Sepertinya menjauh di saat
dikuasai amarah dan emosi itu adalah yang terbaik, meredam emosi dalam
kesendirian semoga selalu menjadi jalan terbaik. Emosi memang kerap kali
menutup pintu batinku, membiarkan amarah tetap menyala. Sepertinya menjauh
adalah keputusan yang terbaik kala itu. menjauhku bukan takberalasan, karena
menjauhku ini untuk memadamkan amarah yang kian memuncak.
Di kala hati merasakan
ketidakadilan yang terjadi, semoga rasa itu salah. Bukankah suatu kebaikan yang
telah dilakukan tidak akan membuahkan kesia-siaan walaupun saat ini balasan
yang didapat takseimbang?
Biarkanlah hati ini merasakan
sakit, bukankah hidup takselamanya akan berjalan bahagia? Bukankah adakalanya
kita merasakan kecewa? Bukankan rasa kecewa itu adalah bentuk ujian untukmu
agar lebih bersabar?
Bila engkau merasakan kecewa
oleh manusia bukankah itu adalah hal yang wajar, yang tak semestinya kau
tangisi? Karena engkau telah membiarkan dirimu berharap kebaikan dari manusia,
“berharap kepada manusia memang rentan kecewa, maka selalu berharaplah kepada
Allah yang pasti takakan mengecewakanmu”.
Jenuh mungkin itu yang
kurasakan saat itu, jenuh menghadapi perlakuan yang sebelumnya pernah terjadi.
Aku bukan manusia yang selalu bisa meredam amarah. Aku hanya manusia biasa yang
sering merasakan sakit hati bila mendapat perlakuan yang tidak baik. Aku bukan
manusia yang selalu tegar bila menghadapi kesulitan. Aku hanya manusia lemah,
aku hanya manusia yang rentan merasakan sakit hati, aku manusia yang memiliki
batas kesabaran. Aku manusia yang berusaha mengerti, namun pengertianku pun
memiliki batas dan pengertianku pun kadang kala meminta balasan untuk
dimengerti.
Bila rasa sabar itu menjauh
untuk menghadapi “seseorang yang mendekat karena berduka dan menjauh di kala
bahagia” bukankah itu adalah hal yang wajar? Aku memiliki rasa yang rentan
rapuh hanya karena masalah sepele, maka wajarkah aku bila merasakan kecewa
karena hal itu?
Sakit hati mungkin yang
kurasakan saat itu. Sepertinya saat itu batinku telah tertutup amarah hingga
sabar takmampu lagi meredamnya.
Kupastikan amarahku saat itu
hanya sekejap, kupastika setelah aku mengungkapkan kekecewaanku amarahku akan
padam, kupastikan aku bukan orang yang pendendam. Kupastikan rasa kecewa itu
akan kuhapus, namun maaf bila aku takdapat melupakan kejadian itu, karena aku
pengingat, mengingat kejedian untuk menghindari kekecewaan yang sama.


0 komentar:
Posting Komentar