“Aku hari ini, aku yang
masih dengan keburukanku, aku yang belum mengenal kebenaran sesungguhnya.
Aku... aku terbias dalam sendu rindu menatap kedamaian dihadapanku.”
Hilya yakin dengan penampilannya kini, akan
membawanya pada titik kebahagiaan di hari ini. Namun semua itu ternyata keliru.
Hilya dengan kedua
sahabatnya di SMA, kini berencana untuk bertemu melepas kerinduan yang telah
lama mereka pendam. Dan Hilya pun kini berharap pertemuannya akan mengobati
rindunya yang kian membatu dalam jiwa.
Terenyuh... ya itulah
yang Hilya rasakan saat pertama ia bertemu dengan Dena, bukan karena ia terlalu
senang bertemu dengan sahabatnya itu, dan bukan pula karena ia merasa canggung
saat bertemu dengan sahabatnya tersebut, namun semua ini karena ia begitu malu
dengan dirinya sendiri begitu juga dia malu dengan sahabatnya, semua itu karena
penampilannya yang begitu jauh berbeda dengan sahabatnya tersebut. Ya kini ia
rasanya menjadi anak yang begitu jauh berbeda diantara kumpulan orang-orang
baik, ia merasa tak pantas lagi berkumpul dengan sahabat-sahabatnya ketika di
SMA. Padahal mereka menerima Hilya apa adanya, takpernah memandang buruk
penampilannya saat ini. Tapi, Hilya teramat malu dengan penampilannya kini.
Semangat lama yang ia
bangun bersama sahabat-sahabanya tersebut, kini terasa luntur, entah karena
apa, entah apa yang kini ia kejar, ia sendiri tak mengetahuinya. Berada di
antara orang-orang soleh membuat ia merasa nyaman namun ia merasa begitu sangat terasing bagai hanya ialah yang taktahu
arah hidup sebenarnya. Kini ia masih terpenjara dengan pikirannya sendiri, ia
terjebak dengan keputusannya sendiri.
Baru kali ini ia merasa
paling buruk diantara yang lain karena sudah dua kali ia disapa dengan sapaan
yang begitu tidak mengenakkan, mungkin karena busananya saat ini, walaupun ia
memakai kerudung tapi ia masih
memperlihatkan aurat yang seharusnya ia tutupi, dan ia masih memperlihatkan
lekuk tubuh yang seharusnya ia tutupi.
Malu, mungkin itulah
yang membuatnya begitu muram hari ini, ia merasa senang namun rasa malunya
tidak jauh berbeda dengan kebahagiaannya. Merasa terasing dengan keadaannya
saat ini, ia merasa sungguh merasa terjebak dengan keadaan saat ini semua itu
karena busananya.
Hilya senang dengan
perlakuan sahabat-sahabatnya yang tidak berubah, tapi Hilya tidak dapat
membohongi dirinya sendiri bahwa saat ini ia sedang merasakan konflik batin
yang teramat memukulnya, kini ia menemukan titik yang begitu pasti ia yakini
kebenarannya tapi di sisi lain ia pun takut tidak mendapatkan tempat dan tidak
begitu diterima oleh lingkungan barunya.
Ternyata yang ia yakini
selama ini, yang ia yakini dapat membuat ia bahagia dan nyaman. Ternyata semua
itu keliru semua itu jauh dibandingkan dengan kenyamana yang dulu ia dapatkan. Kini
ia mempunyai sahabat-sahabat yang sangat menghargai keberadaannya dan sayang
kepadanya sama seperti saat ia sekolah dulu. Tapi ternyata itu semua tidak cukup.
Dena masih dengan
sifatnya dulu yang periang namun kini ia sedikit berbeda ia lebih baik, baik
dari cara berpakaiannya maupun dari cara berpikirnya, kini ia lebih mengenal
islam dengan begitu dalam, sama halnya dengan Rulz yang masih dengan sifat pendiamnya
yang baik dan mendalami islam dengan begitu semangat, sungguh berbeda dengan
Hilya saat ini.
Canggung, mungkin
itulah yang ia rasakan saat ini. ia malu, sungguh malu dengan dirinya sendiri.
24-01-2012
Rindu yang tak sempat
terucap
Kini mengalun sendu
menutupi kecanggunganku
Rindu yang tak sempat
terucap
Kini perlahan mengendap
jauh dalam relung jiwa
Rindu yang tak sempat
terucap
Mungkin terlihat begitu
meragukan
Rindu ini mungkin tak
terlihat
Rindu ini mungkin tak
sampai
Bagai teriris...
Mengalunkan rindu yang
taksempat terucap
Untuk sahabatku...
Aku tak pandai
merangkai kata
yang dapat meyakinkanmu
mengenai rinduku..
aku yang tak pandai
menyampaikan isi hati
menyimpan begitu rindu
yang teramat dalam
aku merindumu sahabat
aku rindu kedamaian
yang kau berikan
Tak dapat kulukiskan
kerinduanku yang teramat mendalam
Hanya dalam bisu kuungkapkan
semua itu
Hanya dengan
kecanggunganku
Hanya dengan senyum
getir semua itu kuungkapkan dengan segala perihku...
Hanya dengan wajah
tertunduk malu, entah sampai kapan dapat tersampaikan...
Aku merindukan
kalian...
Aku merindunya...
Rindu yang entah sampai
kapan dapat terobati,
Rindu, aku rindu
saat-saat menangis bersama
Aku rindu dengan
pelukan yang dapat menenagkan hatiku


0 komentar:
Posting Komentar