CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 04 Mei 2013

Dialog Senja


Sepertinya langit sore ini sudah lama menungguku. Hai langit sore, kali ini kau tampak merah merona. Hai gumpalan awan lembut, aku iri denganmu yang selalu setia kepada langit. Hai angin yang takterlihat, kau tetap saja mempermainkan daun-daun depan kamarku, aku bangga kepadamu meski kau takterlihat kau selalu menyapa lembut daun-daun. Hai burung, sudah berapa kali kau lewat depan kamarku? Hai juga kambing, ayam, dan angsa yang selalu setia memberi kedamaian lewat suaramu (walaupun terkadang aku merasa terganggu karena paduan suara kalian).
Kuperhatikan nampaknya langit sore ini begitu ceria, adakah cerita menarik di sore ini? Adakah pesan alam yang hendak kau sampaikan kepadaku sore ini? Apa yang kau lihat sepanjang hari ini? Sepertinya kau akan menutup harimu dengan begitu ceria tanpa menghadirkan mendung. Mmm... awan taukah kau apa yang terjadi kepada langit sore ini? Angin bisakah kau membisikan pesan langit kepadaku? Burung tidakkah kau juga melihat langit sore ini begitu ceria?
Setelah aku perhatikan, nampaknya aku tahu jawabannya. Langit sore begitu senang karena matahari sepanjang hari ini memberikan cahayanya, sore ini awan mendung sepertinya takkan datang sehingga langit pun begitu senang bermandikan cahaya matahari.
Awan, sepertinya kau takmau kalah dengan langit, warna putihmu pun takkalah bersinarnya dengan langit, kau menghadirkan lukisan indah di sore ini. Gumpalan lembutmu menyempurnakan kebahagiaan langit sore ini. Aku ingin menggapaimu, sepertinya kelembutanmu takhanya terlihat. Sepertinya bila tangan ini mampu menggapaimu, kau akan menyapa lembut tanganku.
Hei angin baru saja kulihat, mengapa kau tadi begitu kasar menggerakkan daun-daun depan kamarku? Kulihat batang pohon begitu berusaha mempertahankan daun-daunnya hingga tak terlepas dari tangkainya. Angin, aku hanya dapat melihat kehadiranmu lewat gerak daun dan merasakan kedatanganmu lewat semilirmu. Angin, aku iri kepadamu yang takterlihat namun kehadiranmu dapat tetap terasa. Aku juga iri kepadamu daun, kau selalu disapa oleh angin, kau selalu sabar menghadapi angin yang selalu mempermainkanmu, kau takkan marah bila angin menjatuhkanmu, Kau setia kepada angin yang menggerakkanmu, kau mengikuti gerak angin kemana pun ia menggerakkanmu.  
Burung maukah kau meminjamkan sayapmu setiap aku bersedih? Agar aku bisa terbang bebas mencari tempat bersembunyi untuk menyembunyikan kesedihanku. Aku iri kepadamu yang tak kenal lelah mengepakkan sayap, kau begitu kuat menghadapi angin. Sepertinya kau takpeduli berapa besar angin yang akan menyapamu, kau terus saja terbang tinggi. Oya, aku rindu mendengar suaramu yang berlomba dengan suara angin :)

0 komentar:

Posting Komentar