CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 07 Desember 2013

Tentang Keinginan dan Waktu



Aku semakin yakin, Allah memang sangat dekat. Allah selalu mendengar kata hatiku. Seringkali aku belum melapalkan keinginanku, namun keinginan itu dengan mudahnya terjawab begitu saja. Aku selalu meragukan angan (keinginan) yang terlalu berlebihan, yang kupikir takkan mungkin terjadi, namun Maha Besar Allah Yang Maha Mengetahui Segala Kebaikan untuk hambanya. Angan (keinginan) yang begitu mustahil di mata manusia, namun bagi Allah itu adalah hal yang mudah selama itu untuk kebaikan hambanya. Bahkan waktu pun telah diatur dengan apik oleh Allah, manusia hanya bisa merencanakan namun Allah-lah yang maha menentukan waktu yang baik. Waktu yang baik untuk hambanya yang baik.

Mungkin terkadang bila angan (keinginan) kita takkunjung terwujud, kita selalu mempertanyakan. Mengapa Allah belum mengabulkan doa kita? Apakah ada yang salah dengan doa yang telah terucap itu? Jawabannya adalah “waktunya belum tepat”. Pengetahuan manusia terbatas, ketika kita menyatakan angan itu sebaiknya segera terwujud, namun benarkah itu akan mendatangkan kebaikan? Bisa jadi bila angan kita cepat-cepat terjawab takkan ada lagi usaha indah untuk pencapaian angan (keinginan) tersebut, alhasil kita akan memperlakukan keinginan yang telah terwujud itu dengan biasa saja tanpa adanya rasa syukur. Yakinlah usaha seberat apa pun takkan mendatangkan kesia-siaan. Semua akan indah pada waktunya, waktu yang telah ditetapkan oleh Maha Pengatur Waktu Yang Maha Baik.

Sabtu, 02 November 2013

Kisah Perjalanan Skripsiku-Dari Fungsi Kalimat sampai Bahasa Kuliner



Mencari dan mendapatkan judul yang tepat untuk tugas akhir di masa kuliah itu memang perkara yang sulit. Ketika ada yang tepat tapi pikiran(otak) takmampu, apa mau dikata harus putar haluan mencari judul yang lain. Biasanya mahasiswa-mahasiswa yang berada dalam fase kebingungan mencari judul untuk tugas akhir (skripsi) menjadi rajin membaca materi, searcing di internet siapa tau ada ide lewat, peka menangkap gejala di sekitar, rajin main ke perpustakaan, dan ada juga yang asik main karena kebingungan harus mencari judul ke mana.
Aku juga mengalami hal seperti itu, mungkin bisa dibilang sekarang aku juga masih ada di fase tersebut. Sebelum tugas akhir itu benar-benar sudah jadi, maka pikiran dan rasa was-was itu masih berputar dalam diri. Terkadang ide datang bertubi-tubi namun aplikasi untuk menjalankan ide itu yang belum ada. Alhasil kebuntuan itu masih tetap ada (baca: belum dapet yang cocok).
Ide pertamaku untuk tugas akhir adalah mengenai “fungsi kalimat objek dan pelengkap”, pikiran itu terlintas saja ingin membandingkan kedua fungsi kalimat tersebut. Padahal dalam kenyataannya aku belum menguasai fungsi kalimat secara keseluruhan (oke, itu hanya ide yang terlintas di bawah tekanan. Karena belum siap ditanya dosen mengenai judul maka hanya itulah yang terlintas) hehee.
Pertanyaan mengenai judul sudah dimulai, maka saatnya aku memikirkan benar-benar mengenai nasibku. Maka mulai saat itu aku lebih rajin membaca dan peka terhadap gejala disekitar. Ide lain pun muncul, ketertarikan akan “Deiksis Waktu”. Jatuh cinta terhadap deiksis mengantarkanku untuk mencari tahu tentang materi tersebut, aku pun menjadi rajin membaca buku yang berhubungan dengan materi tersebut dan mencari tahu apakah materi tersebut sudah ada yang membahas atau belum. Setelah dicari tahu ternyata materi tersebut sudah ada yang membahas, energi untuk mempertahankan ide itu pun menurun. Tapi aku tetap saja merasa masih ada celah untuk membahas materi tersebut.
Karena aku yakin, aku segera bertanya kepada dosen yang bersangkutan mengenai ide tersebut. O..o.. aku malah ditanya balik oleh dosenku, apakah aku sudah membaca disertasi mengenai materi tersebut atau belum? Kamu mau teliti dari segi apa? Masih ada celahkah yang bisa diteliti dari deiksis yang belum dibahas dalam disertasi tersebut? (oke, lagi-lagi aku belum siap untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaa itu). Setelah aku mencari disertasi yang sudah dibukukan mengenai materi tersebut dan tidak dapat. Maka aku menyerah. Walaupun jatuh cinta aku terhadap deiksis sering menimbulkan keinginan untuk mempertahankan ide tersebut.
Aku putar haluan mencari ide lain, aku tertarik dengan makna. Makna yang aku bidik adalah “makna konotasi” yang melibatkan nilai rasa bagaimana suatu kata itu bernilai positif, negatif, atau bahkan bernilai netral. Oke terlihat mudah. Tetttoooot... tidak semudah yang kubayangkan :(. Aku taktahu cara mengetahui suatu makna itu bernilai positif, negatif, atau netral. Bukankah setiap orang punya representasi masing-masing, bisa jadi suatu kata dalam suatu waktu bisa bermakna positif ataupun negatif. Begitu juga bagaimana aku bisa tahu makna dari sebuah kata dalam suatu kelompok? Bukankah itu menyulitkan? Oke, itu baru pikiranku saja. Aku mencari tahu lagi mengenai makna konotasi yang begitu saja menarik perhatianku.
Aku mulai dari satu buku ke buku yang lain, membolak-balik tiap halaman yang menjelaskan makna konotasi dengan saksama (Ehem, ga yakin!). Aku mendapatkan satu pernyataan bahwa telaah makna konotasi itu merupakan telaah historis (waaw, sepertinya aku takmampu meneliti sejauh itu). Tidak, aku harus putar haluan lagi. Tapi ini tinggal hitungan hari sebelum pengumpulan tugas rancangan BAB I skripsiku. Bagaimana ini? (Oke, saat itu kepalaku rasanya berdenyut begitu kuat. Aku pusing, aku takmungkin putar haluan lagi).
Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk melanjutkan pembuatan BAB I mengenai makna konotasi walaupun aku belum tau bagaimana cara pengolahan dan penganalisisan dari data-data yang kudapat. Dengan bermodal Bismillah maka aku dapat menyelesaikan BAB I ku. Oke, bagaimana kelanjutan kisah skripsiku selanjutnya?
Sesuai janji dari dosen yang menugasi pembuatan BAB I, akan ada pengumuman apakah ide-ide kami boleh dilanjutkan atau tidak. Saatnya tiba, aku tegang. Antara harap lanjut dan tidak lanjut. Aku berharap dapat lanjut karena aku taktahu harus putar haluan ke mana lagi, dan aku berharap tidak dapat melanjutkan karena aku taktahu bagaimana pengolahan data-data yang didapat nanti. Satu demi satu judul diumumkan, ketika yang terdengar “lanjut” maka senyum pun terkembang dari empunya judul yang disebutkan, ketika yang terdengar “lanjut bersyarat” maka senyum yang setengah lega terkembang dari empunya judul yang disebutkan, dan ketika yang terdengar “tidak dapat lanjut alias harus putar haluan” maka wajah suram langsung nampak di wajah empunya judul yang disebutkan. Aku senang ketika melihat teman-temanku yang diizinkan lanjut, aku hanya berharap semoga senyum kelegaan itu menular kepadaku. Namun aku menjadi ngeri sendiri ketika yang kudengar takdapat dilanjutkan, aku takut nasibku sama seperti mereka. O,o... hampir semua temanku sudah diumumkan nasibnya, bagaimana dengan nasibku? Hanya tinggal beberapa yang tersisa di meja dosen tapi namaku belum juga dipanggil. Tiga, dua, satu, tidaakkk punyaku tidak ada! ke mana tugasku? Aku yakinkan pada diriku aku taksalah mengumpulkan tugas waktu itu, aku sendiri yang menyerahkan tugasku kepada dosen yang bersangkutan.
Ternyata ada beberapa mahasiswa termasuk aku yang tidak diketahui keberadaan tugasnya, dan tahukah itu apa artinya? Iya, perasaan cemasku diperpanjang :(. Alhasil aku dan teman-teman yang senasib diminta lagi mengumpulkan tugas BAB I tersebut.
Minggu selanjutnya rasa cemas kembali menghinggapiku, karena bila Minggu kemarin nasibku belum diketahui itu berarti Minggu inilah waktunya penentuan nasibku. Oke, aku dipanggil dosen yang bersangkutan untuk mengetahui nasib tugas BAB I ku. Ya, aku boleh lanjut. Alhamdulillh... Mmmm, namun lagi-lagi aku belum yakin dengan judul ini karena kendalanya hanya satu, aku bingung bagaimana cara pengolahan data nanti. Sudah berakhirkah perjalanan skripsiku? Belum, ini hanya sepersekian dari proses panjang yang harus aku lalui untuk menyusun tugas akhir.
Kelanjutan mengenai skripsi ditunda hingga perkuliahan di semester selanjutnya, semester yang mengerikan. Karena di semester itulah aku harus bersungguh-sungguh untuk menentukan nasibku. Aku takmungkin berjalan di tempat untuk menentukan judul, aku juga takmungkin menghentikan langkah hanya karena bingungnya judul.
***
Liburan semester 6 aku isi dengan kuliah liburan atau bahasa kerennya  SAT (Semester Alih Tahun), karena SAT ini mengizinkan pengambilan mata kuliah semester atas yang belum diambil. Aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah apa saja yang ada di semester 7 yang bisa aku ambil agar beban kulian yang harus aku ambil di semester 7 tidak terlalu berat.   
Aku mengira kelas SAT ini tidak akan mengingatkanku akan skripsi, tapi nyatanya selalu ada hal yang mengingatkanku dengan nasibku tersebut. Suatu hari aku mendapatkan tugas dari salah satu dosen SAT untuk menganalisis suatu ragam bahasa, setelah mengumpulkan beberapa topik permasalahan ragam bahasa yang menarik perhatianku, aku putuskan untuk menganalisis ragam bahasa dari sebuah program memasak “Bahasa Kuliner”. Ketika aku mencari buku referensi yang dapat membantu proses analisisku, secara tidak sadar terlontar dari mulutku “Ini jadi bahan skripsi aja deh, analisisnya lebih jelas dari topik BAB I kemarin” (kurang lebih perkataanku seperti itu). setelah tugas dikumpulkan dan presentasi dilaksanakan. Subhanallah, perkataanku menjadi doa dan doaku langsung dijawab. Aku disarankan oleh dosen yang bersangkutan untuk mengangkat topik tugasku menjadi sebuah skripsi.
Antara senang dan bimbang. Ya itulah aku, yang tak bisa menenangkan diri walaupun aku mendapat suatu kabar gembira, tetap saja keraguan menghantui pikiranku. Kalau pikiranku sedang baik maka yang terlintas, apa yang hendak kau cari lagi? Apa kau masih mau berputar-putar pada judul yang belum jelas padahal ada saran menarik dari dosenmu? Apa kau akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja? Ingat, kau tidak banyak waktu untuk memikirkan hal yang belum jelas.
***
Setelah adanya berbagai pertimbangan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil “Ragam Bahasa Kuliner” sebagai bahan skripsiku yang aku angkat di seminar semester 7. Bagaimana kelanjutan kisah perjalanan skripsiku? Apakah sudah sampai di sini? Apakah keraguan tidak mengetuk pikiranku lagi? Kisah apakah yang terjadi setelah keputusan itu diambil? Akan aku lanjutkan dalam tulisanku selanjutnya :).

Rabu, 16 Oktober 2013

Nadzar Adalah Bentuk Syukurku


Mengucapkan syukur (Alhamdulillah) ketika dianugrahi kebaikan ataupun diberikan jalan atas segala keinginan, menurutku itu taksebanding. Maka aku mencari jalan lain yang taksekadar mengucap syukur. Ya, kini aku membiasakan diriku untuk bernadzar ketika aku mempuanyai hajat mengenai sesuatu. Ku tahu hajatku selama ini untuk urusan dunia, namun aku selalu berusaha urusan dunia itu ada di jalan-Nya, jalan kebaikan.

Aku sadar hal itu juga belum sebanding dengan apa yang telah kuterima selama ini, taksebanding dengan segala pertolongan yang telah kuterima, taksebanding dengan kebaikan yang selalu menyertaiku, taksebanding dengan kemudahan yang selalu menemaniku. Allah takpernah meninggalkanku dan juga takpernah lupa denganku. Tapi betapa sombongnya aku, ketika aku melupakan-Nya. Terkadang aku merasa takut ketika menghadapi urusan dunia padahal Allah selalu bersamaku, padahal Allah takpernah meninggalkanku, mengapa aku harus takut?

Terkadang aku merasa bingung, bingung dengan urusan dunia. Kutahu kebingungan itu datangnya dariku, tapi aku selalu terpuruk karenanya. Ketika kebingungan itu datang pasti aku lupa, lupa untuk mengingat-Nya. Begitu sombongnya diriku. Pada akhirnya memang kembali kepada-Nya adalah solusi terbaik, aku selalu meminta pertolongan kepada-Nya untuk menyembuhi penyakit yang telah kutanam sendiri. Ya kutahu, itu bisa dibilang egois. Siapa yang menabur penyakit, siapa yang mengobati.

Kembali lagi kepada bentuk rasa syukurku. Aku taktahu bentuk rasa syukurku dengan bernadzar ini akan diterima atau tidak, namun hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Aku meyakini niatku ini tulus, niatku ini hanya karena-Nya. Walaupun mengucap rasa syukur dan bernadzar takdapat mengimbangi kebaikan-Nya. Namun itulah yang kupelihara saat ini. 

(Nhaya_ mencari jalan lain yang taksekadar mengucap syukur)

Dua Hari dalam Penjagaan Allah, Dua Hari dalam Petualangan Seru


Malu bertanya sesat di jalan. Sudah tentu kalimat itu takasing lagi bagi kita. Tak ada yang salah dengan kalimat itu, namun bila sudah bertanya tetap tersesat bagaimana ceritanya? Aneh memang. Kini tulisanku akan kuawali dengan cerita perjalanan seru dan pada akhirnya mengantarkanku dan rekanku menjelajahi sisi Bandung yang lain, sisi yang belum pernah kami langkahi. Semua mengantarkanku pada ilmu kehidupan yang takmungkin kudapatkan di tempat lain, pengetahuan berharga yang didapat di antara kesulitan-kesulitan.

Niat baik memang selalu diantarkan dengan kemudahan. Tanggal 29 Juli 2009 tepat di bulan Ramadhan aku dan rekanku Rere bermaksud ingin mengikuti itikaf di Mesji Habiburrahman. Dengan bermodal nekad dan tanpa pengalaman sebelumnya kami memantapkan hati untuk dapat merealisasikan niat kami. Bertanya. Ya langkah pertama kami sebelum pergi adalah bertanya, bertanya mengenai seluk-beluk tempat yang belum pernah kami datangi. Hasilnya “peta perjalanan pertama”. Membaca peta perjalanan yang di dapat dari seorang teman dengan penuh kesungguhan. Yakin kami taksalah membaca peta jawaban itu, namun keyakinan itu luntur karena kami tersesat. Setelah bertanya kesana-kemari ternyata jalan yang telah kami tempuh adalah jalan yang berlawanan dengan arah yang seharusnya kami tuju. Peta perjalanan yang kami dapatkan telah menyesatkan kami bukan karena salah petunjuk melainkan salah membaca peta, alhasil langkah yang harus kami tempuh selanjutnya tetap bertanya. Bertanya kepada orang sekitar.

Lelah memang kami rasakan setelah menempuh perjalannan yang cukup jauh, namun pada akhirnya kelelahan itu terbayar saat pertama kali mata ini memandang Masjid Habiburrahman yang berdiri kokoh dan diisi oleh orang-orang soleh yang hilir mudik di pelataran masjid, dari anak-anak hingga orang tua. Banyak pula yang mendirikan tenda-tenda untuk tempat mereka beristirahan  sangat terlihat kesungguhan mereka untuk bersama Allah. Bergetar rasanya hati ini saat menyaksikan semangat mereka untuk meluangkan waktunya bersama Allah (meluangkan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan sementara melupakan urusan dunia). Pemandangan indah pertama yang membuatku terpaku dan mengucap syukur.

Dalam penjagaan Allah ini, sementara kami lupakan urusan dunia, melupakan juga pengalaman yang baru saja kami alami.

Kebingungan ternyata belum usai, kami dihinggapi kebingungan kembali  saat pertama kali sampai di Masjid Habiburrahman. Kami taktahu jalan mana yang harus kami ambil untuk masuk ke dalam masjid, kami taktahu tempat mana yang dikhususkan untuk wanita (akhwat) dan tempat mana yang dikhususkan untuk laki-laki (ikhwan). Alhasil dengan bermodal kebingungan, kami mengelilingi mesjid, tapi takapa karena dengan itu kami tahu bagaimana situasi masjid ini secara keseluruhan. Bertanya, ya bertanya memang solusi terbaiknya.
***

Sujud pertamaku dalam solat Ashar mengawali kegiatanku untuk bersama Allah, merasakan kedekatan-Nya, memanfaatkan waktu untuk bersama-Nya. Ketenangan yang kurasakan saat berada di dalam bumi Allah takdapat kujabarkan secara jelas, hati ini merasakan kebahagiaan yang sungguh menenangkan. Kebahagiaan saat merasakan kedekatan dengan Allah (memang benar Allah akan bersama kita apabila kita selalu mengingat-Nya), merasakan kebersamaan dengan Allah saat selalu mengingat-Nya.

Aku awali dengan mengenali sekitar, mengenali keadaan. Memperhatikan sekeliling, memperhatikan wajah-wajah penuh kesungguhan, wajah-wajah penuh pengabdian, wajah-wajah semangat beribadah, wajah-wajah teduh dan bahagia saat bersama dengan Allah. Semakin bergetarlah hati ini setelah mengenali keadaan sekitar, semakin merasa malu kepada diri sendiri terutama kepada Allah yang telah memberikan berbagai kemudahan dan pertolongan, sedangkan diri ini masih terpedaya kebahagiaan dunia yang sesaat dan sering melupakan kewajiban. Malu rasanya melihat semangat anak-anak dan orang tua yang semangat menjalankan Itikaf, kemana saja diri ini hingga begitu lupa? Ke mana saja tahun-tahun sebelumnya hingga aku tak menyempatkan waktu?

Aku takmau menyia-nyiakan kesempatan ini. Allah telah memanggilku ke tempat tersebut, Allah telah mengundangku untuk lebih dekat dengan-Nya. Kupastikan Allah tidak begitu saja mengundangku ke tempat tersebut, melainkan Allah telah memiliki rencana yang indah untukku.

Hatiku bergetar saat pertama kali berjamaah Magrib di mesjid ini. Hatiku luluh, kesombonganku bertekuk lutut, kebingunganku dan kecemasanku perlahan pergi, aku menuju ketenangan bersama-Nya. Ayat demi ayat kudengarkan dengan sungguh-sungguh, setiap gerakan membuatku semakin luluh. Betapa banyak kelalaian yang telah kuperbuat, betapa banyak perilaku yang takberdasar dengan aturan. Diri ini terlalu sombong dalam menjalani kehidupan dunia, seakan-akan hidup untuk selamanya tak ingat ada kehidupan sesungguhnya kelak.

Sudah puaskah aku dengan amal yang telah kuperbuat, padahal amal itu amal kecil yang aku sombongkan? Tidakkah aku berpikir amal itu semakin lama akan semakin pudar dengan kesombonganku? Tidakkah aku berpikir catatan itu akan ditutupi oleh kelalaian yang terlalu banyak aku perbuat? Tidakkah aku berpikir timbangan kelalaian itu akan mengalahkan timbangan kebaikan yang telah kuperbuat? Astagfirullah, cepat-cepat aku menghapus pikiran itu, aku percaya dengan Allah yang Maha Pengampun. Ketika aku tersadar dengan kesalahanku, maka aku meminta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku yakin Allah akan mengampuni kesalahanku.

Aku merasakan semangat beribadah di tempat ini, bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bersemangat untuk senantiasa bersama Allah. Setiap datangnya waktu solat aku sudah bersiap menantinya, aku senang karena aku dapat berjamaah di setiap waktu solat. Aku juga senang dapat merasakan dan mengalami solat malam (Qiamulail) berjamaah dengan bacaan 3 juz (1 juz untuk solat tarawih dan 2 juz untuk solat tahajud) setiap malam. Terasa pegal itu pasti, namun ketika hati ini ikhlas untuk melaksanakannya maka hal itu menjadi perhatian terakhirku. Karena yang menjadi perhatianku saat itu adalah memanfaatkan waktu yang ku punya untuk  bersama dengan Allah, berdekatan dengan Allah, dan berdialog lebih dekat dengan Allah.

Lantunan surat di setiap rokaat dalam Qiyamulail itu tidak membuatku ingin terburu-buru menyudahi solat, karena lantunannya yang merdu membuatku rela berlama-lama berdiri. Ada satu hal yang selalu menggetarkan hatiku hingga air mata ini terjatuh yaitu pada saat doa yang dilantunkan imam pada saat solat malam. Aku takmengerti arti dari doa yang dibacakan, tapi aku tahu itu adalah doa kebaikan dan yang paling membuatku merinding dan takut adalah ketika aku mendengar nama neraka atau pun surga di antara doa-doa tersebut. Tempat manakah yang layak untukku? Aku takut akan neraka, tapi sudah banyakkah bekalku untuk sampai ke surga?
***

Ada pemandangan lain yang menarik perhatianku. Pemandangan pertama itu adalah sebuah keluarga yang hendak berbuka, kalau perkiraanku tidak meleset, keluarga itu terdiri dari ibu dan ketiga anaknya (2 anak perempuan dan satu anak laki-laki) sepertinya anak laki-lakinya itu adalah anak terakhir, mata ini begitu saja memperhatikan kerukunan keluarga tersebut, saat sang ibu menyuruh anak laki-lakinya untuk memimpin doa. Aku pastikan ibu itu sengaja menanamkan sifat pemimpin pada anak laki-lakinya karena kelak ia akan menjadi pemimpin. 

Takhanya mereka yang menjadi pusat perhatianku melainkan perhatianku begitu saja tertuju pada pasangan-pasangan muda, rasanya diri ini iri melihatnya. Anganku pun melayang saat memperhatikan mereka, anganku untuk merasakan itikaf bersama pasanganku kelak. Rasanya aku akan sangat terharu saat pasanganku kelak mengajakku untuk Itikaf, mengajakku dan membimbingku untuk bersama-sama dekat dengan Allah. Baik sebelum mendapat titipan dari Allah maupun setelah mendapatkannya. (Aishhh, anganku berlebihan). Aku hanya berharap siapa pun kelak yang Allah tunjuk untuk menjadi imamku, itu adalah yang terbaik. 

Perhatian keduaku tertuju pada ibu cantik yang sepertinya keturunan Arab, ibu cantik itu selalu terlihat anggun di mataku, ia selalu menggunakan pakaian kurung (gamis) longgar yang indah dan dipadukan dengan kerudung yang serasi. Cantik dan anggun paduan yang menyejukkan. Berdasar pengamatanku ia pergi bersama suaminya dan ketiga anaknya yang masih kecil. Senang rasanya ketika memperhatikan kerukunan dan kedekatan mereka. Damai rasanya memperhatikannya, sebuah didikan yang baik. Menanamkan anak yang masih kecil untuk beribadah kepada Allah, mereka diperlihatkan orang-orang soleh yang bisa mereka jadikan contoh.

Perhatian selanjutnya masih terhadap pasangan muda, aku memperhatikan salah satu suami dari pasangan muda sedang memastikan keadaan anak dan istrinya apakah mereka mendapatkan tempat yang layak atau tidak untuk beristirahat, dan memastikan mereka agar tidak kedinginan. Aku perhatikan saat laki-laki muda itu menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya yang sedang tidur. Setelah ia memastikan keluarganya aman, ia pun kembali ke tempat istirahatnya yaitu tempat khusus untuk laki-laki.

Ada juga pasangan muda yang berhasil menarik perhatianku hingga aku taksegan untuk memandangnya, pasangan muda yang sedang bergantian mengurus dan menjaga anaknya. Karena aku paling senang melihat seorang lelaki yang senang bermain dengan anak kecil, maka aku perhatikanlah mereka (semoga tingkahku itu tidak ketahuan). Dalam pikiranku sejak dulu, bila seorang lelaki senang (sayang) dengan anak kecil, maka bisa dipastikan dan tidak diragukan lagi ia akan sayang dengan anaknya. Lelaki yang aku perhatikan tersebut dengan sabar menjaga anak-anaknya sampai istrinya kembali, istrinya bukan melarikan diri tapi jika tidak salah aku perhatikan istrinya sedang melaksanakan solat.

Selain itu aku juga tidak sengaja mendengar dialog antara istri dan suami yang sedang sama-sama melaksanakan Itikaf di sana. Mereka berdialog untuk membagi tugas, istrinya akan menjaga anak-anak mereka dan menunggu suaminya berjamaah solat, setelah itu suaminyalah yang akan menjaga anak-anaka mereka selama istrinya solat. Sebuah pembagian yang indah, tersenyum aku setelah mendengar dialog tersebut.

Banyak pasangan muda yang menjadi pusat perhatianku di sana. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku, pikiranku begitu saja tertuju pada ibu muda yang memiliki perawakan mungil yang sejak awal memiliki tempat istirahat disebelahku. Saat pertama kali memperhatikan wajahnya, wajahnya terlihat teduh namun sendu. Matanya menceritakan sesuatu, matanya melukiskan duka yang teramat dalam. Walau matanya menceritakan sesuatu, tapi ibu mungil itu selalu tersenyum kepada semua orang yang berpapasan dengannya. Sayang, aku takmemiliki kemampuan untuk membaca hati seseorang. Benarkah prediksiku kala itu?  

Dari sekian banyak pasangan muda yang kutemui, kali ini aku tidak melihat pasangan dari ibu muda tersebut, kemanakah suaminya? Apakah ia datang hanya dengan kedua anaknya saja? Itulah pertanyaan pertamaku. Aku belum puas membaca sekitarku, maka kala itu perhatianku pun terpusat pada ibu mungil itu. kuperhatikan caranya memperlakukan anak-anaknya, ibu itu tidak pernah terlihat gusar ketika menghadapi anaknya yang sedang menangis. Ia selalu menyempatkan waktu untuk beribadah. Disaat anak-anaknya tertidur selalu kuperhatikan ia sedang tadarus. Bahkan ketika ia sedang menyusui anaknya pun ia sempatkan untuk tadarus. Bergetar hatiku memperhatikannya. Walaupun terlihat lelah, ibu muda itu selalu sabar menghadapi anak-anaknya, dengan telaten mengurus dan menjaga anaknya. Kemanakah suaminya? Mengapa ia tidak berbagi kewajiban dengan suaminya?

Ingin rasanya aku menggantikan sejenak untuk menjaga anak-anaknya, selama ia beristirahat. Aku terlalu kaku untuk masalah ini, aku bingung untuk memulai, aku ingin dekat dengan ibu dan anak itu tapi aku bukan orang yang bisa berbasa-basi ketika pertama kali bertemu. Alhasil aku hanya bisa memperhatikan mereka.

Suatu siang aku memperhatikan pemandangan indah, aku melihat anak-anak dari ibu itu sedang asik main berdua. Ibunya yang duduk disebelahku pun asik mengabadikan kejadian itu sambil sesekali tersenyum dan tertawa. Senang rasanya melihatnya tertawa. Tapi malamnya saat aku berjamaah solat malam, takbiasanya aku mendengar anak pertama ibu muda itu menagis. Aku baru pertama kali mendengar anak pertamanya menangis, karna yang kutahu walaupun anak itu masih kecil, tapi anak itu sudah mengerti membagi perhatian ibunya dengan adiknya. Taklama adiknya pun menagis. Aku pun jadi gusar, pasti ada sesuatu hal terjadi pada anaknya. Aku ingin tahu, tapi pantaskah bila aku bertanya?

Aku ingin bergerak membantunya, tapi apakah aku bisa menenangkan anak-anaknya yang sedang menangis? Aku takut bila aku mendekati mereka, mereka bukannya berhenti menangis melainkan merasa terganggu dengan kehadiranku. Akhirnya aku hanya bisa meneruskan Qiamulailku dan berdoa untuk kebaikan mereka, ya hanya itu yang bisa aku perbuat saat itu. setelah selesai solat aku pun kembali ke tempat istirahatku di sebelah ibu muda itu, seperti biasanya aku takbisa menggerakan bibirku lagi untuk bertanya kepadanya. Aku terlalu takut ikut campur terhadap permasalahan orang lain. Aku sedikit tenang ketika melihat kedua anaknya sudah tertidur kembali, tapi kini aku melihat sorot matanya lebih tajam menceritakan duka, ada bekas air mata dipelupuk matanya. Menangiskah ibu muda itu? Ya Allah begitu beratkah bebannya? Ringankanlah, sabarkanlah, mudahkanlah ia untuk mengatasi segala beban hidupnya.

Saat aku masih tertidur, tidak sengaja aku mendengar ibu muda itu sedang berbicara dengan seorang perempuan muda yang sepertinya seumuran dengannya. Aku taktahu dia siapa, tapi aku bersyukur ada dia yang isa dijadikan tempat berbagi ibu muda itu. aku takbisa melanjutkan tidurku, aku begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada ibu muda itu, aku pura-pura tidur padahal aku terjaga untuk mendengarkan kisahnya. Aku mendengar penyakit anak pertamanya kambuh, ada gangguan salah satu telinga anaknya. Ternyata itu yang menyebabkan anak pertamanya menangis. Kudengar pula anak keduanya pun sedang sakit, tadi malam anak keduanya muntah setelah disusui. Hatiku semakin berontak, perih. Sudah kupastikan pastilah itu yang membuat ibu muda itu mengeluarkan air mata, ia merasakan juga sakit yang diderita anak-anaknya. Aku penasaran dengan keberadaan suaminya.

Takberapa lama ada perempuan muda lain datang mendekati ibu itu, takbegitu jelas apa yang dimaksud dari pembicaraan mereka. Aku hanya dapat menerka-nerka dari pembicaraan mereka, ibu muda itu sedang menghadapi permasalahan dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Sepertinya masalah yang sedang dihadapi cukup berat, hingga membuat ibu muda itu sungkan untuk meminta bantuan kepada keluarganya sendiri.  

Perempuan muda itu meyarankan agar anaknya segera dibawa ke dokter melihat keadaannya yang mengkhawatirkan, tapi sepertinya masih ada yang dipikirkan oleh ibu muda itu karna ia tidak langsung mengikuti saran tersebut. Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapinya? Masalah ekonomikah yang sedang dihadapinya? Anganku kembali hadir, andai aku punya banyak uang akan kubawa anak-anaknya ke dokter.
***

Sayang, hari itu adalah hari terkhirku mengikuti Itikaf di masjid Habiburahman. Padahal aku ingin memastikan keadaan ibu muda dan anak-anaknya baik-baik saja dan memastikan mereka bisa keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi. Aku begitu berat meninggalkan masjid Habiburahman, aku berat meninggalkan tempat yang telah memberikan ketenangan untukku selama dua hari ini. Aku juga berat meninggalkan ibu muda dan anak-anaknya, walaupun aku takdapat meringankan mereka tapi aku ingin memperhatikan keadaan mereka. Walaupun kami hanya berinteraksi sekadarnya, tapi sebenarnya aku ingin dekat dengannya. 

Berat kaki ini melangkah untuk menyudahi Itikaf tersebut, aku takut tidak akan mendapatkan ketenangan seperti yang kudapatkan di sana. Aku takut. Aku masih ingin berlama-lama dengan Allah, aku ingin merasakan kedekatan dengan-Nya seperti yang kurasakan selama dua hari ini. Cepat-cepat aku tepis kegusaranku, bukankah Allah akan bersama kita bila kita selalu merasakan kebersamaan dengan-Nya? Aku harus selalu ingat Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. Ada doa yang menyertai kepulanganku, aku berdoa agar diberi kesempatan lagi untuk menjumpai rumah Allah dan bisa kembali meninggalkan urusan dunia dan meluangkan waktu hanya untuk beribadah kepada Allah dan aku berdoa untuk kebaikan ibu muda dan anak-anaknya yang telah memberikan pelajaran berharga untukku agar Allah sellau melindungi mereka dan meringankan serta mengangkat permasalahn yang sedang mereka hadapi. Semoga segala kebaikan sellau bersama mereka.
***

Kembali menghadapi perjalanan, kembali pula kami dihinggapi kebingungan. Aku takmau soktahu lagi soal jalan yang tidak aku tahu, aku memutuskan untuk bertanya kepada sopir angkot yang sedang aku naiki. Aku menanyakan jalan mana yang harus kami tempuh agar sampai ke pangkalan Damri yang akan mengantarkan kami ke Jatinangor. Akhirnya kami ditunjuki selanjutnya angkot mana yang sebaiknya kami naiki agar sampai ke tempat yang kami tuju. Karna aku percaya terhadap pengalaman abang sopir yang pastinya tahu jalan, maka kami menurut. Tapi sebelumnya aku memastikan lagi agar taksalah jalan aku tanyakan kembali ke sopir apakah benar angkot itu akan sampai ke pangkalan damri yang kami maksud, abang angkot tersebut berkata iya. Akhirnya kami naik.

Setelah angkot melaju jauh, kami merasakan ada yang aneh dengan jalan yang dilewati. Kami rasa jalan pergi yang kami tempuh tidak sejauh jalan pulang. Kami takmengenali jalan yang dilalui angkot tersebut. Perasaan khawatir kembali menghinggapi kami, apakah kami tersesat lagi? Kami berusaha sabar, mungkin jalan pulangnya sedikit berpitar sehingga nampak jauh. Tapi tidak, sepertinya ini salah. Takada pasar yang kami lewati saat perjalanan pergi, tidak mungkin angkot ini berputar begitu jauh. Kami ketakutan. Pada akhirnya ada satu tempat yang kami kenali yaitu pasar baru, tapi tidak mengurangi kekhawatiran kami karena kami pun tidak tahu akses untuk sampai ke Jatinangor. Aku semakin gusar menghadapi jalan yang semakin tak kukenali. Namun pada akhirnya aku menyadari keberadaan damri yang sedang berhenti di pinggir jalan, tapi itu bukan damri jatinangor itu damri Tanjung Sari, sebentar bukankah sebelum Tanjung Sari itu Jatinangor? Aku segera memastikan keraguanku, aku masih berani bertanya walaupun sudah beberapa kali aku bertanya tetap menyesatkan. Aku bertanya kepada ibu-ibu yang juga penumpang angkot tersebut, apakah aku bisa sampai ke Jatinangor bila naik damri tersebut. Alhamdulillah ternyata bisa, aku dan temanku segera mengejar damri tersebut. kami sudah lelah, kami ingin cepat-cepat sampai ke Jatinagor.
***

Dua hari dalam penjagaan Allah, dua hari dalam petualangan seru ini telah memberikan banyak pelajaran berharga untuk aku dan temanku.

Jelajah Masjid_Jejak Pertama