CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 22 Februari 2015

Kekhilafanku Soal Hati

Dulu aku pernah dekat dengan seseorang, tanpa kusadari kedekatan itu menaruh harap padanya. Aku dengan polosnya terus melakukan interaksi dengannya. Mungkin dulu aku pun merasa nyaman ketika interaksi itu terjadi dengannya. Ketika aku berbagi cerita dan masalah dengannya, seolah ia datang sebagai penghibur.

Ternyata di balik interaksi yang terjalin, pria itu merasa aku telah memiliki perasaan suka dengannya. Hingga ia taksungkan memberi perhatian kepadaku dan sebaliknya aku dengan bodohnya menanggapi perhatiannya. Lagi-lagi aku takpeka dengan hati yang hendak mengetuk hatiku. Aku hanya menganggap ia sebatas sahabat yang mengerti dan ada untukku. Tapi ternyata aku harus membedakan interaksi antara wanita dengan pria. Ya, terkadang interaksi antara pria dan wanita itu membuahkan kesalahpahaman sebagaimana yang dulu pernah kualami.

Aku selalu merasa berdosa setiap kali aku mengingatnya, secara taksadar aku telah menumbuhkan rasa di hatinya. Tapi sebaliknya aku tak memiliki rasa yang sama terhadapnya. Ketika rasa yang ia miliki sampai kepadaku, aku tersadar akan kesalahanku. Perpecahan interaksi itu pun datang, aku takdapat mengelak bila hati ini takmerasakan hal lain (suka) dengannya. Aku selalu menganggap perhatiannya sebatas perhatian sahabat yang selalu peduli seperti halnya perhatian sahabat-sahabat perempuanku. Ya, ternyata aku salah besar L

Semenjak kutahu perasaannya, kuberusaha tak mengindahkan lagi perhatiannya, ku mulai menjaga jarak dengannya seperti apa yang kulakukan sebelumnya (sikapku yang selalu menghindar dengan laki-laki yang hendak mengetuk hatiku). Sikapku ini bukan hendak menyalahkan rasa yang telah tumbuh di hatinya, tapi untuk menjaga hatinya agar takterluka lebih dalam karena hatiku. Apakah keputusanku itu keliru?

Sikapku terhadapnya telah terbaca olehnya, ia pun perlahan mengurangi perhatiannya, perlahan ia mulai acuh (sungguh bukan ini yang kumau, bukankah ini sama saja dengan memutus silaturahmi?). Aku hanya takingin membohongi perasaanku, aku hanya takingin menyakitinya. Aku ingin interaksi di antara kami tetap terjalin baik walau taksebaik dulu (namun lagi-lagi ini kesalahanku, karena aku yang lebih dulu menjaga jarak dengannya). Aku ingin ia tetap menjadi pendengar yang baik untukku. Apakah itu keterlaluan? Apakah aku taktahu diri meminta itu darinya?

Semenjak kesalahpahaman itu terjadi, aku lebih berhati-hati, aku lebih menjaga interaksiku dengan lawan jenis, aku takmau memupuk rasa seseorang terhadapku lagi bila rasa itu pada akhirnya akan menyakiti salah satu pihak.  Ya, aku takmau lagi bila ketidaksadaranku menjadikanku seorang PHP (pemberi harapan palsu).

0 komentar:

Posting Komentar