Insya Allah 'bila Allah menghendaki' bukankah itu berarti ada suatu harapan dan ketergantungan kita terhadap Allah yang Maha Menghendaki? Tapi kebanyakan kata Insya Allah itu digunakan untuk menolak secara halus atau alasan untuk tidak menepati janji.
Alangkah baiknya kata Insya Allah itu kita ucapkan secara sadar bahwa kita sedang berharap dan bergantung kepada Allah, bukan sedang menolak.
Alangkah baiknya kata Insya Allah itu kita ucapkan secara sadar bahwa kita sedang berharap dan bergantung kepada Allah, bukan sedang menolak.
Bila kata Insya Allah itu kita ucapkan untuk menyatakan ketidaksanggupan, bukankah itu sama saja kita sudah sok tahu? Padahal kata tersebut menyatakan sebuah pengharapan kita untuk dapat memenuhi sebuah rencana.
Jadikanlah Insya Allah sebagai akhlak kita (seorang hamba) kepada Allah. Dengan segala upaya kita berusaha dapat memenuhi sebuah janji bukan berniat menolak, dan kita menyadari kelemahan diri serta meminta bantuan dari Allah.
Bila sudah jelas perkaranya kita tidak bisa memenuhi sebuah rencana, alangkah baiknya kita jangan mengucapkan Insya Allah sebagai alasan menolak. Ucapkanlah kata Insya Allah itu untuk menggambarkan sebuah kesanggupan. Tentunya dengan kesadaran penuh bila kita tidak memiliki kekuasaan untuk memastikan segala sesuatu karena Hanya Allah yang dapat memastikan segala perkara.
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali dengan menyebut 'Insya Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kau lupa, dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini."
(QS. Al-Kahfi: 23-24)
(QS. Al-Kahfi: 23-24)
Insya Allah adalah akhlak seorang hamba kepada Allah. Insya Allah adalah bukti kelemahan diri dan ketergantungan kita kepada Allah.



0 komentar:
Posting Komentar