Ada semburat harap dalam angan
Ada semburat luka dalam senyum
Ada semburat kasih dalam kagum
Ada semburat luka dalam harap
Senang, ada satu rasa yang kini berkunjung dan
mengetuk hatiku. Saat mendapati engkau
yang duduk dibelakangku. Senang, karena aku dapat bertemu lagi denganmu setelah
sekian lama. (Seperti biasa) aku memandangmu secara diam-diam, (seperti biasa)
aku memperhatikanmu secara diam-diam.
Senja, kalau boleh aku mengaku. Aku senang bisa
melihatnya kembali. Walau ku tak tahu hati ini milik siapa nantinya.
Biarkanlah aku menjadi pengagum rahasianya.
Tak seberapa penting rasa kagumku sampai
kepadanya, yang lebih penting aku, Tuhanku, dan hatiku tahu rasa ini benar
adanya. Biarkanlah aku menyimpan rasa kagum ini dalam diam, karna dalam hal ini
diam selalu menjadi teman terbaikku, karna “dalam diam aku mengagumimu karena
Allah”.
Rasa kagumku tulus, setulus aku memperhatikanmu.
Biarkanlah rasa ini kusimpan sendiri, karna melihat senyummu sudah cukup
bagiku.
Sakit hati ketika memendam rasa itu adalah hal
yang takdapat kupungkiri. Namun percayalah “rasa ini benar adanya”.
Aku taktahu pada siapa takdirku akan jatuh, aku
pun taktahu nantinya hati ini milik siapa. Tapi yang kutahu rasa ini nyata.
Yang kutahu aku tulus mengagumimu.
Aneh memang, kita takpernah bersua. Tapi rasa
kagum itu tumbuh tanpa diminta. Aku merasa beruntung bisa mengenalmu, walau
kecil kemungkinan kau mengenalku. Tak apa. Itu tidak penting. Yang terpenting
suatu saat aku dapat melihat senyummu (diam-diam) lagi.
Mungkin daun tak melihat angin begitu lembut
menyapanya. Begitu juga rasaku, ia takterlihat namun kupastikan dia menyapa
lembut hati ini.




0 komentar:
Posting Komentar