Mengucapkan syukur
(Alhamdulillah) ketika dianugrahi kebaikan ataupun diberikan jalan atas segala
keinginan, menurutku itu taksebanding. Maka aku mencari jalan lain yang taksekadar
mengucap syukur. Ya, kini aku membiasakan diriku untuk bernadzar ketika aku
mempuanyai hajat mengenai sesuatu. Ku tahu hajatku selama ini untuk urusan
dunia, namun aku selalu berusaha urusan dunia itu ada di jalan-Nya, jalan
kebaikan.
Aku sadar hal itu juga
belum sebanding dengan apa yang telah kuterima selama ini, taksebanding dengan
segala pertolongan yang telah kuterima, taksebanding dengan kebaikan yang
selalu menyertaiku, taksebanding dengan kemudahan yang selalu menemaniku. Allah
takpernah meninggalkanku dan juga takpernah lupa denganku. Tapi betapa
sombongnya aku, ketika aku melupakan-Nya. Terkadang aku merasa takut ketika
menghadapi urusan dunia padahal Allah selalu bersamaku, padahal Allah takpernah
meninggalkanku, mengapa aku harus takut?
Terkadang aku merasa
bingung, bingung dengan urusan dunia. Kutahu kebingungan itu datangnya dariku,
tapi aku selalu terpuruk karenanya. Ketika kebingungan itu datang pasti aku
lupa, lupa untuk mengingat-Nya. Begitu sombongnya diriku. Pada akhirnya memang
kembali kepada-Nya adalah solusi terbaik, aku selalu meminta pertolongan
kepada-Nya untuk menyembuhi penyakit yang telah kutanam sendiri. Ya kutahu, itu
bisa dibilang egois. Siapa yang menabur penyakit, siapa yang mengobati.
Kembali lagi kepada
bentuk rasa syukurku. Aku taktahu bentuk rasa syukurku dengan bernadzar ini
akan diterima atau tidak, namun hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Aku
meyakini niatku ini tulus, niatku ini hanya karena-Nya. Walaupun mengucap rasa
syukur dan bernadzar takdapat mengimbangi kebaikan-Nya. Namun itulah yang
kupelihara saat ini.
(Nhaya_ mencari jalan lain yang taksekadar mengucap syukur)

0 komentar:
Posting Komentar