Malu bertanya sesat di
jalan. Sudah tentu kalimat itu takasing lagi bagi kita. Tak ada yang salah
dengan kalimat itu, namun bila sudah bertanya tetap tersesat bagaimana
ceritanya? Aneh memang. Kini tulisanku akan kuawali dengan cerita perjalanan
seru dan pada akhirnya mengantarkanku dan rekanku menjelajahi sisi Bandung yang
lain, sisi yang belum pernah kami langkahi. Semua mengantarkanku pada ilmu
kehidupan yang takmungkin kudapatkan di tempat lain, pengetahuan berharga yang
didapat di antara kesulitan-kesulitan.
Niat baik memang selalu
diantarkan dengan kemudahan. Tanggal 29 Juli 2009 tepat di bulan Ramadhan aku
dan rekanku Rere bermaksud ingin mengikuti itikaf di Mesji Habiburrahman.
Dengan bermodal nekad dan tanpa pengalaman sebelumnya kami memantapkan hati
untuk dapat merealisasikan niat kami. Bertanya. Ya langkah pertama kami sebelum
pergi adalah bertanya, bertanya mengenai seluk-beluk tempat yang belum pernah
kami datangi. Hasilnya “peta perjalanan pertama”. Membaca peta perjalanan yang
di dapat dari seorang teman dengan penuh kesungguhan. Yakin kami taksalah
membaca peta jawaban itu, namun keyakinan itu luntur karena kami tersesat.
Setelah bertanya kesana-kemari ternyata jalan yang telah kami tempuh adalah
jalan yang berlawanan dengan arah yang seharusnya kami tuju. Peta perjalanan
yang kami dapatkan telah menyesatkan kami bukan karena salah petunjuk melainkan
salah membaca peta, alhasil langkah yang harus kami tempuh selanjutnya tetap
bertanya. Bertanya kepada orang sekitar.
Lelah memang kami
rasakan setelah menempuh perjalannan yang cukup jauh, namun pada akhirnya
kelelahan itu terbayar saat pertama kali mata ini memandang Masjid
Habiburrahman yang berdiri kokoh dan diisi oleh orang-orang soleh yang hilir
mudik di pelataran masjid, dari anak-anak hingga orang tua. Banyak pula yang
mendirikan tenda-tenda untuk tempat mereka beristirahan sangat terlihat kesungguhan mereka untuk
bersama Allah. Bergetar rasanya hati ini saat menyaksikan semangat mereka untuk
meluangkan waktunya bersama Allah (meluangkan waktunya untuk senantiasa
beribadah kepada Allah dan sementara melupakan urusan dunia). Pemandangan indah pertama yang membuatku
terpaku dan mengucap syukur.
Dalam penjagaan Allah
ini, sementara kami lupakan urusan dunia, melupakan juga pengalaman yang baru saja
kami alami.
Kebingungan ternyata belum
usai, kami dihinggapi kebingungan kembali
saat pertama kali sampai di Masjid Habiburrahman. Kami taktahu jalan
mana yang harus kami ambil untuk masuk ke dalam masjid, kami taktahu tempat
mana yang dikhususkan untuk wanita (akhwat) dan tempat mana yang dikhususkan
untuk laki-laki (ikhwan). Alhasil dengan bermodal kebingungan, kami
mengelilingi mesjid, tapi takapa karena dengan itu kami tahu bagaimana situasi
masjid ini secara keseluruhan. Bertanya, ya bertanya memang solusi terbaiknya.
***
Sujud pertamaku dalam
solat Ashar mengawali kegiatanku untuk bersama Allah, merasakan kedekatan-Nya,
memanfaatkan waktu untuk bersama-Nya. Ketenangan yang kurasakan saat berada di
dalam bumi Allah takdapat kujabarkan secara jelas, hati ini merasakan
kebahagiaan yang sungguh menenangkan. Kebahagiaan saat merasakan kedekatan
dengan Allah (memang benar Allah akan bersama kita apabila kita selalu
mengingat-Nya), merasakan kebersamaan
dengan Allah saat selalu mengingat-Nya.
Aku awali dengan
mengenali sekitar, mengenali keadaan. Memperhatikan sekeliling, memperhatikan
wajah-wajah penuh kesungguhan, wajah-wajah penuh pengabdian, wajah-wajah
semangat beribadah, wajah-wajah teduh dan bahagia saat bersama dengan Allah.
Semakin bergetarlah hati ini setelah mengenali keadaan sekitar, semakin merasa
malu kepada diri sendiri terutama kepada Allah yang telah memberikan berbagai
kemudahan dan pertolongan, sedangkan diri ini masih terpedaya kebahagiaan dunia
yang sesaat dan sering melupakan kewajiban. Malu rasanya melihat semangat
anak-anak dan orang tua yang semangat menjalankan Itikaf, kemana saja diri ini
hingga begitu lupa? Ke mana saja tahun-tahun sebelumnya hingga aku tak
menyempatkan waktu?
Aku takmau
menyia-nyiakan kesempatan ini. Allah telah memanggilku ke tempat tersebut,
Allah telah mengundangku untuk lebih dekat dengan-Nya. Kupastikan Allah tidak
begitu saja mengundangku ke tempat tersebut, melainkan Allah telah memiliki
rencana yang indah untukku.
Hatiku bergetar saat
pertama kali berjamaah Magrib di mesjid ini. Hatiku luluh, kesombonganku
bertekuk lutut, kebingunganku dan kecemasanku perlahan pergi, aku menuju
ketenangan bersama-Nya. Ayat demi ayat kudengarkan dengan sungguh-sungguh,
setiap gerakan membuatku semakin luluh. Betapa banyak kelalaian yang telah
kuperbuat, betapa banyak perilaku yang takberdasar dengan aturan. Diri ini
terlalu sombong dalam menjalani kehidupan dunia, seakan-akan hidup untuk
selamanya tak ingat ada kehidupan sesungguhnya kelak.
Sudah puaskah aku
dengan amal yang telah kuperbuat, padahal amal itu amal kecil yang aku
sombongkan? Tidakkah aku berpikir amal itu semakin lama akan semakin pudar
dengan kesombonganku? Tidakkah aku berpikir catatan itu akan ditutupi oleh
kelalaian yang terlalu banyak aku perbuat? Tidakkah aku berpikir timbangan
kelalaian itu akan mengalahkan timbangan kebaikan yang telah kuperbuat?
Astagfirullah, cepat-cepat aku menghapus pikiran itu, aku percaya dengan Allah
yang Maha Pengampun. Ketika aku tersadar dengan kesalahanku, maka aku meminta
ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku yakin Allah akan
mengampuni kesalahanku.
Aku merasakan semangat
beribadah di tempat ini, bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,
bersemangat untuk senantiasa bersama Allah. Setiap datangnya waktu solat aku
sudah bersiap menantinya, aku senang karena aku dapat berjamaah di setiap waktu
solat. Aku juga senang dapat merasakan dan mengalami solat malam (Qiamulail)
berjamaah dengan bacaan 3 juz (1 juz untuk solat tarawih dan 2 juz untuk solat
tahajud) setiap malam. Terasa pegal itu pasti, namun ketika hati ini ikhlas
untuk melaksanakannya maka hal itu menjadi perhatian terakhirku. Karena yang
menjadi perhatianku saat itu adalah memanfaatkan waktu yang ku punya untuk bersama dengan Allah, berdekatan dengan
Allah, dan berdialog lebih dekat dengan Allah.
Lantunan surat di
setiap rokaat dalam Qiyamulail itu tidak membuatku ingin terburu-buru menyudahi
solat, karena lantunannya yang merdu membuatku rela berlama-lama berdiri. Ada
satu hal yang selalu menggetarkan hatiku hingga air mata ini terjatuh yaitu
pada saat doa yang dilantunkan imam pada saat solat malam. Aku takmengerti arti
dari doa yang dibacakan, tapi aku tahu itu adalah doa kebaikan dan yang paling
membuatku merinding dan takut adalah ketika aku mendengar nama neraka atau pun
surga di antara doa-doa tersebut. Tempat manakah yang layak untukku? Aku takut
akan neraka, tapi sudah banyakkah bekalku untuk sampai ke surga?
***
Ada pemandangan lain
yang menarik perhatianku. Pemandangan pertama itu adalah sebuah keluarga yang
hendak berbuka, kalau perkiraanku tidak meleset, keluarga itu terdiri dari ibu
dan ketiga anaknya (2 anak perempuan dan satu anak laki-laki) sepertinya anak
laki-lakinya itu adalah anak terakhir, mata ini begitu saja memperhatikan
kerukunan keluarga tersebut, saat sang ibu menyuruh anak laki-lakinya untuk
memimpin doa. Aku pastikan ibu itu sengaja menanamkan sifat pemimpin pada anak
laki-lakinya karena kelak ia akan menjadi pemimpin.
Takhanya mereka yang
menjadi pusat perhatianku melainkan perhatianku begitu saja tertuju pada
pasangan-pasangan muda, rasanya diri ini iri melihatnya. Anganku pun melayang
saat memperhatikan mereka, anganku untuk merasakan itikaf bersama pasanganku
kelak. Rasanya aku akan sangat terharu saat pasanganku kelak mengajakku untuk
Itikaf, mengajakku dan membimbingku untuk bersama-sama dekat dengan Allah. Baik
sebelum mendapat titipan dari Allah maupun setelah mendapatkannya. (Aishhh,
anganku berlebihan). Aku hanya berharap siapa pun kelak yang Allah tunjuk untuk
menjadi imamku, itu adalah yang terbaik.
Perhatian keduaku tertuju
pada ibu cantik yang sepertinya keturunan Arab, ibu cantik itu selalu terlihat
anggun di mataku, ia selalu menggunakan pakaian kurung (gamis) longgar yang
indah dan dipadukan dengan kerudung yang serasi. Cantik dan anggun paduan yang
menyejukkan. Berdasar pengamatanku ia pergi bersama suaminya dan ketiga anaknya
yang masih kecil. Senang rasanya ketika memperhatikan kerukunan dan kedekatan
mereka. Damai rasanya memperhatikannya, sebuah didikan yang baik. Menanamkan
anak yang masih kecil untuk beribadah kepada Allah, mereka diperlihatkan
orang-orang soleh yang bisa mereka jadikan contoh.
Perhatian selanjutnya
masih terhadap pasangan muda, aku memperhatikan salah satu suami dari pasangan
muda sedang memastikan keadaan anak dan istrinya apakah mereka mendapatkan
tempat yang layak atau tidak untuk beristirahat, dan memastikan mereka agar
tidak kedinginan. Aku perhatikan saat laki-laki muda itu menarik selimut untuk
menutupi tubuh anaknya yang sedang tidur. Setelah ia memastikan keluarganya
aman, ia pun kembali ke tempat istirahatnya yaitu tempat khusus untuk
laki-laki.
Ada juga pasangan muda
yang berhasil menarik perhatianku hingga aku taksegan untuk memandangnya,
pasangan muda yang sedang bergantian mengurus dan menjaga anaknya. Karena aku
paling senang melihat seorang lelaki yang senang bermain dengan anak kecil,
maka aku perhatikanlah mereka (semoga tingkahku itu tidak ketahuan). Dalam
pikiranku sejak dulu, bila seorang lelaki senang (sayang) dengan anak kecil,
maka bisa dipastikan dan tidak diragukan lagi ia akan sayang dengan anaknya.
Lelaki yang aku perhatikan tersebut dengan sabar menjaga anak-anaknya sampai
istrinya kembali, istrinya bukan melarikan diri tapi jika tidak salah aku
perhatikan istrinya sedang melaksanakan solat.
Selain itu aku juga
tidak sengaja mendengar dialog antara istri dan suami yang sedang sama-sama
melaksanakan Itikaf di sana. Mereka berdialog untuk membagi tugas, istrinya
akan menjaga anak-anak mereka dan menunggu suaminya berjamaah solat, setelah
itu suaminyalah yang akan menjaga anak-anaka mereka selama istrinya solat.
Sebuah pembagian yang indah, tersenyum aku setelah mendengar dialog tersebut.
Banyak pasangan muda
yang menjadi pusat perhatianku di sana. Tapi ada satu hal yang mengganggu
pikiranku, pikiranku begitu saja tertuju pada ibu muda yang memiliki perawakan
mungil yang sejak awal memiliki tempat istirahat disebelahku. Saat pertama kali
memperhatikan wajahnya, wajahnya terlihat teduh namun sendu. Matanya
menceritakan sesuatu, matanya melukiskan duka yang teramat dalam. Walau matanya
menceritakan sesuatu, tapi ibu mungil itu selalu tersenyum kepada semua orang
yang berpapasan dengannya. Sayang, aku takmemiliki kemampuan untuk membaca hati
seseorang. Benarkah prediksiku kala itu?
Dari sekian banyak
pasangan muda yang kutemui, kali ini aku tidak melihat pasangan dari ibu muda
tersebut, kemanakah suaminya? Apakah ia datang hanya dengan kedua anaknya saja?
Itulah pertanyaan pertamaku. Aku belum puas membaca sekitarku, maka kala itu
perhatianku pun terpusat pada ibu mungil itu. kuperhatikan caranya
memperlakukan anak-anaknya, ibu itu tidak pernah terlihat gusar ketika
menghadapi anaknya yang sedang menangis. Ia selalu menyempatkan waktu untuk
beribadah. Disaat anak-anaknya tertidur selalu kuperhatikan ia sedang tadarus.
Bahkan ketika ia sedang menyusui anaknya pun ia sempatkan untuk tadarus.
Bergetar hatiku memperhatikannya. Walaupun terlihat lelah, ibu muda itu selalu
sabar menghadapi anak-anaknya, dengan telaten mengurus dan menjaga anaknya.
Kemanakah suaminya? Mengapa ia tidak berbagi kewajiban dengan suaminya?
Ingin rasanya aku
menggantikan sejenak untuk menjaga anak-anaknya, selama ia beristirahat. Aku
terlalu kaku untuk masalah ini, aku bingung untuk memulai, aku ingin dekat
dengan ibu dan anak itu tapi aku bukan orang yang bisa berbasa-basi ketika
pertama kali bertemu. Alhasil aku hanya bisa memperhatikan mereka.
Suatu siang aku
memperhatikan pemandangan indah, aku melihat anak-anak dari ibu itu sedang asik
main berdua. Ibunya yang duduk disebelahku pun asik mengabadikan kejadian itu
sambil sesekali tersenyum dan tertawa. Senang rasanya melihatnya tertawa. Tapi
malamnya saat aku berjamaah solat malam, takbiasanya aku mendengar anak pertama
ibu muda itu menagis. Aku baru pertama kali mendengar anak pertamanya menangis,
karna yang kutahu walaupun anak itu masih kecil, tapi anak itu sudah mengerti
membagi perhatian ibunya dengan adiknya. Taklama adiknya pun menagis. Aku pun
jadi gusar, pasti ada sesuatu hal terjadi pada anaknya. Aku ingin tahu, tapi
pantaskah bila aku bertanya?
Aku ingin bergerak
membantunya, tapi apakah aku bisa menenangkan anak-anaknya yang sedang
menangis? Aku takut bila aku mendekati mereka, mereka bukannya berhenti
menangis melainkan merasa terganggu dengan kehadiranku. Akhirnya aku hanya bisa
meneruskan Qiamulailku dan berdoa untuk kebaikan mereka, ya hanya itu yang bisa
aku perbuat saat itu. setelah selesai solat aku pun kembali ke tempat
istirahatku di sebelah ibu muda itu, seperti biasanya aku takbisa menggerakan bibirku lagi untuk bertanya
kepadanya. Aku terlalu takut ikut campur terhadap permasalahan orang lain. Aku
sedikit tenang ketika melihat kedua anaknya sudah tertidur kembali, tapi kini
aku melihat sorot matanya lebih tajam menceritakan duka, ada bekas air mata
dipelupuk matanya. Menangiskah ibu muda itu? Ya Allah begitu beratkah bebannya?
Ringankanlah, sabarkanlah, mudahkanlah ia untuk mengatasi segala beban
hidupnya.
Saat aku masih tertidur, tidak sengaja aku mendengar ibu muda itu sedang
berbicara dengan seorang perempuan muda yang sepertinya seumuran dengannya. Aku
taktahu dia siapa, tapi aku bersyukur ada dia yang isa dijadikan tempat berbagi
ibu muda itu. aku takbisa melanjutkan tidurku, aku begitu penasaran dengan apa
yang terjadi pada ibu muda itu, aku pura-pura tidur padahal aku terjaga untuk
mendengarkan kisahnya. Aku mendengar penyakit anak pertamanya kambuh, ada
gangguan salah satu telinga anaknya. Ternyata itu yang menyebabkan anak pertamanya
menangis. Kudengar pula anak keduanya pun sedang sakit, tadi malam anak
keduanya muntah setelah disusui. Hatiku semakin berontak, perih. Sudah
kupastikan pastilah itu yang membuat ibu muda itu mengeluarkan air mata, ia
merasakan juga sakit yang diderita anak-anaknya. Aku penasaran dengan
keberadaan suaminya.
Takberapa lama ada perempuan muda lain datang mendekati ibu itu,
takbegitu jelas apa yang dimaksud dari pembicaraan mereka. Aku hanya dapat
menerka-nerka dari pembicaraan mereka, ibu muda itu sedang menghadapi
permasalahan dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Sepertinya masalah yang
sedang dihadapi cukup berat, hingga membuat ibu muda itu sungkan untuk meminta
bantuan kepada keluarganya sendiri.
Perempuan muda itu meyarankan agar anaknya segera dibawa ke dokter
melihat keadaannya yang mengkhawatirkan, tapi sepertinya masih ada yang
dipikirkan oleh ibu muda itu karna ia tidak langsung mengikuti saran tersebut.
Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapinya? Masalah ekonomikah yang sedang
dihadapinya? Anganku kembali hadir, andai aku punya banyak uang akan kubawa
anak-anaknya ke dokter.
***
Sayang, hari itu adalah hari terkhirku mengikuti Itikaf di masjid
Habiburahman. Padahal aku ingin memastikan keadaan ibu muda dan anak-anaknya
baik-baik saja dan memastikan mereka bisa keluar dari masalah yang sedang
mereka hadapi. Aku begitu berat meninggalkan masjid Habiburahman, aku berat
meninggalkan tempat yang telah memberikan ketenangan untukku selama dua hari
ini. Aku juga berat meninggalkan ibu muda dan anak-anaknya, walaupun aku
takdapat meringankan mereka tapi aku ingin memperhatikan keadaan mereka.
Walaupun kami hanya berinteraksi sekadarnya, tapi sebenarnya aku ingin dekat
dengannya.
Berat kaki ini melangkah untuk menyudahi Itikaf tersebut, aku takut
tidak akan mendapatkan ketenangan seperti yang kudapatkan di sana. Aku takut.
Aku masih ingin berlama-lama dengan Allah, aku ingin merasakan kedekatan
dengan-Nya seperti yang kurasakan selama dua hari ini. Cepat-cepat aku tepis
kegusaranku, bukankah Allah akan bersama kita bila kita selalu merasakan
kebersamaan dengan-Nya? Aku harus selalu ingat Allah mengikuti prasangka
hamba-Nya. Ada doa yang menyertai kepulanganku, aku berdoa agar diberi
kesempatan lagi untuk menjumpai rumah Allah dan bisa kembali meninggalkan
urusan dunia dan meluangkan waktu hanya untuk beribadah kepada Allah dan aku
berdoa untuk kebaikan ibu muda dan anak-anaknya yang telah memberikan pelajaran
berharga untukku agar Allah sellau melindungi mereka dan meringankan serta
mengangkat permasalahn yang sedang mereka hadapi. Semoga segala kebaikan sellau
bersama mereka.
***
Kembali menghadapi
perjalanan, kembali pula kami dihinggapi kebingungan. Aku takmau soktahu lagi
soal jalan yang tidak aku tahu, aku memutuskan untuk bertanya kepada sopir
angkot yang sedang aku naiki. Aku menanyakan jalan mana yang harus kami tempuh
agar sampai ke pangkalan Damri yang akan mengantarkan kami ke Jatinangor.
Akhirnya kami ditunjuki selanjutnya angkot mana yang sebaiknya kami naiki agar
sampai ke tempat yang kami tuju. Karna aku percaya terhadap pengalaman abang
sopir yang pastinya tahu jalan, maka kami menurut. Tapi sebelumnya aku
memastikan lagi agar taksalah jalan aku tanyakan kembali ke sopir apakah benar
angkot itu akan sampai ke pangkalan damri yang kami maksud, abang angkot
tersebut berkata iya. Akhirnya kami naik.
Setelah angkot melaju
jauh, kami merasakan ada yang aneh dengan jalan yang dilewati. Kami rasa jalan
pergi yang kami tempuh tidak sejauh jalan pulang. Kami takmengenali jalan yang
dilalui angkot tersebut. Perasaan khawatir kembali menghinggapi kami, apakah
kami tersesat lagi? Kami berusaha sabar, mungkin jalan pulangnya sedikit
berpitar sehingga nampak jauh. Tapi tidak, sepertinya ini salah. Takada pasar
yang kami lewati saat perjalanan pergi, tidak mungkin angkot ini berputar
begitu jauh. Kami ketakutan. Pada akhirnya ada satu tempat yang kami kenali
yaitu pasar baru, tapi tidak mengurangi kekhawatiran kami karena kami pun tidak
tahu akses untuk sampai ke Jatinangor. Aku semakin gusar menghadapi jalan yang
semakin tak kukenali. Namun pada akhirnya aku menyadari keberadaan damri yang
sedang berhenti di pinggir jalan, tapi itu bukan damri jatinangor itu damri
Tanjung Sari, sebentar bukankah sebelum Tanjung Sari itu Jatinangor? Aku segera
memastikan keraguanku, aku masih berani bertanya walaupun sudah beberapa kali
aku bertanya tetap menyesatkan. Aku bertanya kepada ibu-ibu yang juga penumpang
angkot tersebut, apakah aku bisa sampai ke Jatinangor bila naik damri tersebut.
Alhamdulillah ternyata bisa, aku dan temanku segera mengejar damri tersebut.
kami sudah lelah, kami ingin cepat-cepat sampai ke Jatinagor.
***
Dua hari dalam
penjagaan Allah, dua hari dalam petualangan seru ini telah memberikan banyak
pelajaran berharga untuk aku dan temanku.
Jelajah Masjid_Jejak Pertama