Sebenarnya hanya masalah kecil
yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku. Hatiku berontak ketika
mempertanyakan balasan yang baik, hatiku berontak mempertanyakan pengertian,
hatiku berontak ingin menyudahi kelelahan. Ya mungkin ini adalah titik lelahku.
Titik di mana aku lupa kunci hidupku “sabar”. Hatiku begitu saja ditutupi oleh
rasa ingin dimengerti, ingin diperlakukan baik, ingin mendapatkan kesetaraan
sikap. Ya aku lupa, lupa untuk bersabar dan mengembalikan semua harapanku
kepada Sang Pemilik, aku lupa menggantungkan harapanku untuk dimengerti kepada
manusia, padahal aku sudah mencatat besar-besar dalam pikiranku untuk senantiasa
berharap hanya kepada Allah karena takakan mendatangkan kecewa. Ya aku lupa, hatiku
terlalu buta karena ditutupi berbagai pertanyaan gelap mengenai balasan baik
yang harusnya kuterima. Aku mempertanyakan kebaikan. Sungguh perilaku yang memalukan,
malu kepada diri sendiri terlebih malu kepada Allah. Buat apa aku mempertanyakan
kebaikan yang sedikit? Sudahkah perbuatan baikku menutupi perbuatan burukku? Ku
kira belum, ku kira aku masih di dalam rimba keburukan.
Bolehkah kali ini aku mengeluh?
Bolehkah kali ini aku mempertanyaan balasan? Bolehkah aku merasa diperlakukan
tidak adil? Ketika seseorang bersedih mendekat kepadaku dan senang menjauh
dariku, apakah itu perlakuan tidak adil untukku? Ketika aku mendengar kisah
orang lain dan kisahku takdidengar, apakah itu perlakuan tidak adil? Ketika aku
mencoba mengerti orang lain dan aku tak dimengerti olehnya, apakah itu
perlakuan tidak adil? Ketika aku berusaha menghindari perlakuanku yang dapat
menyakiti orang lain tetapi ada perlakuan orang lain yang menyakitiku, apakah
itu perlakuan tidak adil? (Semua itu adalah pertanyaan dalam pikiranku, hingga
menutup pintu batinku. Membuat aku takdapat berpikir jernih. Ya aku lupa, lupa
dengan pegangan hidupku selama ini).
Setelah aku tersadar dari
pikiran burukku, dari pertanyaan-pertanyaan gelapku. Aku menyadari aku sungguh
salah melontarkan semua pertanyaan itu. Jawaban hanya satu, kembalikan kepada
Sang Pemilik. Bila seseorang mendekat kepadaku ketika ia sedang bersedih, dan
menjauh ketika ia senang, bukankah itu berarti aku dapat meringankan beban
seseorang? Bila aku selalu mendengar kisah orang lain dan kisahku takdidengar,
bukankah aku masih punya banyak pendengar yang baik yang dapat mendengar segala
keluh kesahku? Bukankah aku memiliki tempat bercerita yang paling nyaman dan
selalu memberi petunjuk yang benar, iya Allah? Sudahkah aku bercerita segala
keluh kesahku di setiap malam kepada-Nya? Bila aku mencoba mengerti orang lain
bukankah berarti aku selalu memberi, memberi pengertian? Bila aku tidak
dimengerti oleh sesamaku (manusia) bukankah aku punya Allah yang selalu
mengertiku? Ketika aku selalu berusaha berbuat baik untuk menjaga hati orang
lain, bukankah aku selalu bersama Allah yang selalu menjaga hatiku?
Ya, aku takpernah diperlakukan
tidak adil. Pikirankulah yang selalu memperlakukanku dengan tidak adil. Aku selalu
diperlakukan baik oleh Allah, aku takpernah dikecewakan oleh Allah, aku
takpernah ditinggalkan oleh Allah, aku selalu didengar oleh Allah, aku selalu
dimengerti oleh Allah. Allah selalu menjaga hatiku. Allah selalu meringankan
bebanku. Ya, seharusnya aku bersyukur. Allah
tidak serta merta mengirimkan pikiran kepadaku untuk bisa berpikir baik dan
bersyukur. Semua memberikan pemahaman kepadaku hingga aku mengerti untuk selalu
bersabar dan bersyukur. Aku harus segera kembali kepada-Nya. Aku takmau terus
larut dalam pikiranku. Kini aku sudah mengerti maksud dari pikiranku. Aku
semakin sayang kepada Allah.
Berabar, bersyukur, berhusnudzon, dan yang
paling penting selalu ingat dengan Allah.

