Pada mulanya sang hati selalu
mentoleransi setiap kata yang sampai ke telinga. Kata yang mengandung suka dan
duka terlahap dengan mudah oleh sang hati. Namun, apa daya kini sang hati
nampaknya sudah terlalu lelah menghadapi setiap kata yang mengandung cela, pada
setiap kata yang mengandung duka, pada setiap kata yang mengandung nista.
Hingga sang hati menerka-nerka maksud apa yang hendak disampaikan kata dari
sekitar.
Lelah, bila semua proses,
tingkah laku, keputusan, dan aktivitas dinilai selalu salah oleh sekitar.
Seolah inilah kejelekan yang perlu diperbincangkan dari telinga satu ke telinga
yang lain. Bila semua diperbincangkan di belakang, dapatkah hal itu dinamakan
kritik membangun?
Solusi terbaik menurut sang
hati adalah menjauh dan membuktikan potensi diri dapat meraih mimpi yang
taksekadar halusinasi. Ya, sang hati harus tegar untuk dapat membuktikan dan
meluluh-lantahkan setiap kata yang terlontar dari mulut sekitar.

0 komentar:
Posting Komentar