CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 11 April 2015

Rintik hujan saling berkejaran menyapa panas hari ini, hingga kesejukan yang ia bawa meluluhkan panas yang sudah teramat merajai. Dengan rintiknya yang halus, ia tebarkan kesejukan dengan sabar. Menggantikan panas yang telah merajai, menebar pundi-pundi kesejukan, meluluhkan gersang, dan menyuburkan kembali tanah yang hampir usang.

Tanah gersang begitu merindukan datangnya rintik hujan, pun merindukan angin penyerta hujan yang yang akan menaburkan bau tanah.
Rintik hujan turun, menyapa angin di sepanjang jalan yang membawanya hingga bertemu dengan panas. Meminta panas untuk bisa berganti dengannya beberapa saat dan menyampaikan pesan kehidupan kepada tanah. Panas pun mengalah untuk berganti dengan rintik yang menyejukkan. Rintik yang sering dirindui penat yang membakar.

Namun terkadang panas enggan mengalah. Rintik hujan pun menyerah, kering sebelum sampai ke bumi. Rintik yang telah menggantung pun urung jatuh ke permukaan, karena ia mengerti panas yang hendak menyelimuti bumi dengan kehangatannya.

Satu lagi sahabat setia penyerta hujan. Ia adalah mendung, mendung yang selalu membawa kabar gembira untuk bumi akan datangnya rintik yang menyejukkan.

Sabtu, 04 April 2015

Hidup dalam Pusaran Tanya



Takdapat dipungkiri, setiap fase kehidupan selalu dihadapkan dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan yang satu menghendaki pertanyaan selanjutnya. Gertakan pertanyaan itu terus berusaha merobohkan keyakinan atau sebaliknya gertakan pertanyaan itu terus melahirkan semangat baru.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Al Imran:14)

Pertanyaan-pertanyaan yang hadir terus berkutat pada pencapaian dunia. Seakan hanya itulah tujuan hidup "terus mengejar ketidakabadian". Terkadang pertanyaan itu hadir seolah hendak menggugurkan rasa syukur atas apa yang telah dimiliki. Selalu mempertanyakan ketiadaan tanpa mengindahkan suatu keberadaan. Keberadaan akan pencapaian hidup yang telah dimiliki takdiindahkan, karena menghendaki ketiadaan yang ingin dimiliki.

Saat sekolah, kita selalu dikejar dengan pertanyaan, "kapan lulus?", "akan kemana setelah lulus?"
Setelah lulus, "hendak jadi apa kau setelah lulus?"
Setelah mencapai keberhasilan, "kapan kau memiliki pendamping hidup?"
Setelah memiliki pendamping, "kapan kau memiliki anak?", "kapan kau menambah keturunan?", dan seterusnya. 

Pertanyaan yang satu akan megundang pertanyaan selanjutnya. Namun, sangat disayangkan mengapa takmuncul pertanyaan "kapan kau mati?" Sebuah pertanyaan mengenai kesiapan untuk menghadapi & memulai kehidupan sebenarnya.

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak sebenarnya mereka tidak sadar." (Al Mu'minun:55-56)

Mungkin tidak sedikit dari kita yang selalu mengira segala pencapaian hidup di dunia ini adalah sebuah kebahagiaan yang harus terus dikejar. Hingga banyak yang  terperdaya dengan kebahagiaan yang sementara dan taksedikit orang yang rela meninggalkan kewajiban (ibadah) hanya untuk mengejar kesenangan tersebut. Padahal bisa jadi kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang memperdayakan. Bisa jadi kebahagiaan itu hadir sebagai ujian, menguji sejauh mana kita bersyukur kepada Allah. Bisa jadi kebahagiaan itu hadir sebagai ujian, menguji sejauh mana kita berpaling kepada Allah karena kebahagiaan sementara.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."(Al Baqarah: 155)

Pusaran pertanyaan akan selalu hadir dalam hidup. Ketika pusaran tanya itu menghadirimu, bersiaplah untuk memilih. Memilih sikap terbaik untuk menghadapinya. Ketika tanya datang, akan kau hadapi dengan sikap dewasa atau malah sikap kekanak-kanakanlah yang kau pilih?
Ketika tanya datang, akan kau jadikan ia kekuatan atau kelemahan?
Ketika tanya datang, akan kau sanggupi untuk menjawab pertanyaan itu atau akan kau biarkan pertanyaan itu berlalu?
Ketika tanya datang, kan kau sibukan dirimu dengan usaha atau akan kau tenggelamkan dirimu dalam pikir?
Banyak pilihan untuk menghadapi pusaran tanya, karena pusaran itu takselamanya akan menyelakaimu, pusaran itu takselamanya akan menenggelamkanmu. Pusaran itu bisa jadi akan membawamu pada titik pusat keyakinan, pusaran itu bisa jadi menghendaki usaha indahmu untuk mencapai kebahagiaan abadi. 

Rinduku padamu Ya Rasulullah



Allahuma shali ala muhammad wa ala ali Muhammad

Belum pernah kubertemu denganmu ya Rasulullah
Mendengar kisahmu, menggetarkan hatiku
Kekhawatiranmu pada umat, meluluhkan hatiku
Kasihmu pada umat, melelehkan air mataku

Saat pedihnya sakaratul maut kau rasa, saat itu pun engkau masih ungkapkan cinta "umati, umati, umati".
Semakin sesak terasa mendengar kekhawatiranmu pada umat di saat-saat terakhirmu, Engkau mengkhawatirkan umat yang bahkan belum kau temui. Engkau mengkhawatirkan sakit yang akan dirasakan umatmu saat ruh tak menghendaki lagi tuk bersama dengan raga. Bahkan engkau rela menanggung sakit yang akan dirasakan umatmu saat sakaratul maut itu meregang.

Kemuliaan akhlakmu taktertandingi ya Rasulullah..
Walau pintu surga selalu terbuka lebar untukmu, hal itu takmenyurutkan semangat ibadahmu.
Walau umatmu seringkali menyakitimu, hal itu takmengurangi kasih sayangmu.
Walau musuh-musuhmu kerapkali melancarkan serangannya kepadamu, hal itu takpernah memadamkan perjuanganmu.
Walau perjalananmu terlihat pahit terasa, namun kau selalu merasakan manisnya perjalanan hidup.

Rinduku takertahan padamu ya Rasul
Rinduku ingin berjumpa denganmu ya Rasul
Rinduku ingin menatap wajahmu ya Rasul

Kini, ingin rasanya aku bertemu denganmu walau hanya dalam mimpi. Kan pasti ketenanganmu menggetarkan hatiku..
Ya Rasulullah ya Habiballah, terimalah aku sebagai umatmu
Ya Rasulullah ya Habiballah, karuniakanlah syafaatmu kepadaku di yaumul mahsyar nanti..
Ya Allah izinkanlah aku untuk sampai ke makam kekasih-Mu (Rasulullah) sebelum aku kembali pada-Mu..

Jumat, 03 April 2015

Menikmati Kedekatan dengan-Nya



Sebelumnya takpernah kumerasa setenang ini,
Sebelumnya takpernah kumerasa senyaman ini,
Sebelumnya takpernah kumerasa sekuat ini.

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (Al Baqarah:152)

Alhamdulillah...
Semakin kumendekat,ketenangan itu menyeruak semakin dalam.
Semakin kumendekat, kenyamanan itu semakin memanjakanku.
Semakin kumendekat, kekuatan perlahan hadir semakin menguatkan keyakinanku.

Kurang baik apa lagi? Bila segala pinta yang belum terucap saja langsung dijawab, bagaimana dengan pinta yang terus-menerus terucap dalam doa? Allah Maha tahu, kelemahan pengetahuanlah yang selalu membuat diriku sok tahu. Lebih mendahulukan prasangka buruk, ketimbang memperbanyak prasangka baik. Ya, itulah aku.

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al Baqarah:186)

Ketika aku menghadapi suatu permasalahan hidup, aku selalu saja melupakan banyaknya kenikmatan yang telah kuteguk. Ya itulah kesalahan terbesarku,  karena secara tidak sadar aku telah memupuk kekufuran dan menjauhkan diri dari rasa syukur. 
Setelah aku menyadari kesalahanku, aku berusaha mendekati-Nya. Aku takmau sesalku semakin dalam, aku takmau sesalku semakin menjadi. Ya, aku harus bersyukur karena Allahlah yang menggerakkan ini semua. Allah yang menggerakan kesadaranku. 

Aku belajar dan berusaha membenahi diri, memperkuat yang wajib dan memulai yang sunah. Subhanallah, memang hanya kedekatan dengan-Nyalah yang mampu menenangkan jiwa. Ketika masalah datang mengujiku, aku belajar menguraikan masalahku itu kepada Allah. Walau dengan bahasa yang kacau, aku tetap menguraikan ceritaku. Subhanallah, Allah selalu menjawab dan memberi solusi dari masalahku itu dengan cara yang indah.

Aku pernah dibebankan dengan masalah rejeki. Aku mempertanyakan rejeki yang belum juga mendatangiku, padahal aku merasa telah mengerahkan berbagai cara untuk menjemputnya. Aku uraikan segala kekhawatiran dalam diriku kepada Allah dan setelah itu kumencoba mencari ketenangan dengan membaca Al Quran. 
Setelah kubaca beberapa ayat, ketenangan menyeruak masuk ke dalam jiwaku. Tidak sampai di situ, tiba-tiba aku tergerak untuk membaca terjemahan ayat yang telah kubaca. Subhanallah, baru saja aku mencurahkan segala gundah kepada Allah, Allah langsung menjawabnya. Allah membimbingku untuk menghapus segala kegundahanku. Ayat pertama yang membuat hatiku bergetar:

"Dia memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (At-Talaq: 3)

Ya Allah aku telah menghawatirkan apa yang telah kau jamin. Ya Allah selama ini aku salah, selama ini aku telah menggantungkan harapku kepada perusahaan ini dan itu dalam menjemput rejeki, padahal seharusnya aku hanya menggantungkan harap itu kepada-Mu, karena Engkaulah yang Maha Memiliki, Engkaulah yang Maha Pemberi.

"Sungguh, Tuhanmu melapangkan rejeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang dia kehendaki), sungguh Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya."(Al Isra: 30)

Ayat demi ayat yang kubaca semakin membuat penyesalanku menjadi. Ya Allah ampunilah aku, karena aku telah meragukan janji-Mu. Padahal janji Allah pasti benar dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Jadi mengapa aku harus bersedih hati dan khawatir dengan janji-Nya?

Kesadaranku mulai tersusun, lubang-lubang kekhawatiran mulai tertutup. Aku harus meneruskan usahaku dan aku tidak boleh gentar hanya karena kekhawatiran yang melenakan. Karena bukankah apa yang kita usahakan itu akan berbanding lurus dengan apa yang akan kita dapatkan? Jadi kalau mau dapat yang lebih, ya usaha pun harus lebih keras. 

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."(An-Najm: 39)

Allah yang Maha Menggerakkan, Allah telah menggerakan langkahku hingga aku mendapat jawaban langsung dari-Nya. Ya, ini adalah sebuah komunikasi yang maha Indah.

Tiap kali kuterjatuh, Allah selalu membimbingku mendekat. Ini adalah cara Allah memanggilku.
Tiap kali kumerasa tersungkur, Allah selalu membangkitkanku. Ini adalah bukti kasih sayang-Nya.
Tiap kali kuterhimpit berbagai coba, Allah selalu memberikan pertolongan sebelum kumeminta. Ini adalah bukti kekuasaan-Nya.

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri."(At Tur:48)

Kini, kubelajar selalu mendekat pada-Nya, menikmati kebersamaan dengan-Nya, dan menantikan setiap jawaban indah yang diberikan-Nya. 

"Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang." (Ar-Ra'd:28)

Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati, janganlah kau palingkan hati ini kepada selain Engkau.
Ya Allah yang Maha penggenggam hati, jangan biarkan hati ini berharap kepada selain Engkau.
Ya Allah yang Maha Menguasai hati, jangan Kau cabut kembali ketenangan yang saat ini kurasa.
Ya Allah yang Maha pemilik hati, tautkanlah hatiku hanya kepada-Mu.

Merindu Kasih yang Masih Misteri



Rinduku pilu takmenentu
Rinduku hadir taktahu arah
Rinduku terkatung dalam buaian penantian

Diri meretas rindu dalam benang-benang penantian,
Berharap rindu merajut kasih dalam buaian kasih-Nya,
Hingga mampu merenda waktu tuk menguak misteri cinta-Nya

Rindu ini hadir dalam sebuah penantian, rindu ini hadir hendak mengasingkan diri yang dirundung emosi..

Wahai perindu bersabarlah, jangan biarkan rindu itu mengoyak sabarmu
Wahai perindu berbahagialah, bila rindumu selalu terpaut kepada-Nya
Wahai perindu bersyukurlah, atas semua anugerah rasa di hatimu..

Berdoalah, Innallaha Ma'ana


Jangan jadikan doa sebagai obat yang hanya kau gunakan di saat kau merasa sakit, merana, dan terpuruk. Namun,  jadikanlah doa itu sebagai makanan yang selalu kau butuhkan untuk mempertahankan hidup.

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus..
Allah dulu, dahulukanlah bersyukur kepada Allah karena kau masih diberi kesempatan meneguk berbagai karunia-Nya dan dahulukanlah mengadu kepada Allah untuk menghadapi setiap perkara hidup.

Allah lagi, lagi-lagi datanglah kepada Allah di saat kau senang (menikmati karunia-Nya) dan lagi-lagi datanglah kepada Allah saat kau menghadapi berbagai perkara hidup. 

Allah terus, teruslah mengadu kepada Allah mengenai berbagai perkara hidup. Senang ataupun sulit, adukanlah kepada Allah.

Allah takkan pernah bosan mendengar doa dan pinta kita, tapi Allah akan marah bila kita lupa meminta kepada-Nya.
Hanya Allah yang paling mengerti, hanya Allah yang paling peduli, hanya Allah yang paling menyayangi diri ini.

Apalah diri ini tanpa pertolongan-Nya, apalah diri ini tanpa kasih sayang-Nya.
Meminta pada-Nya takkan pernah membuatmu kecewa, berharap pada-Nya takkan pernah membuatmu merana.

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."(Al Baqarah:186)

Bersujudlah, memohon ampun kepada Allah sebagai tanda penyesalanmu.
Tengadahkanlah tangan-Mu untuk bermunajat kepada Allah sebagai tanda kelemahanmu.
Bertawakallah kepada Allah sebagai tanda ketidakberdayaanmu. 

Ku Menunggu dalam Sabarku


Di ujung sana ku yakin, telah Kau siapkan seseorang yang sabar. Kelak kesabarannya kan memperbaiki segala alpa dalam diri.
Dia yang telah tercatat dalam ketentuan-Nya, kan mampu menempa diri menjadi lebih baik.
Dia yang kini tengah berjuang memperbaiki diri, kan kujemput dengan semangat memantaskan diri.

Hadirmu misteri, tapi kelak kau kan ada di masa depanku
Namamu rahasia, tapi kelak kau kan ada di masa depanku
Dia adalah masa depanku, masa depan yang kini masih menjadi teka-teki..

Misteri waktu terus bergulir, meregang benang-benang tanya.
Mungkinkah waktu menghendaki kita berjumpa di awal waktu?
Entahlah, aku taktahu. Yang kutahu, aku akan menunggumu dalam sabarku..

Bersyukurlah!


"Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya." (Al Baqarah: 233)

Akan ada bahagia setelah derita
Akan ada syukur setelah tersungkur
Akan ada sabar setelah coba berkobar
Akan ada ikhlas setelah usaha takterbalas
Akan ada tawakal setelah kau lelah berjuang

Gelapnya malam akan beranjak menuju terangnya siang, begitu pun gelapnya kehidupan akan selalu beranjak mencari cahaya yang bisa meneranginya.
Kan selalu ada kebaikan dari setiap sisi kehidupan, bijaklah untuk selalu berhusnudzon dalam menghadapi berbagai perkara hidup.

Teguklah manisnya setiap coba dan syukurilah beribu nikmat yang kauterima.

Saat coba mendera, diri selalu merasa yang paling menderita. Padahal itu hanya secuil sisi kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. Taktahu diri, ya memang diri kerap kali taktahu diri dan takbijak dalam menghadapi berbagai situasi. Tanyakanlah pada diri, Sudahkah kita bersyukur?

“Jika engkau bersyukur, maka sungguh Allah akan menambahkan nikmat-Nya, dan jika kamu kufur maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Kematian Itu Sangat Dekat

Tanpa kita sadari, kita ini sedang beranjak mendekati kematian. Satu hari kita lewati, berarti satu hari pula waktu yang telah kita tempuh untuk sampai pada pintu kematian. Ya, bertambahnya usia menandakan berkurangnya jatah hidup kita di dunia.

Kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan yang memperdaya dan kematian adalah sebuah kepastian.

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."(Al Imran: 145)

Semua yang hidup (bernyawa) pasti akan mati. Manusia, hewan, dan tumbuhan yang hidup pasti akan mati. Waktu kedatangannya begitu misteri dan pasti.

Muda atau tua, kematian takmemandang batas usia. Ia bisa datang kapan pun, usia tidak menjadi alat ukur untuk menentukan kapan datangnya kematian.

Kaya atau miskin, kematian takmemandang si kaya atau si miskin yang pantas mati, karena ia kan datang kepada siapa pun. Tak memandang strata yang selalu menjadi alat ukur kehidupan dunia.

Sakit atau sehat. Kematian takmemandang si sakit atau si sehatlah yang lebih pantas mati. Karena ia selalu menghendaki setiap keadaan.

Bisa jadi si muda yang kaya dan sehat lebih dulu menghadapi kematian ketimbang si tua yang sakit dan miskin.

Sebelum kematian menjemput, alangkah baiknya kita kumpulkan bekal agar bisa mengantarkan kita pada tempat yang paling baik yakni Surga. Tentunya dengan selalu menebar kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Memperkuat yang wajib dan membiasakan yang sunah.