Sepertinya langit sore ini sudah lama
menungguku. Hai langit sore, kali ini kau tampak merah merona. Hai gumpalan awan
lembut, aku iri denganmu yang selalu setia kepada langit. Hai angin yang
takterlihat, kau tetap saja mempermainkan daun-daun depan kamarku, aku bangga
kepadamu meski kau takterlihat kau selalu menyapa lembut daun-daun. Hai burung,
sudah berapa kali kau lewat depan kamarku? Hai juga kambing, ayam, dan angsa
yang selalu setia memberi kedamaian lewat suaramu (walaupun terkadang aku
merasa terganggu karena paduan suara kalian).
Kuperhatikan nampaknya langit sore ini
begitu ceria, adakah cerita menarik di sore ini? Adakah pesan alam yang hendak
kau sampaikan kepadaku sore ini? Apa yang kau lihat sepanjang hari ini? Sepertinya
kau akan menutup harimu dengan begitu ceria tanpa menghadirkan mendung. Mmm...
awan taukah kau apa yang terjadi kepada langit sore ini? Angin bisakah kau
membisikan pesan langit kepadaku? Burung tidakkah kau juga melihat langit sore
ini begitu ceria?
Setelah aku perhatikan, nampaknya aku
tahu jawabannya. Langit sore begitu senang karena matahari sepanjang hari ini
memberikan cahayanya, sore ini awan mendung sepertinya takkan datang sehingga
langit pun begitu senang bermandikan cahaya matahari.
Awan, sepertinya kau takmau kalah
dengan langit, warna putihmu pun takkalah bersinarnya dengan langit, kau menghadirkan
lukisan indah di sore ini. Gumpalan lembutmu menyempurnakan kebahagiaan langit
sore ini. Aku ingin menggapaimu, sepertinya kelembutanmu takhanya terlihat. Sepertinya
bila tangan ini mampu menggapaimu, kau akan menyapa lembut tanganku.
Hei angin baru saja kulihat, mengapa
kau tadi begitu kasar menggerakkan daun-daun depan kamarku? Kulihat batang
pohon begitu berusaha mempertahankan daun-daunnya hingga tak terlepas dari
tangkainya. Angin, aku hanya dapat melihat kehadiranmu lewat gerak daun dan
merasakan kedatanganmu lewat semilirmu. Angin, aku iri kepadamu yang takterlihat
namun kehadiranmu dapat tetap terasa. Aku juga iri kepadamu daun, kau selalu
disapa oleh angin, kau selalu sabar menghadapi angin yang selalu
mempermainkanmu, kau takkan marah bila angin menjatuhkanmu, Kau setia kepada
angin yang menggerakkanmu, kau mengikuti gerak angin kemana pun ia
menggerakkanmu.
Burung maukah kau meminjamkan sayapmu setiap
aku bersedih? Agar aku bisa terbang bebas mencari tempat bersembunyi untuk menyembunyikan
kesedihanku. Aku iri kepadamu yang tak kenal lelah mengepakkan sayap, kau
begitu kuat menghadapi angin. Sepertinya kau takpeduli berapa besar angin yang
akan menyapamu, kau terus saja terbang tinggi. Oya, aku rindu mendengar suaramu
yang berlomba dengan suara angin :)


0 komentar:
Posting Komentar