CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 28 April 2013

Kisah Memilukan di Malam 24 April 2013


Sepertinya menjauh di saat dikuasai amarah dan emosi itu adalah yang terbaik, meredam emosi dalam kesendirian semoga selalu menjadi jalan terbaik. Emosi memang kerap kali menutup pintu batinku, membiarkan amarah tetap menyala. Sepertinya menjauh adalah keputusan yang terbaik kala itu. menjauhku bukan takberalasan, karena menjauhku ini untuk memadamkan amarah yang kian memuncak. 
Di kala hati merasakan ketidakadilan yang terjadi, semoga rasa itu salah. Bukankah suatu kebaikan yang telah dilakukan tidak akan membuahkan kesia-siaan walaupun saat ini balasan yang didapat takseimbang?
Biarkanlah hati ini merasakan sakit, bukankah hidup takselamanya akan berjalan bahagia? Bukankah adakalanya kita merasakan kecewa? Bukankan rasa kecewa itu adalah bentuk ujian untukmu agar lebih bersabar?
Bila engkau merasakan kecewa oleh manusia bukankah itu adalah hal yang wajar, yang tak semestinya kau tangisi? Karena engkau telah membiarkan dirimu berharap kebaikan dari manusia, “berharap kepada manusia memang rentan kecewa, maka selalu berharaplah kepada Allah yang pasti takakan mengecewakanmu”.
Jenuh mungkin itu yang kurasakan saat itu, jenuh menghadapi perlakuan yang sebelumnya pernah terjadi. Aku bukan manusia yang selalu bisa meredam amarah. Aku hanya manusia biasa yang sering merasakan sakit hati bila mendapat perlakuan yang tidak baik. Aku bukan manusia yang selalu tegar bila menghadapi kesulitan. Aku hanya manusia lemah, aku hanya manusia yang rentan merasakan sakit hati, aku manusia yang memiliki batas kesabaran. Aku manusia yang berusaha mengerti, namun pengertianku pun memiliki batas dan pengertianku pun kadang kala meminta balasan untuk dimengerti.
Bila rasa sabar itu menjauh untuk menghadapi “seseorang yang mendekat karena berduka dan menjauh di kala bahagia” bukankah itu adalah hal yang wajar? Aku memiliki rasa yang rentan rapuh hanya karena masalah sepele, maka wajarkah aku bila merasakan kecewa karena hal itu?
Sakit hati mungkin yang kurasakan saat itu. Sepertinya saat itu batinku telah tertutup amarah hingga sabar takmampu lagi meredamnya.
Kupastikan amarahku saat itu hanya sekejap, kupastika setelah aku mengungkapkan kekecewaanku amarahku akan padam, kupastikan aku bukan orang yang pendendam. Kupastikan rasa kecewa itu akan kuhapus, namun maaf bila aku takdapat melupakan kejadian itu, karena aku pengingat, mengingat kejedian untuk menghindari kekecewaan yang sama.

0 komentar:

Posting Komentar