Suatu
ketika aku akan melakukan keburukan, ketika aku hendak lalai dalam menjalankan
kewajibanku. Ini adalah kejadian nyata di saat aku mendengar adzan Dzuhur,
lantas bukannya aku segera berwudhu dan solat, namun ketika itu aku lebih
memilih untuk terlelap dalam tidur.
Ketika lelap
yang kupilih, hati dan pikiran mulai berdialog. Hatiku berkata bukankah satu detik,
satu menit, satu jam, satu tahun, dst akan segera kau alami? Bukankah masa
pertanggungjawaban pun akan kau alami? Bukankah ketika masa pertanggungjawaban
itu datang kau dalam keadaan sendiri? Waktu itu pasti. Pasti kau alami. Cepat atau
lambatmasa itu akan kau hadapi. Sampai kapan kau mengejar dunia? Sampai kapan
hanya kebahagiaan dunia yang kau cari? Kau bahagia tapi di sisi lain kau
melupakan kewajibanmu, bukankah itu hal yang sia-sia? Bukankah itu berarti
tertawa bahagia di atas pertanggungjawaban yang akan dihadapi? Bukankah hidup
di dunia ini hanya masa persinggahan sebelum menghadapi kehidupan abadi? Mungkin
sekarang kau bisa tertawa bersama, bahagia bersama, namun harus selalu kau
ingat “kelalaianmu akan kau pertanggungjawabkan sendiri”. Tidakkah kau takut? Masihkah
kau hendak melakukan kelalaian yang sama? hidupmu di dunia bukan untuk
selamanya, kehidupanmu yang kedua kelak itu adalah kehidupanmu yang sebenarnya.
Pikiranku
tak dapat lagi mengelak, ketika itu pun aku menggigil ketakutan. Aku takut
hatiku tertutup oleh keburukan hingga takdapat lagi memberi arah. Aku takut
kelalaian akan mendominasi hidupku. Aku takut ketika membuat kelalaian, aku
akan merasakan itu hal yang biasa. Aku takut melakukan kelalaian hingga
menumpuk.
Ketika pikiranku
menyerah, aku pun segera melaksanakan kewajibanku. Dan aku pun tak memilih
lelap di siang itu. terima kasih hatiku yang telah memberikan pemahaman untuk
hidup lebih baik dan tak membiarkan kelalaian terus memanjakanku.

0 komentar:
Posting Komentar