“Awalnya aku takut
untuk bermimpi, mimpi yang tidak akan pernah tercapai, mimpi yang hanya akan
menjadi angan-angan belaka, mimpi yang hanya akan menjadi bias-bias harapan
yang semu. Tapi kini aku menggenggam erat prinsip kehidupan dari pahlawan
kehidupan yang telah menghidupiku selama ini yaitu ayahku, satu prinsip yang
maha tangguh “apabila kita bersungguh-sungguh kelak keinginan itu akan tercapai”
ya, karena prinsip itu aku tak kenal lelah dan tak putus asa untuk meraih mimpiku.”
Perjuangan
ini merupakan perjuangannya di penghujung jalan, di penghujung semangatnya yang
hampir sirna, sirna oleh keberadaan yang tak pernah bisa mendukung dan memberi
harapan. Namun kenyataan telah berkata lain, ia memiliki peluang dan kesempatan
yang teramat besar, ia bisa mendapat kesempatan untuk meraih mimpinya...
Mimpi itu telah menjadi nyata,
mimpi itu berangsur berubah menjadi sebuah kepastian yang tanpa ilusi dalam
dirinya. Akhirnya mimpi itu terwujud, mimpi itu mengalun indah pada sebuah
kepastian, mengalun bersama harapan yang besar, harapan untuk dapat selalu
menjadi yang terbaik. Ya targetnya tercapai, kini saatnya ia menulis kembali
target-target untuk masa depannya. Ia taktakut lagi untuk bermimpi, ia taktakut
lagi untuk berjuang mencapai mimpi itu walaupun perjuangan itu telah sampai di penghujung
jalan sekali pun. Karena ia sadar di balik kesulitan pasti ada jalan keluar dan
selama mimpi dia baik, ia yakin akan mencapai mimpi itu dan ia akan menemukan
jalan atas semua mimpi-mimpinya.
Bersama
mimpi itu, aku bangkit. Bangkit bersama mimpiku, mimpi yang taksekedar
halusinasi belaka, namun mimpi yang mampu melahirkan jati diri, mampu
melahirkan energi. Bermimpi saja takcukup bila takada perjuangan.
Mimpi
ini bukan sekedar mimpi.
Mimpi
ini bukan bunga tidur yang menghiasi
bawah sadar ketika malam.
Namun,
mimpi ini adalah mimpi dengan kesadaran mimpi yang berbuah harapan dan
perjuangan.
(Ringkasan cerita “Mimpi di Penghujung Jalan” karya
Nhaya)

0 komentar:
Posting Komentar