CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 28 Agustus 2013

Akhirnya Aku Mengerti


Sebenarnya hanya masalah kecil yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku. Hatiku berontak ketika mempertanyakan balasan yang baik, hatiku berontak mempertanyakan pengertian, hatiku berontak ingin menyudahi kelelahan. Ya mungkin ini adalah titik lelahku. Titik di mana aku lupa kunci hidupku “sabar”. Hatiku begitu saja ditutupi oleh rasa ingin dimengerti, ingin diperlakukan baik, ingin mendapatkan kesetaraan sikap. Ya aku lupa, lupa untuk bersabar dan mengembalikan semua harapanku kepada Sang Pemilik, aku lupa menggantungkan harapanku untuk dimengerti kepada manusia, padahal aku sudah mencatat besar-besar dalam pikiranku untuk senantiasa berharap hanya kepada Allah karena takakan mendatangkan kecewa. Ya aku lupa, hatiku terlalu buta karena ditutupi berbagai pertanyaan gelap mengenai balasan baik yang harusnya kuterima. Aku mempertanyakan kebaikan. Sungguh perilaku yang memalukan, malu kepada diri sendiri terlebih malu kepada Allah. Buat apa aku mempertanyakan kebaikan yang sedikit? Sudahkah perbuatan baikku menutupi perbuatan burukku? Ku kira belum, ku kira aku masih di dalam rimba keburukan.
Bolehkah kali ini aku mengeluh? Bolehkah kali ini aku mempertanyaan balasan? Bolehkah aku merasa diperlakukan tidak adil? Ketika seseorang bersedih mendekat kepadaku dan senang menjauh dariku, apakah itu perlakuan tidak adil untukku? Ketika aku mendengar kisah orang lain dan kisahku takdidengar, apakah itu perlakuan tidak adil? Ketika aku mencoba mengerti orang lain dan aku tak dimengerti olehnya, apakah itu perlakuan tidak adil? Ketika aku berusaha menghindari perlakuanku yang dapat menyakiti orang lain tetapi ada perlakuan orang lain yang menyakitiku, apakah itu perlakuan tidak adil? (Semua itu adalah pertanyaan dalam pikiranku, hingga menutup pintu batinku. Membuat aku takdapat berpikir jernih. Ya aku lupa, lupa dengan pegangan hidupku selama ini).
Setelah aku tersadar dari pikiran burukku, dari pertanyaan-pertanyaan gelapku. Aku menyadari aku sungguh salah melontarkan semua pertanyaan itu. Jawaban hanya satu, kembalikan kepada Sang Pemilik. Bila seseorang mendekat kepadaku ketika ia sedang bersedih, dan menjauh ketika ia senang, bukankah itu berarti aku dapat meringankan beban seseorang? Bila aku selalu mendengar kisah orang lain dan kisahku takdidengar, bukankah aku masih punya banyak pendengar yang baik yang dapat mendengar segala keluh kesahku? Bukankah aku memiliki tempat bercerita yang paling nyaman dan selalu memberi petunjuk yang benar, iya Allah? Sudahkah aku bercerita segala keluh kesahku di setiap malam kepada-Nya? Bila aku mencoba mengerti orang lain bukankah berarti aku selalu memberi, memberi pengertian? Bila aku tidak dimengerti oleh sesamaku (manusia) bukankah aku punya Allah yang selalu mengertiku? Ketika aku selalu berusaha berbuat baik untuk menjaga hati orang lain, bukankah aku selalu bersama Allah yang selalu menjaga hatiku?  
Ya, aku takpernah diperlakukan tidak adil. Pikirankulah yang selalu memperlakukanku dengan tidak adil. Aku selalu diperlakukan baik oleh Allah, aku takpernah dikecewakan oleh Allah, aku takpernah ditinggalkan oleh Allah, aku selalu didengar oleh Allah, aku selalu dimengerti oleh Allah. Allah selalu menjaga hatiku. Allah selalu meringankan bebanku.  Ya, seharusnya aku bersyukur. Allah tidak serta merta mengirimkan pikiran kepadaku untuk bisa berpikir baik dan bersyukur. Semua memberikan pemahaman kepadaku hingga aku mengerti untuk selalu bersabar dan bersyukur. Aku harus segera kembali kepada-Nya. Aku takmau terus larut dalam pikiranku. Kini aku sudah mengerti maksud dari pikiranku. Aku semakin sayang kepada Allah.
Berabar, bersyukur, berhusnudzon, dan yang paling penting selalu ingat dengan Allah.

0 komentar:

Posting Komentar