CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 19 Maret 2015



Misteri Waktu-Mu

Hapus semua kerisauan akan janji-Nya, karena Allah takkan pernah menyalahi janji.

Misteri waktu bergulir kian mendekati ketentuan-Nya,
Misteri esok takkan ada yang tahu,
Misteri kasih takpernah tahu kan berlabuh pada siapa nantinya,
Misteri rejeki takada yang tahu datangnya dari mana,
Misteri maut takkan ada yang bisa meramalnya.


Misteri jodoh, datangnya selalu dinanti, kedatangannya penuh misteri, yang terbaik adalah jawaban Illahi.
Jejak misteri membimbingku berlari kian menepi, menjemput sang idaman hati.

Misteri rejeki, datangnya dijemput dengan usaha yang takberputus asa, ia datang dari arah yang takdisangka-sangka, Kesabaran selalu menghiasi setiap jejak usaha, syukurku datang menyambut karunia-Nya.

Misteri maut, datangannya selalu menggetarkan jiwa, kedatangannya takdapat ditolak, kehadirannya takdapat ditunda, sang pencabut nyawa datang begitu misteri, hadirnya takbisa dikompromi.

Aku Malu..


Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Begitu banyak nikmat yang Kau beri, tapi yang kuingat hanyalah setitik kesulitan yang kualami.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Begitu banyak kemudahan yang Kau limpahkan kepadaku, tapi yang kuingat hanyalah sepercik kesulitan yang kuhadapi.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Ketika kutersungkur jatuh takberdaya, Kau selalu saja senang membangkitkanku. Padahal ketika Kau memberi kenikmatan kepadaku jarang sekali kuingat kepada-Mu :'(

Ya Allah, aku malu pada-Mu. Jarang sekali kalimat syukur keluar dari mulutku, sebaliknya seringkali kalimat kufurlah yang keluar dari mulutku, tapi Kau tetap saja melimpahkan rahmat kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Aku sering berbuat dosa, tapi aku juga takut bila Engkau marah kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu. Sudah terlalu sering kumeninggalkan-Mu hanya untuk mengejar dunia, padahal Kau takpernah sedikitpun meninggalkanku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Terlalu sering aku melupakan-Mu, padahal tak pernah sedetikpun Kau melupakanku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Terlalu sombong diri ini, selalu merasa mampu menghadapi segala sesuatu sendiri, padahal Engkaulah yang menggerakkan semua itu.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Kau telah anugerahkan mata, telinga, mulut, & tubuh yang baik. Takada kekurangan sedikitpun. Namun terlalu sering aku menyalahgunakan anugerah-Mu itu.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Dosa yang kuperbuat tiada henti, tapi pengampunan-Mu takpernah bertepi.

Ya Allah, aku malu pada-Mu
Terlalu sering kuberbuat khilaf, tapi aku juga takut bila siksa datang kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Ketika selangkah aku mendekat pada-Mu, tapi seribu langkah Kau mendekat kepadaku.

Ya Allah, aku malu pada-Mu.
Kasih sayang-Mu takterbatas,
Nikmat-Mu takterhingga,
Pertolongan-Mu tiada henti,
Pengampunan-Mu takpernah bertepi.

Takselamanya Rasa Takut Melemahkan


Seringkali rasa takut mengelabui pikiran, akankah rasa takut hendak mendatangkan keputusasaan?
Diri terasa ciut ketika keadaan menghimpit silih berganti datang.
Begitu banyak keinginan, lupa anugerah yang telah dinikmati. Keinginan yang takkunjung datang terkadang membangun kekufuran diri. Merasa menjadi yang paling takberutung. Padahal Allah takkurang satu apapun, menganugeragi diri dengan berbagai kemudahan dan kenikmatan. Mengapa diri ini hanya mempertanyakan ketiadaan, bukan mengindahkan keberadaan?
Diri selalu mempertanyakan ketiadaan keinginan yang takkunjung terjadi, lupa akan keberadaan nikmat yang selama ini memanjakan diri.

Jangan biarkan rasa takut itu melemahkan, jadikanlah rasa takut itu kekuatan diri untuk bisa tetap berdiri menghadapi berbagai situasi.

Seperti halnya,
Rasa takut menyakiti, menjadikan kita senantiasa membentengi tindak dan ucap.
Rasa takut mengecewakan, menjadikan kita selalu mengindahkan janji, rasa takut takkan membiarkan kau menjadi ingkar.
Rasa takut bersuudzon, kan menjadikan  pikiranmu baik.Husnudzon selalu diegakkan untuk menghapus rasa takutnya.

Ya, karena rasa takut takselamanya melemahkan, maka jadikanlah rasa takut sebagai jalan agar kau takingkar kepada-Nya, agar kau selalu berhusnudzon kepada-Nya, agar kau selalu taat kepada-Nya.

Minggu, 15 Maret 2015

Aku Iri pada Mereka


Ya, aku iri sungguh iri kepada para wanita yang telah menjuntaikan hijab di seluruh tubuhnya.

Aku iri pada mereka yang selalu melapaskan basmalah dan doa untuk mengiringi aktivitasnya. Bukti kesadaran diri yang lemah, bukti pengharapan dan keyakinan kepada Allah. Melibatkan Allah dalam segala hal.

Aku iri pada mereka yg bersiap menunggu datangnya adzan & segera melaksanakan sholat setelah kumandang itu datang.

Aku iri pada mereka yg senantiasa mengawali harinya dengan sholat dhuha, mengharap dicukupi rejekinya hanya kepada Allah.

Aku iri pada mereka yang selalu semangat dan  istiqamah berduaan dengan Allah dalam kesepian malam di sepertiga malam terakhir.

Aku iri pada mereka yang senantiasa mengeluarkan kata-kata menyejukkan dari mulutnya, apa yang mereka katakan bukan bualan karena mereka selalu berlandaskan Al Quran dan hadis. Ucapan mereka terpelihara, pandangan mereka terjaga.

Aku iri pada mereka yang senantiasa berusaha menahan hawa nafsunya dengan berpuasa. Puasa menjadi perisai yang melindunginya dari godaan buruk.

Aku iri pada mereka yang senantiasa menjaga dzikir dalam setiap aktivitasnya. Mereka tak henti melantunkan kalimat Istigfar, berharap Allah mengampuni semua dosa yang telah diperbuat.

Aku iri pada mereka yang tidak lupa bersolawat untuk mengiringi aktivitasnya.

Aku iri pada mereka yang selalu menjaga interaksi dengan Al Quran. Tilawah selalu ditegakkan setiap harinya.

Aku iri pada mereka yang berlomba-lomba menghapal Alquran, terlebih aku iri pada mereka yang sudah hapal al-quran & senantiasa menjaga hapalannya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku iri pada mereka yang selalu menundukkan pandangannya terhadap lawan jenis, mereka memeliharanya sebagai bukti kemuliaan mereka.

Aku iri pada mereka yg rela mengorbankan nyawanya demi menegakkan iman.

Aku iri pada mereka yang selalu menebar kebaikan, selalu mengajak kebaikan, mengingatkan kekhilafan, dan mencegah kemungkaran.

Aku iri pada mereka yang selalu menjaga sabar dan syukur dalam menghadapi berbagai coba. Bagi mereka sabar takada batasnya, karena mereka yakin "sabar kan selalu berbuah manis". Mereka selalu mensyukuri nikmat yang datang tiada henti, bahkan suatu cobaan pun mereka nikmati dengan rasa syukur.

Aku iri pada mereka yang senantiasa menjaga silaturahmi dengan sesama, tak ada ucap yang menyakiti, takada tingkah medzalimi.

Aku iri pada mereka yang wajahnya selalu terlihat sejuk & meneduhkan ketika dipandang, karena amalan kebaikannya yang memancar menenangkan.

Ya aku iri, sangat iri dengan ketaatan mereka. Aku iri dengan kedekatan mereka dengan Allah.

Insya Allah adalah Akhlak Seorang Hamba kepada Allah


Seringkali kita mengucapkan kata Insya Allah saat menghadapi sebuah rencana, terkadang Insya Allah disalahgunakan begitu saja. Misalnya saat merencanakan pertemuan, kita ingin datang namun di sisi lain kita ragu untuk datang (bisa dibilang kemungkinan besar tidak akan datang) maka kata Insya Allah itu tergelincir dengan mudahnya dari mulut kita.

Insya Allah 'bila Allah menghendaki' bukankah itu berarti ada suatu harapan dan ketergantungan kita terhadap Allah yang Maha Menghendaki? Tapi kebanyakan kata Insya Allah itu digunakan untuk menolak secara halus atau alasan untuk tidak menepati janji.
Alangkah baiknya kata Insya Allah itu kita ucapkan secara sadar bahwa kita sedang berharap dan bergantung kepada Allah, bukan sedang menolak.
Bila kata Insya Allah itu kita ucapkan untuk menyatakan ketidaksanggupan, bukankah itu sama saja kita sudah sok tahu? Padahal kata tersebut menyatakan sebuah pengharapan kita untuk dapat memenuhi sebuah rencana.

Jadikanlah Insya Allah sebagai akhlak kita (seorang hamba) kepada Allah. Dengan segala upaya kita berusaha dapat memenuhi sebuah janji bukan berniat menolak, dan kita menyadari kelemahan diri serta meminta bantuan dari Allah.
Bila sudah jelas perkaranya kita tidak bisa memenuhi sebuah rencana, alangkah baiknya kita jangan mengucapkan Insya Allah sebagai alasan menolak. Ucapkanlah kata Insya Allah itu untuk menggambarkan sebuah kesanggupan. Tentunya dengan kesadaran penuh bila kita tidak memiliki kekuasaan untuk memastikan segala sesuatu karena Hanya Allah yang dapat memastikan segala perkara.

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali dengan menyebut 'Insya Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kau lupa, dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini."
(QS. Al-Kahfi: 23-24)


Insya Allah adalah akhlak seorang hamba kepada Allah. Insya Allah adalah bukti kelemahan diri dan ketergantungan kita kepada Allah.

Mengetuk Pintu Langit


Kepekatan Malam kian mendekap lelap
Kehangatan malam semakin pekat terasa
Kesunyian malam menambah sendu, membuka tabir diri yang berlumur dosa
Kesunyian malam menggenggam hati yang tergores luka, luka yang terpahat karena kedengkian
Kesunyian malam merobohkan benteng kesombongan yang telah lupa hakikat diri milik siapa
Kesunyian malam menggenggam pikir, membersihakan segala pesimis berganti optimis

Kugerakkan tangan mengucap takbir, segala kesombongan luluh lantah, segala kecemasan perlahan sirna, segala kegundahan perlahan berganti, ketenangan menyeruak masuk merobohkan pertahanan ria.
Lantunan ayat demi ayat semakin menyayat hati, menggertak diri yang kian lupa pada Illahi.
Tubuhku gontai karna isak taktertahan, gerakan demi gerakan perlahan membangun kesadaran "milik siapa diri ini"
Sujudku tertegun malu pada Illahi, derai air mata menyesali diri yang kerap berbuat khilaf. Sombong, iri, dengki, perlahan berputar dalam ingatan, memperlihatkan polah yang taktahu diri.

Teringat akan keluh kesah yang sering terlontar dalam ucap, lupa diri atas anugerah yang telah dinikmati.  Takada syukur terucap, tapi keluh yang sering terucap.
Sesal diri tiada guna, yang lalu takkan pernah kembali.
Sesal diri tiada guna, yang telah terlontar dari ucap takkan bisa ditarik kembali.
Sesal diri tiada guna, tindak keji takkan bisa diganti.
Sujudku semakin dalam, memohon ampun pada Illahi atas kekhilafan yang terjadi.
Irhamna ya Allah ya rahman ya rahim, dekap aku dalam kasih-Mu..

Aku Memanggilmu dalam Diam


Dalam sunyi kumenengadah meminta pada-Nya
Dalam sunyi kumengemis meminta kasih-Nya
Dalam sunyi kumemanggilmu dalam doa-doa kebaikan, semoga kau datang dalam kebaikan-Nya
Dalam sunyi ku memanggilmu dalam harap, semoga engkau yang baik kan menjadi imam masa depanku
Dalam sunyi ku memanggilmu dalam diam, meminta-memohon-mengharap kasih-Nya selalu menyertai kasihmu
Aku menantimu dalam sunyi, takbergeming walau godaan kerap hadir menyapa

Derap rindu yang beranjak pilu, berharap kasihku selalu bermuara pada kasih-Nya
Derap rindu ini kian mendekati waktu ketentuan-Nya
Derap rindu ini perlahan menuju dermaga cinta suci-Nya
Kelak, derap rindu ini kan menyatukan rinduku dan rindumu yang selalu merindu-Nya

Pintaku selalu...
Semoga kita kan bertemu dalam kebaikan-Nya, di tempat yang baik, dalam waktu yang baik, dan dengan cara yang baik..

Sabtu, 07 Maret 2015


Kekuatan Doa



Doa adalah senjata yg diberikan Allah untuk menolong hamba-Nya. Namun terkadang manusia lupa menggunakan senjata tersebut karena kesombongannya. Merasa mampu menghadapi berbagai permasalahan hidup sendiri, padahal manusia tiadalah daya untuk dapat keluar dari suatu permasalahan tanpa izin dan kehendak Allah.
Terlahir dan hidup di dunia ini atas kehendak Allah, apakah pantas manusia menyombongkan dirinya hingga ia lupa meminta (berdoa) kepada Allah? Apakah kau merasa mampu melakukan apa pun tanpa kehendak dari-Nya? Tidak, itu kesalahan besar saat kau merasa seperti itu.
Manusia tiadalah memiliki kekuatan apa-apa, bahkan mata ini berkedip pun atas kehendak Allah. Bayangkan saja bila mata ini takberkedip mungkin mata ini sudah begitu usang diterpa angin dan debu, tapi Allah Maha Baik Ia kedipkan kelopak mata ini untuk membersihkan kotoran dan melindunginya dari terpaan angin dan debu. Berapa kali dalam semenit mata ini berkedip? Mungkin puluhan kali. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Nah, masih sombongkah diri ini? Masih merasa mampukah diri ini menghadapi berbagai permasalahan hidup? Masihkah ada rasa bila dirimulah sendiri yg bisa menyelesaikan permasalahan itu? Semua permasalahan yang datang dan pergi itu atas campur tangan Allah. Takperlulah kita sombong bila telah selesai dari suatu urusan, karena itu semua tentu karena campur tangan Allah yang senantiasa membantu kita.

Hanya kekuatan doalah alat komunikasi kita dengan Allah. Bila doa kita taklantas dijawab Allah, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah takkan mengabulkan doa kita. Bisa saja Allah senang dan ingin mendengar lebih lama doa-doa yg kita panjatkan. Ditahannya suatu doa bukan berarti itu keadaan yang buruk, karena yang tahu kapan waktu terbaik itu hanyalah Allah. Mungkin kau pernah menghadapi situasi lain, kau meminta A tapi Allah menjawabnya dengan B. Nah apa yang kau pikirkan ketika menghadapi situasi seperti itu? Akankah kau beranggapan buruk lagi? Akankah kau merasa Allah takmengindahkan doamu lagi? Salah, itu salah besar karena,

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah: 216)

Seperti kisah ini: Ada seorang mahasiswa tingkat akhir yang akan menghadapi sidang skripsi, ada satu hal yang membuat ia resah “ia takut diuji dengan 2 dosen yang menurutnya menyeramkan”. Setiap selesai solat ia selalu berdoa agar tidak diuji mereka, bahkan di setiap keheningan malam ia selalu menyebutkan kedua nama dosen tersebut, memohon agar tidak diuji mereka dan mendapatkan penguji yang baik.
Tahukah kamu apa jawaban Allah dari doa-doanya? Ya, ia diuji dengan 2 dosen yang selalu ia sebutkan namanya dalam doa, dosen yang paling tidak ia harapkan, dosen yang ia takuti. Terkejut, takut, kecewa, resah, semua perasaan bercampur hingga menegangkan dirinya.
Mau tidak mau, setuju tidak setuju, ia harus tetap menghadapi kedua penguji tersebut untuk bisa lulus dalam sidang terakhir. Tidak mungkin kan bila usahanya selama ini luntur hanya karena ketakutannya menghadapi 2 penguji itu? Nah, akhirnya dengan penuh kesungguhan ia berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti sidang skripsi.
Allah-lah yang maha menggerakkan. Semua ketakutannya salah, semua ketakutannya tidak terbukti. Buktinya ketika ia keluar dari ruang sidang, ia ada dalam keadaan baik-baik saja. Tidak kurang satu apa pun, ia masih bisa berdiri tegak dan tersenyum (heheee, lebay). 
Setelah ia ingat-ingat, memang ini adalah jawaban terbaik dari Allah. Dia lupa dengan doanya “Ya Allah siapa pun yang akan menjadi pengujiku di sidang akhir nanti, semoga aku bisa menghadapinya dengan baik”, itulah kelanjutan doa setelah ia memohon agar tidak diuji dengan dosen yang menyeramkan tersebut. Allah tidak pernah salah dan meleset dalam menjawab setiap doa hamba-Nya, Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang menurut hamba-Nya tidak baik, Allah tuntun ia untuk mengubah anggapan itu. Bahkan ketika apa yang ia takuti telah menimpa dirinya, Allah pun dengan senang hati menolongnya.
Manusia, manusia yang seringkali dipenuhi rasa curiga dan buruk sangka. Menilai sesuatu dengan singkat, tanpa mempertimbangkan berbagai sudut. Ia taktahu hakikat sebenarnya, bahwa hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. Apa yang terlihat baik belum tentu baik, dan apa yang terlihat tidak baik belum tentu itu tidak baik. Seperti halnya mahasiswa tadi, ia terburu-buru menilai kedua dosen tersebut menyeramkan hingga ia beranggapan tidak akan bisa menghadapi keduanya. Tapi apa kata Allah? Ya, penilaian ia salah. Justru kedua dosen itulah yang terbaik untuknya.

Nah, sudah bisa dipastikan bukan? kalau diri kita itu selalu saja dipenuhi dengan rasa sok tahu. Terlalu sombong memang selalu memastikan suatu perkara yang belum jelas baik buruknya. Terlalu sombong, lupa akan kelemahan.
Dari kisah itu pun kita bisa mengambil hikmah, bahwa kekuatan doa bisa meluluhkan hati, bisa menguatkan dan menenangkan jiwa, dan tentunya doa adalah senjatanya seorang mukmin (manusia) ketika menghadapi berbagai perkara hidup.
Jadi dahulukanlah doa di setiap usahamu, karena doa adalah pengantar usaha yang setia, karena doa adalah perisai (tameng) yang amat kuat menopang diri yang sangat lemah.
Ringankanlah seluruh masalah hidupmu dengan selalu berdoa kepada Allah. Doa adalah alat komunikasi kita kepada Allah yang Maha Mendengar.

Kalau kita curhat dengan teman kan adakalanya tidak bisa dan teman kita pun tentunya sedang menghapi masalahnya sendiri. Daripada kita menambah beban hidupnya, mending kita curhat sama Allah yang setia dengerin semua cerita kita. Mulai dari yang penting sampe yang ga penting. Allah ga akan pegel dan bosen dengerin curhatan kita, Allah akan selalu ada untuk kita. Terlebih Allah selalu punya jalan keluar terjitu atas setiap permasalahan yang kita punya. Jadi ketika kita dihadapkan dalam suatu urusan, datanglah kepada Allah yang maha memiliki jalan keluar terbaik :)

Nomor satukan hubungan dengan Allah, Insya Allah tidak akan ada lagi permasalahan berat yang kita rasakan. Semua permasalahan hidup kita hadapi dengan ringan, karena kita selalu merasa menghadapinya dengan Allah. So, mulai sekarang jangan galau. Coba kita ubah kata galau itu menjadi kalimat God Always Listening And Understanding.
Kan baik tuh kalau kita selalu melibatkan Allah dalam segala urusan, dijamin deh Allah juga pasti seneng kalau kita selalu melibatkan-Nya.  Jadi balik lagi, intinya adalah "doa”, karena doa adalah komunikasi terbaik kita dengan Allah. Tentu doa yang penuh keyakinan dan persangkaan baik selalu kepada Allah SWT.

Pendengar yang Baik=Pemegang Amanah yang Baik


Bila dihadapkan diantara 2 pilihan, menjadi pendengar atau menjadi yang didengar, kau akan memilih yang mana? Kebanyakan orang tentu akan memilih keduanya, mereka ingin didengarkan dan ingin mendengarkan. Ya tapi itu hanya sebagian, karena sebagian orang ada yang memilih hanya ingin di dengar dan ada pula yamg hanya ingin mendengarkan. Takada yang salah dengan semua pilihan itu, karena setiap orang memiliki kebebasan akan hal itu dan setiap orang memiliki sisi kenyamanan yang berbeda.

Ketika kau selalu ingin didengarkan, maka jadilah kau pencerita yang baik. Pencerita yang tidak hanya ingin dimengerti tapi pencerita yang bisa memahami sekelilingmu. Jadilah pencerita yang tidak melulu ingin meluapkan isi hati semata, namun jadikanlah pesan disekelilingmu sebagai perisai yang menjadikanmu tak mengulangi kesalahan serupa di masa lalu.
Bila kau berada di posisi pendengar. Jadilah pendengar yang baik, pendengar yang mampu memegang amanah, pendengar yang bisa menenangkan, pendengar yang mampu menjadi sandaran terbaik untuk sekitar. Jadilah pendengar yang bijak, pendengar yang mampu memberi pesan dari berbagai sudut, pendengar yang mampu menyampaikan kata-kata penenang jiwa (bukan kata yang menjerumuskan, tapi kata yang meluruskan). Menjadi pendengar itu taksemudah memdengar tanpa dasar, karena menjadi pendengar berarti ia telah memegang suatu amanah. Sudah tentu sebuah amanah harus kita pegang dengan baik, takpeduli ringan atau berat amanah itu tetap harus kau pegang dengan baik.

Bila kau berada dalam posisi keduanya, mungkin itu adalah posisi yang paling baik dari semuanya. Karena kau tidak hanya memberi, tapi juga menerima. Jadilah kau yang terbaik dari keduanya. Jangan kau condongkan keinginanmu untuk selalu didengarkan, namun seimbangkanlah dengan selalu mendengarkan.

Setiap orang memiliki sisi kenyamanannya masing-masing. Ada orang yang hanya ingin didengarkan, hingga ia takpeduli dengan cerita sekitar. Ia begitu antusias dengan ceritanya, hingga ia terkadang takpeka dengan situasi sekitar, ya karena ia ingin selalu didengar. Ada pula orang yang hanya ingin mendengarkan, hingga ia lupa dengan kisahnya sendiri. Ia enggan membagi ceritanya, ia memilih menyimpan kisahnya sendiri dan ia hanya ingin mendengar kisah orang lain. Ada pula yang bisa menyeimbangkan keduanya, ia dengan mudah berbagi cerita dan ia pun mampu mendengar cerita. Ia bisa memposisikan diri diantara keduanya. Ia pandai memposisikan diri dalam bersikap, ia tahu kapan ia harus menjadi pendengar yang baik dan kapan ia harus membagi kisahnya.
Di mana pun posisimu, berusahalah untuk selalu melakukan yang terbaik hingga takmerugikan sekitarmu.

Jumat, 06 Maret 2015

Aku Belum Sebaik Penilaian Mereka



Ketika orang lain menilai diri ini baik, bukan rasa senang yang kurasa melainkan penilaian itu membuatku semakin merasa buruk. Aku malu kepada Allah atas penilaian baik mereka, karena Allah-lah yang paling tahu bagaimana sebenarnya diri ini.  

Ketika kata "baik" itu terdengar, seketika otakku pun merespon, mempertanyakan kebenaran penilaian baik mereka. Sudahkah diri ini sebaik penilaian mereka? Sudahkah diri ini benar-benar baik? Sudahkah diri ini sepenuhnya jauh dari kesalahan?Tidak, diri ini belum sebaik penilaian mereka. Masih banyak yang harus dikoreksi dari semua prilakuku.

Mereka sudah memberikan penilaian baik terhadap diriku, alangkah baiknya bila diri ini dapat  mewujudkan perkataan mereka sehingga penilaian mereka terhadapku tidak keliru.
Aku hanya takingin membohongi mereka, aku hanya berusaha berprilaku baik dan terus memperbaiki diri. Aku takingin terburu-buru menilai diriku baik, karena masih banyak yang harus aku benahi. Ibadahku, prilakuku, dan kepribadianku.
Namun aku bersyukur atas penilaian mereka, karena dengan adanya penilaian tersebut membuatku mau mengintropeksi diri. Mungkin bila tidak ada penilaian itu, aku takkan berpikir dan takakan memiliki keinginan untuk lebih baik lagi. Karena penilaian baik mereka, aku berusaha untuk memantaskan diri, agar bisa pantas menerima penilaian baik mereka.

Semakin banyak yang menilai diriku baik, maka semakin semangat pula diri ini untuk menjadi benar-benar baik.