Terkadang kenyataan
akan membawa kita kepada ilusi yang mustahil akan menjadi kenyataan, terkadang
harapan yang berwujud menjadi ilusi itu tak selamanya berakhir sempurna, tidak
selamanya berakhir sesuai keinginan kita. Ketika kesadaran mulai muncul dari
rimba yang terkukung jauh di bawah sadar, semua ilusi itu hanya semu, hanya
harapan belaka yang menciptakan kebahagiaan semu, kebahagiaan yang datang dari
maya dan berwujud dalam nyata yakni, perih.
Ilusi-ilusi itu mampu menghadirkan kekuatan hati yang
tangguh namun kekuatan itupun lagi-lagi hanya semu, kekuatan yang hanya
mendatangkan kepedihan tiada tara. Ya ilusiku terhadap cinta telah merenggut
ruang dan waktu yang tergores rapih dalam kisah hidup di balik senyum yang
rapuh.
Ilusi itu mampu memberi nyawa bagi kehidupan mayaku yang
berakhir dengan kepastian semu. Ilusi itu telah mampu menggerogoti hati yang
terlanjur rapuh oleh ilusi-ilusi yang takpasti. Mungkin ilusi itu akan
selamanya hadir dalam hidupku, hadir sebagai pemberi energi sementara, ilusi
itu mampu membangkitkan semangat yang semu, ilusi itu mampu membangun harapan
yang tak tahu di mana rimbanya.
Mungkin semua ilusi itu akan berakhir setelah kugapai
cinta yang hakiki, cinta yang taklagi memberi harapan semu. Hanya berharap yang
terbaik itulah satu kunci yang kupegang, walau ku taktahu sampai kapan penantian
itu akan menemukan labuh pemberhentiannya.
(Nhaya_terinspurasi dari seorang sahabat)

0 komentar:
Posting Komentar