Kita sudah sama-sama
dewasa. Sudah semestinya kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Maaf bila
ku tak lagi mengingatkanmu, karena telah banyak kecewa ketika “peringatan itu
keluar hanya sebatas wacana”. Takada realisasi yang nyata terkadang membuatku
kecewa dan sakit hati. Buat apa peringatan itu keluar dari mulutku lagi, bila
kau hanya menganggap peringatan itu hanya bualan kosong.
Ya, aku takmerasakannya,
aku taktahu persis apa yang terjadi, aku tak berhak mencampuri urusanmu karena
engkau yang mengalaminya. Aku hanya pemerhati yang taktahu persis jalan mana
yang benar. Aku hanya teman yang peduli, teman yang takut bila kau tersakiti
lagi oleh ulahnya, teman yang takingin melihat ada tetesan air mata yang keluar
hanya untuk menangisi hal yang serupa seperti sebelumnya.
Aku tak punya hak
sedikit pun untuk mencampuri kehidupanmu apalagi mengatur masalah perasaanmu. Aku
hanya peduli. Aku hanya tak ingin melihatmu menangis karenanya.
Ku sadari kini bahasamu
terbatas mengenai dia, padahal diam-diam aku membaca dari gerak-gerikmu masih
ada rasa yang takberkurang sedikit pun, mungkin suatu waktu kau merasa perasaan
itu sedikit menghilang dan mulai biasa saja, tapi percayalah hati takbisa
berbohong, gerak-gerikmu pun tak dapat berbohong. Di balik pengakuanmu, aku
menangkap rasa yang begitu besar, rasa yang takmungkin hilang begitu saja, rasa
yang sudah begitu memenuhi hatimu.
Mungkin dulu sudah
terlalu jauh akau mencampuri urusan hatimu, melarang seenaknya untuk
menghentikan rasa yang kau tanam. Memang itu kebodohanku, seharusnya aku
takmelakukan hal itu.
Aku mengingatkanmu,
karena aku peduli.
Aku memperhatikanmu,
karena aku peduli.

0 komentar:
Posting Komentar