Dulu aku pernah dekat dengan seseorang,
tanpa kusadari kedekatan itu menaruh harap padanya. Aku dengan polosnya terus
melakukan interaksi dengannya. Mungkin dulu aku pun merasa nyaman ketika
interaksi itu terjadi dengannya. Ketika aku berbagi cerita dan masalah
dengannya, seolah ia datang sebagai penghibur.
Ternyata di balik interaksi yang
terjalin, pria itu merasa aku telah memiliki perasaan suka dengannya. Hingga ia
taksungkan memberi perhatian kepadaku dan sebaliknya aku dengan bodohnya
menanggapi perhatiannya. Lagi-lagi aku takpeka dengan hati yang hendak mengetuk
hatiku. Aku hanya menganggap ia sebatas sahabat yang mengerti dan ada untukku.
Tapi ternyata aku harus membedakan interaksi antara wanita dengan pria. Ya,
terkadang interaksi antara pria dan wanita itu membuahkan kesalahpahaman
sebagaimana yang dulu pernah kualami.
Aku selalu merasa berdosa setiap kali aku
mengingatnya, secara taksadar aku telah menumbuhkan rasa di hatinya. Tapi
sebaliknya aku tak memiliki rasa yang sama terhadapnya. Ketika rasa yang ia
miliki sampai kepadaku, aku tersadar akan kesalahanku. Perpecahan interaksi itu
pun datang, aku takdapat mengelak bila hati ini takmerasakan hal lain (suka)
dengannya. Aku selalu menganggap perhatiannya sebatas perhatian sahabat yang
selalu peduli seperti halnya perhatian sahabat-sahabat perempuanku. Ya,
ternyata aku salah besar L
Semenjak kutahu perasaannya, kuberusaha
tak mengindahkan lagi perhatiannya, ku mulai menjaga jarak dengannya seperti apa
yang kulakukan sebelumnya (sikapku yang selalu menghindar dengan laki-laki yang
hendak mengetuk hatiku). Sikapku ini bukan hendak menyalahkan rasa yang telah
tumbuh di hatinya, tapi untuk menjaga hatinya agar takterluka lebih dalam
karena hatiku. Apakah keputusanku itu keliru?
Sikapku terhadapnya telah terbaca
olehnya, ia pun perlahan mengurangi perhatiannya, perlahan ia mulai acuh
(sungguh bukan ini yang kumau, bukankah ini sama saja dengan memutus
silaturahmi?). Aku hanya takingin membohongi perasaanku, aku hanya takingin menyakitinya.
Aku ingin interaksi di antara kami tetap terjalin baik walau taksebaik dulu (namun
lagi-lagi ini kesalahanku, karena aku yang lebih dulu menjaga jarak dengannya).
Aku ingin ia tetap menjadi pendengar yang baik untukku. Apakah itu keterlaluan?
Apakah aku taktahu diri meminta itu darinya?


0 komentar:
Posting Komentar