CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 14 April 2013

Karena Aku Peduli


Kita sudah sama-sama dewasa. Sudah semestinya kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Maaf bila ku tak lagi mengingatkanmu, karena telah banyak kecewa ketika “peringatan itu keluar hanya sebatas wacana”. Takada realisasi yang nyata terkadang membuatku kecewa dan sakit hati. Buat apa peringatan itu keluar dari mulutku lagi, bila kau hanya menganggap peringatan itu hanya bualan kosong.
Ya, aku takmerasakannya, aku taktahu persis apa yang terjadi, aku tak berhak mencampuri urusanmu karena engkau yang mengalaminya. Aku hanya pemerhati yang taktahu persis jalan mana yang benar. Aku hanya teman yang peduli, teman yang takut bila kau tersakiti lagi oleh ulahnya, teman yang takingin melihat ada tetesan air mata yang keluar hanya untuk menangisi hal yang serupa seperti sebelumnya.
Aku tak punya hak sedikit pun untuk mencampuri kehidupanmu apalagi mengatur masalah perasaanmu. Aku hanya peduli. Aku hanya tak ingin melihatmu menangis karenanya.
Ku sadari kini bahasamu terbatas mengenai dia, padahal diam-diam aku membaca dari gerak-gerikmu masih ada rasa yang takberkurang sedikit pun, mungkin suatu waktu kau merasa perasaan itu sedikit menghilang dan mulai biasa saja, tapi percayalah hati takbisa berbohong, gerak-gerikmu pun tak dapat berbohong. Di balik pengakuanmu, aku menangkap rasa yang begitu besar, rasa yang takmungkin hilang begitu saja, rasa yang sudah begitu memenuhi hatimu.  
Mungkin dulu sudah terlalu jauh akau mencampuri urusan hatimu, melarang seenaknya untuk menghentikan rasa yang kau tanam. Memang itu kebodohanku, seharusnya aku takmelakukan hal itu.
Aku mengingatkanmu, karena aku peduli.
Aku memperhatikanmu, karena aku peduli.

0 komentar:

Posting Komentar