CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 02 November 2013

Kisah Perjalanan Skripsiku-Dari Fungsi Kalimat sampai Bahasa Kuliner



Mencari dan mendapatkan judul yang tepat untuk tugas akhir di masa kuliah itu memang perkara yang sulit. Ketika ada yang tepat tapi pikiran(otak) takmampu, apa mau dikata harus putar haluan mencari judul yang lain. Biasanya mahasiswa-mahasiswa yang berada dalam fase kebingungan mencari judul untuk tugas akhir (skripsi) menjadi rajin membaca materi, searcing di internet siapa tau ada ide lewat, peka menangkap gejala di sekitar, rajin main ke perpustakaan, dan ada juga yang asik main karena kebingungan harus mencari judul ke mana.
Aku juga mengalami hal seperti itu, mungkin bisa dibilang sekarang aku juga masih ada di fase tersebut. Sebelum tugas akhir itu benar-benar sudah jadi, maka pikiran dan rasa was-was itu masih berputar dalam diri. Terkadang ide datang bertubi-tubi namun aplikasi untuk menjalankan ide itu yang belum ada. Alhasil kebuntuan itu masih tetap ada (baca: belum dapet yang cocok).
Ide pertamaku untuk tugas akhir adalah mengenai “fungsi kalimat objek dan pelengkap”, pikiran itu terlintas saja ingin membandingkan kedua fungsi kalimat tersebut. Padahal dalam kenyataannya aku belum menguasai fungsi kalimat secara keseluruhan (oke, itu hanya ide yang terlintas di bawah tekanan. Karena belum siap ditanya dosen mengenai judul maka hanya itulah yang terlintas) hehee.
Pertanyaan mengenai judul sudah dimulai, maka saatnya aku memikirkan benar-benar mengenai nasibku. Maka mulai saat itu aku lebih rajin membaca dan peka terhadap gejala disekitar. Ide lain pun muncul, ketertarikan akan “Deiksis Waktu”. Jatuh cinta terhadap deiksis mengantarkanku untuk mencari tahu tentang materi tersebut, aku pun menjadi rajin membaca buku yang berhubungan dengan materi tersebut dan mencari tahu apakah materi tersebut sudah ada yang membahas atau belum. Setelah dicari tahu ternyata materi tersebut sudah ada yang membahas, energi untuk mempertahankan ide itu pun menurun. Tapi aku tetap saja merasa masih ada celah untuk membahas materi tersebut.
Karena aku yakin, aku segera bertanya kepada dosen yang bersangkutan mengenai ide tersebut. O..o.. aku malah ditanya balik oleh dosenku, apakah aku sudah membaca disertasi mengenai materi tersebut atau belum? Kamu mau teliti dari segi apa? Masih ada celahkah yang bisa diteliti dari deiksis yang belum dibahas dalam disertasi tersebut? (oke, lagi-lagi aku belum siap untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaa itu). Setelah aku mencari disertasi yang sudah dibukukan mengenai materi tersebut dan tidak dapat. Maka aku menyerah. Walaupun jatuh cinta aku terhadap deiksis sering menimbulkan keinginan untuk mempertahankan ide tersebut.
Aku putar haluan mencari ide lain, aku tertarik dengan makna. Makna yang aku bidik adalah “makna konotasi” yang melibatkan nilai rasa bagaimana suatu kata itu bernilai positif, negatif, atau bahkan bernilai netral. Oke terlihat mudah. Tetttoooot... tidak semudah yang kubayangkan :(. Aku taktahu cara mengetahui suatu makna itu bernilai positif, negatif, atau netral. Bukankah setiap orang punya representasi masing-masing, bisa jadi suatu kata dalam suatu waktu bisa bermakna positif ataupun negatif. Begitu juga bagaimana aku bisa tahu makna dari sebuah kata dalam suatu kelompok? Bukankah itu menyulitkan? Oke, itu baru pikiranku saja. Aku mencari tahu lagi mengenai makna konotasi yang begitu saja menarik perhatianku.
Aku mulai dari satu buku ke buku yang lain, membolak-balik tiap halaman yang menjelaskan makna konotasi dengan saksama (Ehem, ga yakin!). Aku mendapatkan satu pernyataan bahwa telaah makna konotasi itu merupakan telaah historis (waaw, sepertinya aku takmampu meneliti sejauh itu). Tidak, aku harus putar haluan lagi. Tapi ini tinggal hitungan hari sebelum pengumpulan tugas rancangan BAB I skripsiku. Bagaimana ini? (Oke, saat itu kepalaku rasanya berdenyut begitu kuat. Aku pusing, aku takmungkin putar haluan lagi).
Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk melanjutkan pembuatan BAB I mengenai makna konotasi walaupun aku belum tau bagaimana cara pengolahan dan penganalisisan dari data-data yang kudapat. Dengan bermodal Bismillah maka aku dapat menyelesaikan BAB I ku. Oke, bagaimana kelanjutan kisah skripsiku selanjutnya?
Sesuai janji dari dosen yang menugasi pembuatan BAB I, akan ada pengumuman apakah ide-ide kami boleh dilanjutkan atau tidak. Saatnya tiba, aku tegang. Antara harap lanjut dan tidak lanjut. Aku berharap dapat lanjut karena aku taktahu harus putar haluan ke mana lagi, dan aku berharap tidak dapat melanjutkan karena aku taktahu bagaimana pengolahan data-data yang didapat nanti. Satu demi satu judul diumumkan, ketika yang terdengar “lanjut” maka senyum pun terkembang dari empunya judul yang disebutkan, ketika yang terdengar “lanjut bersyarat” maka senyum yang setengah lega terkembang dari empunya judul yang disebutkan, dan ketika yang terdengar “tidak dapat lanjut alias harus putar haluan” maka wajah suram langsung nampak di wajah empunya judul yang disebutkan. Aku senang ketika melihat teman-temanku yang diizinkan lanjut, aku hanya berharap semoga senyum kelegaan itu menular kepadaku. Namun aku menjadi ngeri sendiri ketika yang kudengar takdapat dilanjutkan, aku takut nasibku sama seperti mereka. O,o... hampir semua temanku sudah diumumkan nasibnya, bagaimana dengan nasibku? Hanya tinggal beberapa yang tersisa di meja dosen tapi namaku belum juga dipanggil. Tiga, dua, satu, tidaakkk punyaku tidak ada! ke mana tugasku? Aku yakinkan pada diriku aku taksalah mengumpulkan tugas waktu itu, aku sendiri yang menyerahkan tugasku kepada dosen yang bersangkutan.
Ternyata ada beberapa mahasiswa termasuk aku yang tidak diketahui keberadaan tugasnya, dan tahukah itu apa artinya? Iya, perasaan cemasku diperpanjang :(. Alhasil aku dan teman-teman yang senasib diminta lagi mengumpulkan tugas BAB I tersebut.
Minggu selanjutnya rasa cemas kembali menghinggapiku, karena bila Minggu kemarin nasibku belum diketahui itu berarti Minggu inilah waktunya penentuan nasibku. Oke, aku dipanggil dosen yang bersangkutan untuk mengetahui nasib tugas BAB I ku. Ya, aku boleh lanjut. Alhamdulillh... Mmmm, namun lagi-lagi aku belum yakin dengan judul ini karena kendalanya hanya satu, aku bingung bagaimana cara pengolahan data nanti. Sudah berakhirkah perjalanan skripsiku? Belum, ini hanya sepersekian dari proses panjang yang harus aku lalui untuk menyusun tugas akhir.
Kelanjutan mengenai skripsi ditunda hingga perkuliahan di semester selanjutnya, semester yang mengerikan. Karena di semester itulah aku harus bersungguh-sungguh untuk menentukan nasibku. Aku takmungkin berjalan di tempat untuk menentukan judul, aku juga takmungkin menghentikan langkah hanya karena bingungnya judul.
***
Liburan semester 6 aku isi dengan kuliah liburan atau bahasa kerennya  SAT (Semester Alih Tahun), karena SAT ini mengizinkan pengambilan mata kuliah semester atas yang belum diambil. Aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah apa saja yang ada di semester 7 yang bisa aku ambil agar beban kulian yang harus aku ambil di semester 7 tidak terlalu berat.   
Aku mengira kelas SAT ini tidak akan mengingatkanku akan skripsi, tapi nyatanya selalu ada hal yang mengingatkanku dengan nasibku tersebut. Suatu hari aku mendapatkan tugas dari salah satu dosen SAT untuk menganalisis suatu ragam bahasa, setelah mengumpulkan beberapa topik permasalahan ragam bahasa yang menarik perhatianku, aku putuskan untuk menganalisis ragam bahasa dari sebuah program memasak “Bahasa Kuliner”. Ketika aku mencari buku referensi yang dapat membantu proses analisisku, secara tidak sadar terlontar dari mulutku “Ini jadi bahan skripsi aja deh, analisisnya lebih jelas dari topik BAB I kemarin” (kurang lebih perkataanku seperti itu). setelah tugas dikumpulkan dan presentasi dilaksanakan. Subhanallah, perkataanku menjadi doa dan doaku langsung dijawab. Aku disarankan oleh dosen yang bersangkutan untuk mengangkat topik tugasku menjadi sebuah skripsi.
Antara senang dan bimbang. Ya itulah aku, yang tak bisa menenangkan diri walaupun aku mendapat suatu kabar gembira, tetap saja keraguan menghantui pikiranku. Kalau pikiranku sedang baik maka yang terlintas, apa yang hendak kau cari lagi? Apa kau masih mau berputar-putar pada judul yang belum jelas padahal ada saran menarik dari dosenmu? Apa kau akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja? Ingat, kau tidak banyak waktu untuk memikirkan hal yang belum jelas.
***
Setelah adanya berbagai pertimbangan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil “Ragam Bahasa Kuliner” sebagai bahan skripsiku yang aku angkat di seminar semester 7. Bagaimana kelanjutan kisah perjalanan skripsiku? Apakah sudah sampai di sini? Apakah keraguan tidak mengetuk pikiranku lagi? Kisah apakah yang terjadi setelah keputusan itu diambil? Akan aku lanjutkan dalam tulisanku selanjutnya :).