Awalnya
aku memutuskan untuk berbagi kisah denganmu, namun nyatanya saat itu kau
takmenanggapi kisahku dengan antusias. Ya, mungkin kisahku takmenarik bagimu. Itu
adalah kali pertama aku berniat untuk membagi kisahku dan untuk yang terakhir
aku membagi kisah penting dalam hidupku. Bahkan kisah waktu itu belum sempat
aku tuturkan hingga akhir karena sudah terlanjur kecewa aku dengan tanggapanmu,
begitu juga kau yang waktu itu terlalu semangat untuk membagi kisahmu kepadaku.
Nampaknya kisahmu lebih seru hingga kau ingin buru-buru menuturkan kisahmu dan
menutup kisahku.
Ada
perasaan kecewa terbesit dalam hatiku, karena saat itu aku sedang begitu
merasakan perlunya teman untuk berbagi kisah, saat itu aku sedang merasa
terpuruk dan takdapat lagi menyimpan sendiri kisahku. Mungkin itu bukan waktu
yang tepat untuk membagi kisahku, karena itu adalah hari penting untukmu. Mulai
saat itu aku putuskan takakan lagi membagi kisah penting hidupku kepadamu
karena kutakmau mendapati hal yang serupa. Bahkan kini aku pun lupa saat itu
hendak membagi kisah apa, karena saat itu aku telah memutuskan dan berharap
melupakan kisah itu dan ternyata harapan itu terjadi, aku lupa hendak membagi
kisah apa. Tapi aku yakini kisahku saat itu amatlah penting. Biarlah aku
menjadi pendengarmu yang baik dan menyimpan kisahku sendiri, maaf bila aku tak
dapat membagi kisahku lagi.


0 komentar:
Posting Komentar