuji dengan 2 dosen yang menurutnya menyeramkan”. Setiap selesai solat ia selalu berdoa agar tidak diuji mereka, bahkan di setiap keheningan malam ia selalu menyebutkan kedua nama dosen tersebut, memohon agar tidak diuji mereka dan mendapatkan penguji yang baik.
Tahukah kamu apa jawaban Allah dari doa-doanya? Ya, ia diuji dengan 2 dosen yang selalu ia sebutkan namanya dalam doa, dosen yang paling tidak ia harapkan, dosen yang ia takuti. Terkejut, takut, kecewa, resah, semua perasaan bercampur hingga menegangkan dirinya.
Mau tidak mau, setuju tidak setuju, ia harus tetap menghadapi kedua penguji tersebut untuk bisa lulus dalam sidang terakhir. Tidak mungkin kan bila usahanya selama ini luntur hanya karena ketakutannya menghadapi 2 penguji itu? Nah, akhirnya dengan penuh kesungguhan ia berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti sidang skripsi.
Allah-lah yang maha menggerakkan. Semua ketakutannya salah, semua ketakutannya tidak terbukti. Buktinya ketika ia keluar dari ruang sidang, ia ada dalam keadaan baik-baik saja. Tidak kurang satu apa pun, ia masih bisa berdiri tegak dan tersenyum (heheee, lebay). 
Setelah ia ingat-ingat, memang ini adalah jawaban terbaik dari Allah. Dia lupa dengan doanya “Ya Allah siapa pun yang akan menjadi pengujiku di sidang akhir nanti, semoga aku bisa menghadapinya dengan baik”, itulah kelanjutan doa setelah ia memohon agar tidak diuji dengan dosen yang menyeramkan tersebut. Allah tidak pernah salah dan meleset dalam menjawab setiap doa hamba-Nya, Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang menurut hamba-Nya tidak baik, Allah tuntun ia untuk mengubah anggapan itu. Bahkan ketika apa yang ia takuti telah menimpa dirinya, Allah pun dengan senang hati menolongnya.
Manusia, manusia yang seringkali dipenuhi rasa curiga dan buruk sangka. Menilai sesuatu dengan singkat, tanpa mempertimbangkan berbagai sudut. Ia taktahu hakikat sebenarnya, bahwa hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. Apa yang terlihat baik belum tentu baik, dan apa yang terlihat tidak baik belum tentu itu tidak baik. Seperti halnya mahasiswa tadi, ia terburu-buru menilai kedua dosen tersebut menyeramkan hingga ia beranggapan tidak akan bisa menghadapi keduanya. Tapi apa kata Allah? Ya, penilaian ia salah. Justru kedua dosen itulah yang terbaik untuknya.

Nah, sudah bisa dipastikan bukan? kalau diri kita itu selalu saja dipenuhi dengan rasa sok tahu. Terlalu sombong memang selalu memastikan suatu perkara yang belum jelas baik buruknya. Terlalu sombong, lupa akan kelemahan.
Dari kisah itu pun kita bisa mengambil hikmah, bahwa kekuatan doa bisa meluluhkan hati, bisa menguatkan dan menenangkan jiwa, dan tentunya doa adalah senjatanya seorang mukmin (manusia) ketika menghadapi berbagai perkara hidup.
Jadi dahulukanlah doa di setiap usahamu, karena doa adalah pengantar usaha yang setia, karena doa adalah perisai (tameng) yang amat kuat menopang diri yang sangat lemah.
Ringankanlah seluruh masalah hidupmu dengan selalu berdoa kepada Allah. Doa adalah alat komunikasi kita kepada Allah yang Maha Mendengar.

Kalau kita curhat dengan teman kan adakalanya tidak bisa dan teman kita pun tentunya sedang menghapi masalahnya sendiri. Daripada kita menambah beban hidupnya, mending kita curhat sama Allah yang setia dengerin semua cerita kita. Mulai dari yang penting sampe yang ga penting. Allah ga akan pegel dan bosen dengerin curhatan kita, Allah akan selalu ada untuk kita. Terlebih Allah selalu punya jalan keluar terjitu atas setiap permasalahan yang kita punya. Jadi ketika kita dihadapkan dalam suatu urusan, datanglah kepada Allah yang maha memiliki jalan keluar terbaik :)

Nomor satukan hubungan dengan Allah, Insya Allah tidak akan ada lagi permasalahan berat yang kita rasakan. Semua permasalahan hidup kita hadapi dengan ringan, karena kita selalu merasa menghadapinya dengan Allah. So, mulai sekarang jangan galau. Coba kita ubah kata galau itu menjadi kalimat God Always Listening And Understanding.
Kan baik tuh kalau kita selalu melibatkan Allah dalam segala urusan, dijamin deh Allah juga pasti seneng kalau kita selalu melibatkan-Nya.  Jadi balik lagi, intinya adalah "doa”, karena doa adalah komunikasi terbaik kita dengan Allah. Tentu doa yang penuh keyakinan dan persangkaan baik selalu kepada Allah SWT.