Mencari dan mendapatkan
judul yang tepat untuk tugas akhir di masa kuliah itu memang perkara yang sulit.
Ketika ada yang tepat tapi pikiran(otak) takmampu, apa mau dikata harus putar
haluan mencari judul yang lain. Biasanya mahasiswa-mahasiswa yang berada dalam fase
kebingungan mencari judul untuk tugas akhir (skripsi) menjadi rajin membaca
materi, searcing di internet siapa
tau ada ide lewat, peka menangkap gejala di sekitar, rajin main ke
perpustakaan, dan ada juga yang asik main karena kebingungan harus mencari
judul ke mana.
Aku juga mengalami hal
seperti itu, mungkin bisa dibilang sekarang aku juga masih ada di fase
tersebut. Sebelum tugas akhir itu benar-benar sudah jadi, maka pikiran dan rasa
was-was itu masih berputar dalam diri. Terkadang ide datang bertubi-tubi namun
aplikasi untuk menjalankan ide itu yang belum ada. Alhasil kebuntuan itu masih
tetap ada (baca: belum dapet yang cocok).
Ide pertamaku untuk
tugas akhir adalah mengenai “fungsi
kalimat objek dan pelengkap”, pikiran itu terlintas saja ingin
membandingkan kedua fungsi kalimat tersebut. Padahal dalam kenyataannya aku
belum menguasai fungsi kalimat secara keseluruhan (oke, itu hanya ide yang
terlintas di bawah tekanan. Karena belum siap ditanya dosen mengenai judul maka
hanya itulah yang terlintas) hehee.
Pertanyaan mengenai
judul sudah dimulai, maka saatnya aku memikirkan benar-benar mengenai nasibku.
Maka mulai saat itu aku lebih rajin membaca dan peka terhadap gejala disekitar.
Ide lain pun muncul, ketertarikan akan “Deiksis
Waktu”. Jatuh cinta terhadap deiksis mengantarkanku untuk mencari tahu
tentang materi tersebut, aku pun menjadi rajin membaca buku yang berhubungan
dengan materi tersebut dan mencari tahu apakah materi tersebut sudah ada yang membahas
atau belum. Setelah dicari tahu ternyata materi tersebut sudah ada yang membahas,
energi untuk mempertahankan ide itu pun menurun. Tapi aku tetap saja merasa
masih ada celah untuk membahas materi tersebut.
Karena aku yakin, aku
segera bertanya kepada dosen yang bersangkutan mengenai ide tersebut. O..o..
aku malah ditanya balik oleh dosenku, apakah aku sudah membaca disertasi
mengenai materi tersebut atau belum? Kamu mau teliti dari segi apa? Masih ada
celahkah yang bisa diteliti dari deiksis yang belum dibahas dalam disertasi
tersebut? (oke, lagi-lagi aku belum siap untuk menjawab semua
pertanyaan-pertanyaa itu). Setelah aku mencari disertasi yang sudah dibukukan
mengenai materi tersebut dan tidak dapat. Maka aku menyerah. Walaupun jatuh
cinta aku terhadap deiksis sering menimbulkan keinginan untuk mempertahankan
ide tersebut.
Aku putar haluan
mencari ide lain, aku tertarik dengan makna. Makna yang aku bidik adalah “makna konotasi” yang melibatkan nilai
rasa bagaimana suatu kata itu bernilai positif, negatif, atau bahkan bernilai
netral. Oke terlihat mudah. Tetttoooot... tidak semudah yang kubayangkan :(.
Aku taktahu cara mengetahui suatu makna itu bernilai positif, negatif, atau
netral. Bukankah setiap orang punya representasi masing-masing, bisa jadi suatu
kata dalam suatu waktu bisa bermakna positif ataupun negatif. Begitu juga
bagaimana aku bisa tahu makna dari sebuah kata dalam suatu kelompok? Bukankah itu
menyulitkan? Oke, itu baru pikiranku saja. Aku mencari tahu lagi mengenai makna
konotasi yang begitu saja menarik perhatianku.
Aku mulai dari satu
buku ke buku yang lain, membolak-balik tiap halaman yang menjelaskan makna
konotasi dengan saksama (Ehem, ga yakin!). Aku mendapatkan satu pernyataan
bahwa telaah makna konotasi itu merupakan telaah historis (waaw, sepertinya aku
takmampu meneliti sejauh itu). Tidak, aku harus putar haluan lagi. Tapi ini
tinggal hitungan hari sebelum pengumpulan tugas rancangan BAB I skripsiku. Bagaimana
ini? (Oke, saat itu kepalaku rasanya berdenyut begitu kuat. Aku pusing, aku
takmungkin putar haluan lagi).
Pada akhirnya aku pun
memutuskan untuk melanjutkan pembuatan BAB I mengenai makna konotasi walaupun
aku belum tau bagaimana cara pengolahan dan penganalisisan dari data-data yang
kudapat. Dengan bermodal Bismillah
maka aku dapat menyelesaikan BAB I ku. Oke, bagaimana kelanjutan kisah
skripsiku selanjutnya?
Sesuai janji dari dosen
yang menugasi pembuatan BAB I, akan ada pengumuman apakah ide-ide kami boleh
dilanjutkan atau tidak. Saatnya tiba, aku tegang. Antara harap lanjut dan tidak
lanjut. Aku berharap dapat lanjut karena aku taktahu harus putar haluan ke mana
lagi, dan aku berharap tidak dapat melanjutkan karena aku taktahu bagaimana
pengolahan data-data yang didapat nanti. Satu demi satu judul diumumkan, ketika
yang terdengar “lanjut” maka senyum pun terkembang dari empunya judul yang
disebutkan, ketika yang terdengar “lanjut bersyarat” maka senyum yang setengah
lega terkembang dari empunya judul yang disebutkan, dan ketika yang terdengar “tidak
dapat lanjut alias harus putar haluan” maka wajah suram langsung nampak di
wajah empunya judul yang disebutkan. Aku senang ketika melihat teman-temanku
yang diizinkan lanjut, aku hanya berharap semoga senyum kelegaan itu menular
kepadaku. Namun aku menjadi ngeri sendiri ketika yang kudengar takdapat dilanjutkan,
aku takut nasibku sama seperti mereka. O,o... hampir semua temanku sudah
diumumkan nasibnya, bagaimana dengan nasibku? Hanya tinggal beberapa yang tersisa
di meja dosen tapi namaku belum juga dipanggil. Tiga, dua, satu, tidaakkk punyaku
tidak ada! ke mana tugasku? Aku yakinkan pada diriku aku taksalah mengumpulkan
tugas waktu itu, aku sendiri yang menyerahkan tugasku kepada dosen yang
bersangkutan.
Ternyata ada beberapa
mahasiswa termasuk aku yang tidak diketahui keberadaan tugasnya, dan tahukah
itu apa artinya? Iya, perasaan cemasku diperpanjang :(.
Alhasil aku dan teman-teman yang senasib diminta lagi mengumpulkan tugas BAB I
tersebut.
Minggu selanjutnya rasa
cemas kembali menghinggapiku, karena bila Minggu kemarin nasibku belum
diketahui itu berarti Minggu inilah waktunya penentuan nasibku. Oke, aku
dipanggil dosen yang bersangkutan untuk mengetahui nasib tugas BAB I ku. Ya,
aku boleh lanjut. Alhamdulillh... Mmmm, namun lagi-lagi aku belum yakin dengan
judul ini karena kendalanya hanya satu, aku bingung bagaimana cara pengolahan
data nanti. Sudah berakhirkah perjalanan skripsiku? Belum, ini hanya
sepersekian dari proses panjang yang harus aku lalui untuk menyusun tugas akhir.
Kelanjutan mengenai
skripsi ditunda hingga perkuliahan di semester selanjutnya, semester yang
mengerikan. Karena di semester itulah aku harus bersungguh-sungguh untuk
menentukan nasibku. Aku takmungkin berjalan di tempat untuk menentukan judul,
aku juga takmungkin menghentikan langkah hanya karena bingungnya judul.
***
Liburan semester 6 aku
isi dengan kuliah liburan atau bahasa kerennya SAT (Semester Alih Tahun), karena SAT ini mengizinkan
pengambilan mata kuliah semester atas yang belum diambil. Aku memutuskan untuk
mengambil mata kuliah apa saja yang ada di semester 7 yang bisa aku ambil agar
beban kulian yang harus aku ambil di semester 7 tidak terlalu berat.
Aku mengira kelas SAT
ini tidak akan mengingatkanku akan skripsi, tapi nyatanya selalu ada hal yang
mengingatkanku dengan nasibku tersebut. Suatu hari aku mendapatkan tugas dari
salah satu dosen SAT untuk menganalisis suatu ragam bahasa, setelah
mengumpulkan beberapa topik permasalahan ragam bahasa yang menarik perhatianku,
aku putuskan untuk menganalisis ragam bahasa dari sebuah program memasak “Bahasa Kuliner”. Ketika aku mencari
buku referensi yang dapat membantu proses analisisku, secara tidak sadar
terlontar dari mulutku “Ini jadi bahan skripsi aja deh, analisisnya lebih jelas
dari topik BAB I kemarin” (kurang lebih perkataanku seperti itu). setelah tugas
dikumpulkan dan presentasi dilaksanakan. Subhanallah, perkataanku menjadi doa
dan doaku langsung dijawab. Aku disarankan oleh dosen yang bersangkutan untuk
mengangkat topik tugasku menjadi sebuah skripsi.
Antara senang dan
bimbang. Ya itulah aku, yang tak bisa menenangkan diri walaupun aku mendapat
suatu kabar gembira, tetap saja keraguan menghantui pikiranku. Kalau pikiranku
sedang baik maka yang terlintas, apa yang hendak kau cari lagi? Apa kau masih
mau berputar-putar pada judul yang belum jelas padahal ada saran menarik dari
dosenmu? Apa kau akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja? Ingat, kau
tidak banyak waktu untuk memikirkan hal yang belum jelas.
***
Setelah adanya berbagai
pertimbangan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil “Ragam Bahasa Kuliner” sebagai bahan skripsiku yang aku angkat di
seminar semester 7. Bagaimana kelanjutan kisah perjalanan skripsiku? Apakah sudah
sampai di sini? Apakah keraguan tidak mengetuk pikiranku lagi? Kisah apakah
yang terjadi setelah keputusan itu diambil? Akan aku lanjutkan dalam tulisanku
selanjutnya :).

0 komentar:
Posting Komentar