CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 15 Maret 2015

Mengetuk Pintu Langit


Kepekatan Malam kian mendekap lelap
Kehangatan malam semakin pekat terasa
Kesunyian malam menambah sendu, membuka tabir diri yang berlumur dosa
Kesunyian malam menggenggam hati yang tergores luka, luka yang terpahat karena kedengkian
Kesunyian malam merobohkan benteng kesombongan yang telah lupa hakikat diri milik siapa
Kesunyian malam menggenggam pikir, membersihakan segala pesimis berganti optimis

Kugerakkan tangan mengucap takbir, segala kesombongan luluh lantah, segala kecemasan perlahan sirna, segala kegundahan perlahan berganti, ketenangan menyeruak masuk merobohkan pertahanan ria.
Lantunan ayat demi ayat semakin menyayat hati, menggertak diri yang kian lupa pada Illahi.
Tubuhku gontai karna isak taktertahan, gerakan demi gerakan perlahan membangun kesadaran "milik siapa diri ini"
Sujudku tertegun malu pada Illahi, derai air mata menyesali diri yang kerap berbuat khilaf. Sombong, iri, dengki, perlahan berputar dalam ingatan, memperlihatkan polah yang taktahu diri.

Teringat akan keluh kesah yang sering terlontar dalam ucap, lupa diri atas anugerah yang telah dinikmati.  Takada syukur terucap, tapi keluh yang sering terucap.
Sesal diri tiada guna, yang lalu takkan pernah kembali.
Sesal diri tiada guna, yang telah terlontar dari ucap takkan bisa ditarik kembali.
Sesal diri tiada guna, tindak keji takkan bisa diganti.
Sujudku semakin dalam, memohon ampun pada Illahi atas kekhilafan yang terjadi.
Irhamna ya Allah ya rahman ya rahim, dekap aku dalam kasih-Mu..

0 komentar:

Posting Komentar